JAKARTA - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) resmi menerbitkan instrumen surat utang (obligasi) baru jenis perpetual bond bernilai US$ 750 juta dengan patokan tingkat bunga sebesar 7,35%. Dengan mengacu pada perkiraan asumsi kurs rupiah di kisaran Rp 17.500, maka total estimasi nilai utang tersebut setara dengan Rp 13,14 triliun.
Mengutip rincian keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), jajaran manajemen memaparkan bahwa penerbitan obligasi ini difungsikan sebagai instrumen modal Additional Tier 1 (AT1) Capital. Dengan kata lain, penggalangan dana dari obligasi ini dialokasikan untuk memperkokoh struktur permodalan internal perseroan.
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet memberikan penilaian bahwa langkah penerbitan obligasi ini sangat linier dan relevan dengan dinamika posisi rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) Bank Mandiri secara bank only yang mengalami penurunan dalam kurun seperiode setahun menjadi 17,5% per Juni 2026.
Penurunan posisi CAR tersebut, sambung Yusuf, terpicu oleh tingginya laju pertumbuhan aset tertimbang menurut risiko (ATMR) sepanjang periode berjalan serta imbas pembayaran porsi dividen dengan nilai lumayan besar, termasuk penyaluran dividen interim senilai Rp 6,16 triliun dalam waktu belakangan ini.
Secara teknis, Yusuf memaparkan bahwa suntikan dana hasil penerbitan ini akan langsung menyuplai kas perbankan dan dapat diandalkan untuk meredam tekanan likuiditas. Sebagai catatan, sampai pada Agustus 2026, kondisi likuiditas Bank Mandiri memang terbilang ketat di mana indikator rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) berada di tingkatan 94,3%.
Meskipun demikian, dampak langsungnya terhadap gambaran likuiditas secara menyeluruh dapat dikatakan relatif terbatas, mengingat proporsi nilainya cuma berkisar 0,5%–0,8% dari total keseluruhan aset. Nilai manfaat strategis utamanya terfokus pada penambahan daya tampung kapasitas modal demi menopang ekspansi pertumbuhan kredit tanpa harus membuat rasio permodalan kian tertekan.
Tekanan Likuiditas Bank Mandiri
Menurut pemaparan Yusuf, situasi ketatnya likuiditas di tubuh Bank Mandiri pada dasarnya tak lepas dari kencangnya laju penyaluran kredit yang terbilang amat masif.
Sampai pada Juli 2026, ekspansi kredit perseroan sukses melonjak 19,40% secara tahunan hingga menembus angka Rp 1.595,84 triliun. Sebagai pembanding, dalam rentang waktu yang sama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat performa kredit industri perbankan nasional tumbuh di level 13,58% secara tahunan ke posisi Rp 9.135 triliun.
Bukan cuma laju pertumbuhannya yang sukses mengungguli rata-rata industri, portofolio pembiayaan kredit Bank Mandiri bahkan menguasai porsi setara 17% dari total akumulasi kredit perbankan secara nasional.
“Tekanan semakin terasa pada Mandiri yang memiliki peran besar dalam pembiayaan program pemerintah dan BUMN,” ujar Yusuf kepada Kontan, Jumat (11/9/2026).
Walau begitu, Yusuf menggarisbawahi bahwa Bank Mandiri masih mengantongi cadangan portofolio surat berharga yang memadai, ketersediaan kas dan setara kas, serta aksesibilitas terhadap instrumen repo. Bahkan, aktivitas repo terpantau mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.
Lebih jauh ia menguraikan bahwa indikator rasio LCR maupun NSFR milik perseroan secara historis terpantau masih berada jauh di atas ambang batas minimum. Kondisi ini membuktikan bahwa perseroan sebenarnya belum berada dalam posisi gawat yang mendesak tambahan pasokan dana eksternal agar operasional bisnis tetap dapat berjalan.