JAKARTA - Diagnosis radang usus buntu atau appendicitis akut pada anak usia dini cenderung lebih sulit ditegakkan dibandingkan pada anak yang berusia lebih tua.
Hal tersebut disampaikan oleh Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastrohepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Himawan Aulia Rahman, Sp.A, Subsp.G.H.(K).
"Appendicitis akut ini paling sering terjadi di usia remaja belasan tahun, tapi uniknya usus buntu pada usia-usia yang lebih kecil, di bawah lima tahun, kejadian komplikasi lebih sering dibandingkan anak-anak yang usianya lebih tua," kata dia pada seminar daring IDAI, Selasa.
Dokter Himawan menjelaskan bahwa appendicitis akut tergolong salah satu pemicu paling umum dilakukannya pembedahan saluran cerna dalam keadaan darurat. Anak-anak yang masih berusia di bawah lima tahun biasanya belum bisa menerangkan secara pasti letak serta sifat nyeri yang dialami.
Keterbatasan tersebut menyebabkan anak berusia lebih muda mempunyai risiko lebih tinggi dibawa berobat saat kondisinya sudah berada dalam tahap komplikasi.
Salah satu komplikasi paling berat yakni perforasi, sebuah keadaan ketika usus buntu robek atau bocor sehingga isinya terbuang ke dalam rongga perut dan memicu timbulnya infeksi.
“Tetapi uniknya adalah usus buntu ini pada usia-usia yang lebih kecil, pada bayi-bayi yang lebih kecil ini lebih sering datang dengan komplikasi. Komplikasi yang salah satu komplikasi terberat dari usus buntu itu adalah usus buntu itu bocor, istilahnya adalah perforasi,” ujar Himawan.
Ia menuturkan bahwa penegakan diagnosis bagi anak berusia belia terasa lebih berat lantaran pasien, khususnya yang belum pandai bicara, belum sanggup mengutarakan lokasi maupun rasa sakit perut yang mereka derita.
Di samping itu, gejalanya kerap menyerupai gangguan kesehatan lain, seperti infeksi saluran cerna (gastroenteritis), sembelit, infeksi saluran kemih, adenitis mesenterica, hingga intususepsi.
Kondisi ini berbeda dengan anak yang sudah beranjak besar atau remaja, yang mana indikasi awal radang usus buntu umumnya berupa hilangnya selera makan, kemudian muncul rasa sakit di area ulu hati atau sekitar pusar, berlanjut muntah, hingga akhirnya nyeri bergeser ke perut bagian kanan bawah.
Dokter mengimbau kepada para orang tua agar senantiasa mencermati perkembangan gejala sang buah hati, khususnya jika rasa nyeri semakin hebat, bertumpu di perut kanan bawah, kian memburuk saat anak melangkah atau bergerak, diiringi muntah serta demam, atau saat perut terasa teramat sakit sewaktu disentuh.
“Jadi sebagai orang tua sangat penting sekali untuk memantau apakah gejala anaknya yang menderita sakit ini bertambah gejalanya ataupun juga intensitasnya bertambah berat atau tidak,” ujarnya.