Enzo Le Fée Bersinar di Bayangan Granit Xhaka, Calon Legenda Baru Sunderland

Jumat, 18 September 2026 | 17:06:00 WIB

LITERASIKEUANGAN.COM — Enzo Le Fée menjelma jadi sosok krusial di balik kebangkitan Sunderland meski namanya kerap tenggelam di bawah bayang-bayang kapten Granit Xhaka. Gelandang asal Prancis itu mencatatkan 22 penampilan penuh dari 23 laga terakhir Premier League 2025/26, bukti kepercayaan penuh pelatih Régis Le Bris.

Le Fée bergabung ke Stadium of Light dengan status pinjaman pada Januari 2025, saat Sunderland masih berjuang di Championship. Pemilik klub Kyril Louis-Dreyfus yang menginisiasi langkah itu, membawa mantan pemain internasional U21 Prancis tersebut dari AS Roma.

Kepindahan permanen Le Fée bergantung pada promosi ke Premier League. Setelah Sunderland menang play-off di Wembley, statusnya diubah menjadi permanen dengan nilai £19,3 juta, rekor transfer klub saat itu.

Alasan Le Fée Tinggalkan Roma demi Kasta Kedua Inggris

Le Fée mengaku tidak bahagia selama berkarier di Italia. Ia mencari kepercayaan diri baru dan yakin Le Bris adalah sosok yang tepat untuk membangkitkan performanya.

"Saya berada di Roma, saya agak sedih karena tidak menikmati sepak bola," kata Le Fée kepada Opta Analyst. "Saya ingin menemukan kepercayaan diri lagi, jadi saya datang ke sini, karena saya tahu [Le Bris] bisa memberi saya segalanya yang saya butuhkan untuk tampil di lapangan."

Kerja Keras Le Fée di Balik Sorotan Xhaka

Awal musim 2025/26 tidak berjalan mulus bagi Le Fée. Ia absen dari starting XI saat laga pembuka melawan West Ham United, kalah bersaing dengan Noah Sadiki yang tampil impresif di pramusim.

Le Fée merespons dengan kerja keras. Gol dan assist penting melawan Brentford, Bournemouth, dan Liverpool membuktikan kontribusinya bagi tim. Menurut data FotMob, ia mencatatkan jarak lari lebih banyak dari 93 persen pemain di posisinya.

Pada akhir musim, Le Fée mengoleksi lima gol dan enam assist di musim pertamanya di Premier League. Statistik itu memang bukan angka luar biasa, tetapi momen-momen magisnya kerap menentukan hasil pertandingan.

Xhaka dan Le Fée, Dua Pilar Sunderland di Eropa

Xhaka tiba di Sunderland setelah menjuarai double Jerman bersama Bayer Leverkusen. Kapten timnas Swiss itu disebut sebagai pemain terbaik ke-16 dalam daftar Ballon d'Or, dan kehadirannya mengubah wajah klub.

Musim panas sempat diwarnai spekulasi kepergian Xhaka ke Chelsea untuk bertemu Xabi Alonso. Meski laporan yang beredar saling bertentangan, ada indikasi keinginan dari pihak pemain.

Di usia 33 tahun, Xhaka diperkirakan hanya punya beberapa musim tersisa di level tertinggi. Sementara Le Fée baru menginjak 26 tahun dan sedang memasuki puncak kariernya.

Peluang Sunderland di Europa League

Sunderland kini berlaga di Europa League dengan lawatan ke markas AC Milan, Anderlecht, dan Lech Poznan. Delapan klub Inggris terakhir yang lolos lewat posisi liga semuanya melewati fase grup, enam di antaranya mencapai perempat final, dan Aston Villa menjuarai kompetisi musim lalu.

Jika Sunderland mampu membuat kejutan lagi, Xhaka dan Le Fée akan jadi kunci. Le Fée, yang namanya berarti "sang peri", berpeluang menulis babak baru dalam sejarah The Black Cats.

Terkini