Kimia Farma Gandeng BRIN Hilirisasi Riset Farmasi, Bidik Tekan Impor API

Sabtu, 19 September 2026 | 04:08:00 WIB

LITERASIKEUANGAN.COM — PT Kimia Farma (Persero) Tbk menjajaki kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional untuk menghilirisasi hasil riset di sektor kesehatan. Langkah ini menyasar salah satu persoalan mendasar industri farmasi nasional: sekitar 90 persen kebutuhan Active Pharmaceutical Ingredients masih bergantung pada impor.

Manajemen Kimia Farma bersama jajaran periset BRIN menggelar pertemuan di Jakarta, Rabu (16/9/2026). Forum itu menjadi ruang penyelarasan antara potensi inovasi hasil riset dan kapasitas pengembangan produk industri.

Ketergantungan Bahan Baku Jadi Pemicu Utama

Direktur Komersial PT Kimia Farma Tbk, Hanardi Setiarto, menyebut kolaborasi riset diperlukan untuk menjawab tantangan industri farmasi. Persoalan terbesar yang dihadapi saat ini adalah ketergantungan terhadap bahan baku obat impor.

Data yang dihimpun perseroan menunjukkan sekitar 90 persen kebutuhan API Indonesia masih didatangkan dari luar negeri. Angka itu membuat industri farmasi dalam negeri rentan terhadap gejolak kurs dan gangguan rantai pasok global.

Empat Skema Kerja Sama yang Dijajaki

Hanardi menuturkan, Kimia Farma dan BRIN tengah menjajaki bentuk kerja sama yang lebih konkret. Cakupannya mulai dari hilirisasi riset, lisensi teknologi, uji klinis bersama, hingga co-development.

“Harapan kami, hasil pertemuan ini dapat membawa pulang beberapa proyek atau ide yang dapat dikembangkan menjadi hasil yang terukur bersama,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (18/9/2026).

Hasil pertemuan tersebut diharapkan menjadi dasar penyusunan roadmap kolaborasi jangka pendek dan menengah. Roadmap itu akan mempertemukan periset BRIN dengan tim Research & Product Development Kimia Farma.

Mengapa Hilirisasi Riset Jadi Kunci

Selama ini banyak hasil riset dalam negeri berhenti di tahap publikasi dan tidak sampai ke produksi massal. Skema hilirisasi dinilai bisa memangkas jarak antara temuan laboratorium dan kebutuhan pasar farmasi.

Bagi Kimia Farma, kerja sama ini berpotensi memperkuat lini produksi bahan baku obat yang selama ini menjadi titik lemah. Adapun BRIN mendapat jalur aplikasi industri bagi riset yang dikembangkan perisetnya.

Belum ada keterangan resmi mengenai nilai investasi maupun target waktu realisasi dari penjajakan tersebut.

Terkini