LITERASIKEUANGAN.COM — Kenaikan suku bunga Federal Reserve yang bernada hawkish diperkirakan menekan mata uang Asia, terutama yen, menjelang rapat kebijakan Bank of Japan pada Jumat (18/9). Yen berpotensi melemah menuju rata-rata pergerakan 200 hari di sekitar 158 per dolar AS. Pergerakan ini juga membebani saham-saham Asia yang sensitif terhadap suku bunga.
Sejumlah strategis pasar menilai sikap hawkish baru The Fed akan membuat ketegangan bertahan di pasar Asia. Tekanan paling terasa pada yen yang bergerak menjelang rapat kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ) pada Jumat (18/9).
Yen di Bawah Bayang-Bayang 158 per Dolar AS
Yen berpotensi melemah menuju rata-rata pergerakan 200 hari di sekitar 158 per dolar AS. Level itu menjadi acuan teknikal yang dipantau pelaku pasar untuk melihat arah selanjutnya.
Imbal hasil obligasi Asia juga akan dipengaruhi pergerakan obligasi AS. Saham, terutama yang sensitif terhadap perubahan suku bunga, berada di bawah tekanan.
Pandangan Strategis Pasar
Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade, menyebut ketegangan masih akan bertahan di pasar Asia. Menurutnya, sikap hawkish baru The Fed menjadi pemicu utama.
"Ketegangan kemungkinan masih akan bertahan di pasar Asia mengingat sikap hawkish baru dari The Fed," kata Tim Waterer.
Dampak ke Investor dan Pasar Lokal
Bagi investor di Indonesia, pergerakan yen dan obligasi AS ini bisa mempengaruhi aliran modal asing ke pasar domestik. Ketika imbal hasil obligasi AS naik, imbal hasil aset negara berkembang jadi kurang menarik.
Tekanan pada yen juga berdampak ke pelaku usaha yang bertransaksi dengan Jepang. Biaya impor dari Jepang bisa berubah seiring fluktuasi kurs.
Rapat BOJ pada Jumat (18/9) menjadi momen krusial. Keputusan bank sentral Jepang itu akan menentukan apakah tekanan pada yen berlanjut atau mereda.
Pergerakan pasar Asia pekan ini akan sangat bergantung pada sinyal The Fed dan langkah BOJ. Investor disarankan mencermati kedua agenda tersebut sebelum mengambil posisi.