Ketua The Fed Kevin Warsh: Risiko Inflasi Masih di Sisi Atas, Suku Bunga Bisa Naik Lagi

Kamis, 17 September 2026 | 09:46:00 WIB

LITERASIKEUANGAN.COM — Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rabu (16/9/2026), membawa target federal funds rate ke kisaran 3,75%-4,00%. Keputusan ini menjadi kenaikan pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh, yang menegaskan risiko inflasi masih condong ke atas. Mayoritas pejabat The Fed memperkirakan masih ada satu kenaikan tambahan sebelum akhir tahun.

Keputusan tersebut diambil setelah seluruh anggota komite kebijakan yang memberikan suara menyetujui kenaikan 25 basis poin. Ini menjadi rapat kebijakan pertama The Fed sejak Kevin Warsh memimpin bank sentral Amerika Serikat tersebut.

Dalam proyeksi terbaru yang dirilis usai pertemuan, 16 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya satu kenaikan tambahan sebesar 25 basis poin hingga akhir 2026. Hanya dua pejabat yang memperkirakan suku bunga bertahan di level saat ini.

Proyeksi Berubah, Suku Bunga Bertahan Lebih Lama

Perkiraan tersebut bergeser dari proyeksi Juni lalu. Sebelumnya, pejabat The Fed memperkirakan satu kali kenaikan pada 2026, tetapi masih membuka ruang pemangkasan 25 basis poin pada 2027.

Dalam proyeksi terbaru, suku bunga diperkirakan tetap berada di level tinggi sepanjang 2027 dan baru kembali turun pada 2028. Pergeseran ini mencerminkan tekanan inflasi yang dinilai belum mereda.

The Fed menaikkan proyeksi inflasi berdasarkan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk 2026 menjadi 3,7%, dari sebelumnya 3,6%. Untuk 2027, inflasi diperkirakan 2,3%, sedangkan proyeksi 2028 naik menjadi 2,1%.

Inflasi baru diprediksi kembali ke target 2% pada 2029. Artinya, perjalanan menuju sasaran bank sentral masih panjang.

Konflik Timur Tengah Ikut Menekan Harga Energi

Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan risiko inflasi masih berada di sisi atas. Tekanan harga juga dipengaruhi kenaikan biaya energi di tengah konflik di Timur Tengah.

Kondisi itu memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi butuh waktu lebih lama untuk kembali ke target bank sentral. Warsh menekankan proyeksi suku bunga merupakan perkiraan para pejabat The Fed, bukan panduan kebijakan yang mengikat.

"Arah kebijakan selanjutnya akan tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi dan inflasi," ujarnya, seperti dikutip dari pernyataan setelah pertemuan.

Pertumbuhan Ekonomi AS Sedikit Lebih Kuat

Di sisi lain, The Fed menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Produk domestik bruto (PDB) 2026 diperkirakan tumbuh 2,3%, naik dari proyeksi Juni sebesar 2,2%.

Untuk 2027, pertumbuhan diproyeksikan mencapai 2,4%. Sementara tingkat pengangguran diperkirakan berada di 4,1% pada akhir 2026 dan bertahan pada level tersebut hingga 2029.

Kombinasi suku bunga tinggi yang bertahan lama dan pertumbuhan yang tetap solid memberi ruang bagi The Fed untuk menahan kebijakan moneter ketat lebih panjang.

Apa Artinya bagi Pasar Indonesia

Suku bunga AS yang lebih tinggi dalam waktu panjang berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan arus modal ke pasar emerging market, termasuk Indonesia. Investor asing cenderung menahan dana di aset dolar yang memberi imbal hasil lebih menarik.

Bagi pelaku pasar saham, sinyal kenaikan lanjutan ini menjadi faktor yang perlu dicermati dalam menyusun strategi portofolio. Tekanan terhadap obligasi negara juga bisa muncul jika yield US Treasury terus naik.

Namun, arah kebijakan The Fed tetap bergantung pada data inflasi dan ketenagakerjaan AS ke depan. Pasar akan menanti rilis data ekonomi berikutnya untuk mengukur apakah kenaikan tambahan benar-benar terjadi sebelum akhir tahun.

Terkini