OJK Sebut Industri Bank Digital Positif, SeaBank Raih Laba Terbesar

OJK Sebut Industri Bank Digital Positif, SeaBank Raih Laba Terbesar
Ilustrasi bank digital [FOTO: NET].

JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bahwa pergerakan industri bank digital di Indonesia terus menunjukkan tren ke arah yang positif, hal ini dibuktikan oleh kemampuan dari beberapa bank digital yang sukses mencatatkan perolehan laba. 

Meski begitu, pihak OJK turut mengingatkan jika model bisnis sektor bank digital pada dasarnya masih ada pada fase pengembangan, sehingga pertumbuhan di industri ini wajib dikawal dengan baik agar dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan pandangannya bahwa kemajuan perkembangan industri bank digital di tanah air sangat patut untuk diberikan apresiasi. Berdasarkan penjelasannya, tahapan berikutnya yang perlu dihadapi oleh industri ini adalah menjamin agar model bisnis digital sanggup tumbuh berkesinambungan, bersifat inklusif, serta dibekali oleh daya tahan pertahanan yang kokoh.

“Ukuran keberhasilan tentu tidak cukup hanya dilihat dari pertumbuhan jumlah pengguna atau laba dalam jangka pendek. Yang lebih penting adalah kualitas pertumbuhan,” ujarnya dalam acara Bisnis Indonesia Group (BIG) Financial Insight 2026 bertema 'Digital Banking at Five: Shaping an Inclusive Financial Ecosystem', Rabu (9/9/2026).

Menurut penuturan Dian, mutu dari kualitas pertumbuhan sebuah bank digital tecermin melalui beragam lini. Hal tersebut mencakup ketersediaan struktur pendanaan yang sehat, tingkat kualitas aset yang senantiasa terjaga, peningkatkan efisiensi kerja, fondasi permodalan yang solid, serta kapabilitas dalam menghasilkan profitabilitas yang konsisten dalam jangka panjang.

Dian pun menegaskan bahwa dinamika perkembangan bank digital di Indonesia ada baiknya ditinjau dalam skala konteks industri tingkat global. Ia menarik perbandingan dengan sejumlah negara lain yang telah lebih dulu menggarap dan membesarkan bank digital, di mana mayoritas entitas tersebut masih memerlukan alokasi waktu yang lumayan lama untuk sampai pada titik cetak profit.

Di wilayah Singapura, lanjut Dian, pengoperasian bank digital tercatat sudah berjalan hampir 5 tahun. Walau demikian, memasuki periode tahun 2025 lalu baru ada satu dari total lima bank digital yang berhasil mengemas profit. Di sisi lain, pada kawasan Arab dan Hong Kong, cuma ada tiga dari delapan bank digital yang mampu menggapai titik impas (break-even point) meski durasi operasionalnya sudah melewati kurun waktu lima tahun.

“Contoh tersebut tentunya bukan untuk menjustifikasi kinerja bank digital di Indonesia, melainkan memberikan gambaran kepada kami bahwa semua model bisnis bank digital ini masih dalam tahap perkembangan,” katanya.

SeaBank Tumbuh Konsisten

Lantas, deretan bank digital mana sajakah yang sudah berhasil membukukan laba? Penelusuran data Dataindonesia menunjukkan bahwa PT Seabank Indonesia (SeaBank) terbukti menjadi salah satu pelaku industri yang menunjukkan pertumbuhan konsisten sepanjang 5 tahun belakangan. Bank digital yang berada di bawah naungan afiliasi Sea Group (Shopee) ini sudah konsisten mencetak laba bersih sejak rentang tahun 2022.

Sejak masa tersebut, SeaBank secara stabil memupuk raihan laba hingga sanggup menyentuh angka Rp678,43 miliar pada rentang tahun 2025 lalu. Angka perolehan laba SeaBank tersebut tercatat sebagai yang paling tinggi bila dibandingkan dengan jajaran bank digital pesaingnya seperti Bank Jago, Superbank, Neo Commerce, serta pemain lainnya.

Merujuk pada publikasi laporan keuangan perusahaan, SeaBank terpantau berhasil mencatatkan perolehan laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp749,25 miliar pada paruh pertama semester I/2025, angka yang melampaui pencapaian utuh sepanjang tahun 2025.

Perolehan laba SeaBank di semester I/2026 tersebut melonjak lebih dari 200% secara tahunan (year on year/YoY) jika disandingkan dengan angka Rp213,80 miliar pada periode semester I/2025. Kenaikan laba ini ditopang oleh kinerja intermediasi yang sangat solid lewat realisasi penyaluran kredit mencapai Rp39,80 triliun pada semester I/2026, atau melonjak 53,11% YoY.

Laju ekspansi kredit ini otomatis ikut mengerek akumulasi total aset SeaBank hingga menembus angka Rp52,97 triliun dalam jangka 6 bulan pertama pada 2026, sekaligus kian mengokohkan posisinya sebagai entitas bank digital pemegang aset terbesar di Indonesia.

Pertumbuhan kredit perusahaan didorong oleh perolehan total dana pihak ketiga (DPK) senilai Rp41,80 triliun, atau mengalami pertumbuhan 47,59% YoY. Pada saat yang bersamaan, SeaBank pun berhasil mengamankan porsi perolehan dana murah (current account saving account/CASA) di tingkatan 69,62%, relatif berimbang bila dibandingkan dengan posisi pada semester I/2025 lalu.

Sejalan dengan melesatnya performa kinerja fungsi intermediasi, SeaBank sukses menghimpun pendapatan bunga bersih hingga Rp5,47 triliun pada semester I/2026, melonjak tajam dibanding perolehan Rp3,62 triliun pada paruh pertama 2025. Di luar lini bisnis utamanya, kas pundi-pundi SeaBank kian menebal berkat pemasokan dari segmen pendapatan berbasis komisi (fee based income) yang menyentuh angka Rp410,69 miliar, naik drastis dari posisi Rp128,88 miliar pada semester I/2025.

"Fokus kami ke depan adalah terus berinovasi pada fitur-fitur transaksi, memperkuat infrastruktur keamanan siber, dan mendorong inklusi keuangan untuk memastikan akses keuangan digital bagi seluruh masyarakat Indonesia," Direktur Utama SeaBank Indonesia Sasmaya Tuhuleley.

Arah pergerakan yang dituju oleh SeaBank tersebut boleh dibilang cukup selaras dengan hasil temuan riset Litbang Kompas yang dipublikasikan pada pertengahan tahun 2026, di mana penetrasi bank digital terbukti telah menjangkau populasi kelompok usia muda secara lebih masif.

Proses survei yang dilaksanakan pada rentang 6-10 Maret 2026 dengan melibatkan 415 responden di pelbagai kota besar Indonesia mengungkapkan bahwa persentase pemakai bank digital terbanyak datang dari kalangan generasi milenial muda (rentang usia 28-35 tahun) dengan porsi mencapai 38,5% dari total seluruh responden.

Posisi peringkat kedua pengguna bank digital dihuni oleh kelompok generasi Z (rentang usia 17-27 tahun) di angka 25,8%, yang kemudian disusul oleh deretan milenial madya (rentang usia 36-43 tahun) dengan porsi 19,6%. Selanjutnya, deretan pengguna dari generasi X (usia 44-57 tahun) serta baby boomer (usia di atas 57 tahun) masing-masing mengisi porsi sebesar 14,3% dan 1,9%.

Masih mengutip temuan data Litbang Kompas, SeaBank (PT Seabank Indonesia) berhasil tampil menjadi bank digital yang paling digemari serta paling banyak dimanfaatkan oleh kelompok generasi milenial muda (43,2%) dan generasi Z (29,5%). Tingkat rasio milenial muda yang menggunakan layanan bank digital naungan Sea Group (Shopee) ini terpantau berada di atas raihan para pemain lain seperti Bank Jago (ARTO), Blu BCA, Superbank (SUPA), hingga Jenius.

Suatu hal yang menarik, SeaBank mencatatkan diri sebagai satu-satunya bank digital dengan demografi pengguna di tingkatan kabupaten yang mendominasi hingga 59,2%. Sementara sisa porsi sebesar 40,8% berada di wilayah perkotaan. Pemandangan ini terbilang kontras jika dibandingkan dengan tren bank digital lain yang mayoritas basis penggunanya masih terkonsentrasi di perkotaan, seperti Bank Jago (53,1%), Blu BCA (72,9%), Superbank (62,7%), serta Jenius (54%).

"Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan bank digital masih sangat ditopang oleh generasi usia produktif muda, sementara penetrasi pada kelompok usia yang lebih tua masih relatif terbatas," tulis pihak Litbang Kompas dalam pernyataan rilis resminya belum lama ini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index