Harga Pertamax Diprediksi Hanya Turun Tipis pada Sisa Tahun 2026

Selasa, 01 September 2026 | 04:52:31 WIB
BBM jenis Pertamax di SPBU Jakarta [FOTO: NET].

JAKARTA — Peluang penurunan harga Pertamax masih terbuka hingga akhir 2026, tetapi ruang penurunannya diperkirakan sangat terbatas. Pelemahan harga minyak dunia belum sepenuhnya tercermin pada harga jual karena biaya pengadaan serta berbagai faktor eksternal masih menjadi penahan.

Terakhir, penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan sejumlah operator SPBU pada 1 Agustus 2026. Pertamina menurunkan harga Pertamax dari Rp16.250 menjadi Rp15.950 per liter.

Selain itu, Pertamax Green juga turun dari Rp17.000 menjadi Rp16.600 per liter. Sementara Pertamax Turbo mengalami penurunan dari Rp19.300 menjadi Rp18.300 per liter.

Berbeda dengan BBM nonsubsidi, harga BBM bersubsidi tidak berubah. Pertalite tetap dipatok Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar bertahan di level Rp6.800 per liter.

Penyesuaian serupa dilakukan BP-AKR. Harga BP 92 turun dari Rp16.670 menjadi Rp16.130 per liter, sedangkan BP Ultimate turun dari Rp17.240 menjadi Rp16.760 per liter.

Vivo juga memangkas harga Revvo 92 menjadi Rp16.130 per liter dari sebelumnya Rp16.670. Adapun Revvo 95 justru naik tipis menjadi Rp16.760 per liter.

Menanggapi peluang penurunan harga BBM nonsubsidi pada sisa 2026, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menyebut perusahaan masih mencermati perkembangan berbagai faktor yang memengaruhi harga.

"Kita masih akan lihat ke depannya. Penyesuaian harga tentu dilakukan sesuai mekanisme yang berlaku dan atas koordinasi dengan Pemerintah,"

Roberth menjelaskan bahwa harga BBM jenis JBU, termasuk Pertamax Series dan Dex Series, dipengaruhi sejumlah komponen utama. Salah satunya ialah pergerakan harga minyak mentah dunia yang berdampak langsung terhadap harga jual BBM nonsubsidi di dalam negeri.

Faktor lainnya adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Sebab, transaksi pembelian maupun impor minyak menggunakan dolar AS sehingga perubahan kurs turut memengaruhi biaya pengadaan.

Selain itu, harga produk BBM di pasar internasional atau Mean of Platts Singapore (MOPS) menjadi acuan penting. Harga referensi tersebut menjadi dasar penetapan BBM siap pakai di kawasan Asia dan berpengaruh terhadap harga nonsubsidi di Indonesia.

Pertamina Patra Niaga juga memasukkan biaya produksi, distribusi, serta komponen perpajakan dalam penetapan harga. Besaran Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) yang berbeda di tiap daerah membuat harga BBM dapat bervariasi antarwilayah.

Di luar itu, dinamika geopolitik global juga menjadi pertimbangan. Konflik di negara produsen minyak, sanksi ekonomi, hingga gangguan jalur distribusi dapat memberi tekanan terhadap harga energi dunia. Mekanisme pasar dan strategi bisnis masing-masing badan usaha turut menjadi faktor tambahan dalam penentuan harga di SPBU.

Ekonom Senior Core Indonesia Muhammad Ishak Razak memperkirakan biaya pengadaan BBM dalam rupiah masih berpotensi meningkat sekitar 4%—7% dibanding bulan sebelumnya. Karena itu, harga BBM nonsubsidi diperkirakan lebih cenderung bertahan atau hanya turun tipis sekitar Rp0—Rp300 per liter.

Menurut Ishak, penurunan harga pada bulan sebelumnya terjadi seiring turunnya harga Indonesian Crude Price (ICP), dari US$106,56 per barel pada Mei menjadi US$81,68 per barel pada Juli. Namun, penentuan harga BBM tidak hanya mengacu pada ICP, melainkan juga mempertimbangkan MOPS, Argus, dan nilai tukar rupiah.

Kondisi tersebut membuat ruang penurunan harga BBM nonsubsidi pada September 2026 menjadi terbatas.

"Skenario yang paling realistis ialah harga BBM nonsubsidi tetap, kalaupun terjadi penurunan, besarannya diperkirakan hanya sekitar Rp0—300 per liter,"

Ishak menilai peluang penurunan harga masih terbuka apabila harga minyak dunia kembali melemah dan rupiah tetap stabil. Ruang penurunan juga bisa lebih besar jika tidak ada kebijakan pemerintah yang meminta Pertamina menahan penyesuaian harga demi menjaga margin.

Sementara itu, Praktisi Migas Hadi Ismoyo menilai penurunan harga yang dilakukan penyedia BBM masih tergolong konservatif dibanding koreksi harga minyak dunia dalam beberapa bulan terakhir.

“Harga BBM berpeluang turun namun tidak signifikan. Range penurunan hanya sekitar 2,5% saja. Tidak terlalu berpengaruh bagi keputusan strategis end user atau konsumen. Penurunan harga bisa berlanjut sampai akhir tahun,”

Hadi menjelaskan bahwa rata-rata harga minyak mentah Brent pada April—Juli berada di kisaran US$105 per barel, sedangkan kini turun menjadi sekitar US$85 per barel. Artinya, harga minyak telah terkoreksi sekitar 20%, tetapi harga BBM baru turun sekitar 2,5%.

Menurutnya, sikap konservatif pelaku usaha dipengaruhi tingginya tensi geopolitik dan potensi kenaikan permintaan minyak menjelang musim dingin. Dengan asumsi harga Brent bertahan di US$85 per barel, yield bensin 0,6, serta kurs Rp17.800 per dolar AS, harga Pertamax seharusnya berada di kisaran Rp15.800 per liter.

“Harga Pertamax seharusnya sekitar Rp15.800, turun sekitar Rp150 dari saat ini sekitar Rp15.950,”

Hadi menambahkan bahwa peluang penurunan harga BBM juga dipengaruhi kondisi stok minyak mentah Amerika Serikat, keterbatasan tambahan pasokan dari Venezuela akibat infrastruktur yang belum pulih, serta risiko geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina.

"Kondisi itu pada akhirnya dapat membatasi minyak Rusia yang masuk ke pasar global, termasuk melalui jalur yang selama ini digunakan untuk menghindari sanksi,"

Keseimbangan konsumsi BBM

Di sisi lain, Ishak menilai pemerintah perlu menjaga keseimbangan harga antara BBM nonsubsidi dan subsidi. Selisih harga Pertalite dan Pertamax yang mencapai sekitar 60% berpotensi memengaruhi pola konsumsi masyarakat.

Apabila harga BBM nonsubsidi terlalu rendah, disparitas dengan BBM subsidi akan menyempit. Sebaliknya, harga yang terlalu tinggi dapat mendorong perpindahan konsumen ke BBM bersubsidi, sementara konsumsi Pertalite dan Solar diperkirakan kembali melampaui kuota pada 2026.

Meski demikian, Ishak menilai dampak penurunan harga sekitar Rp300 per liter masih terbatas karena jarak harga dengan Pertalite tetap lebar. Pergeseran konsumsi dinilai baru akan lebih terasa jika harga Pertamax turun ke kisaran Rp12.000—Rp14.000 per liter.

"Pergeseran konsumsi baru berpotensi lebih terasa apabila harga Pertamax turun ke kisaran Rp12.000—14.000 per liter. Kondisi tersebut terutama berpotensi memengaruhi konsumen mobil pribadi kelas menengah," katanya.

Terkini

Hrgovic Sebut Moses Itauma Masih Bertarung Seperti Amatir

Selasa, 01 September 2026 | 06:10:01 WIB

Jonatan Bidik Poin WTF Lewat Kemenangan di China Masters

Selasa, 01 September 2026 | 06:08:31 WIB

Peralta Rendah Hati Usai Bawa Persib Lolos ke ACL Two 2026/27

Selasa, 01 September 2026 | 06:07:01 WIB