JAKARTA - Permintaan semen di dalam negeri memperlihatkan tren peningkatan sepanjang tujuh bulan pertama tahun 2026. Lonjakan permintaan yang kokoh ini memberikan angin segar bagi kinerja sejumlah emiten semen terkemuka, seperti PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP).
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) membukukan volume penjualan kelompok usaha sebesar 21,5 juta ton hingga Juli 2026, yang menunjukkan pertumbuhan 5,1% secara tahunan. Capaian tersebut memenuhi sekitar 55,2% dari target tahunan yang diproyeksikan oleh Mirae Asset Sekuritas dan masih berada dalam kisaran normal.
Kendati demikian, SMGR menghadapi tantangan berupa tekanan pada penguasaan pangsa pasar domestik. Pada Juli 2026, pangsa pasar perseroan terkoreksi ke level 45,1%, yang menjadi titik terendah dalam kurun waktu setidaknya 60 bulan terakhir.
Secara keseluruhan, volume penjualan domestik SMGR selama tujuh bulan pertama 2026 mencapai 17 juta ton atau meningkat 7,8% secara tahunan dengan pangsa pasar di kisaran 47%.
Sementara itu, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) mencatatkan volume penjualan sebesar 10,3 juta ton dalam periode tujuh bulan pertama 2026, tumbuh 6,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Realisasi tersebut setara dengan 53,3% dari estimasi sepanjang 2026.
INTP juga menunjukkan pemulihan pangsa pasar yang signifikan pada Juli 2026 dengan volume penjualan bulanan menembus 1,9 juta ton, melonjak 18,6% secara bulanan dan 13,2% secara tahunan. Alhasil, pangsa pasar INTP naik menjadi 31,3%, atau bertambah 2 poin persentase baik secara bulanan maupun tahunan.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Andreas Saragih, mengungkapkan bahwa total konsumsi semen domestik menyentuh angka 36,1 juta ton sepanjang tujuh bulan pertama 2026, atau mengalami pertumbuhan 9,5% secara tahunan.
Angka tersebut sedikit melampaui tren historis lima tahun dan merepresentasikan 56,6% dari proyeksi setahun penuh oleh Mirae Asset.
“Konsumsi semen domestik naik menjadi 6,1 juta ton pada Juli 2026, didukung cuaca kering, basis rendah tahun lalu, serta percepatan pekerjaan infrastruktur,” tulis Andreas dalam risetnya, Rabu (26/8/2026).
Pada Juli 2026 saja, konsumsi semen nasional tercatat mencapai 6,1 juta ton, yang tumbuh 10,9% secara bulanan dan 5,9% secara tahunan. Peningkatan ini terjadi secara merata pada kategori semen kantong maupun semen curah.
Mirae Asset menilai penguatan tersebut didorong oleh kondisi cuaca yang lebih mendukung, basis perbandingan tahun sebelumnya yang rendah, serta akselerasi proyek infrastruktur.
Selain itu, pertumbuhan konsumsi turut ditopang oleh berbagai program pemerintah, seperti pembangunan dapur SPPG, KDKMP, Sekolah Rakyat, rehabilitasi wilayah Sumatra, serta program pembangunan 3 juta rumah.
Kendati demikian, Mirae Asset mempertahankan pandangan Neutral terhadap sektor semen dengan target harga yang tidak berubah. Untuk saham SMGR, disematkan rekomendasi Buy dengan target harga Rp2.750 per saham.
Adapun INTP memperoleh rekomendasi Trading Buy dengan target harga Rp6.500 per saham.
Penyesuaian peringkat untuk INTP ini merupakan bentuk penurunan rekomendasi menjadi Trading Buy menyusul lonjakan harga sahamnya yang telah melampaui 20% sejak akhir Juli 2026, mengungguli pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat sekitar 6%.
Secara musiman, kuartal ketiga diproyeksikan menjadi periode terkuat bagi tingkat konsumsi semen.
Meskipun demikian, para investor tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko seperti suku bunga yang relatif tinggi, penyesuaian belanja pemerintah, pelemahan nilai tukar rupiah, tingginya harga energi, serta potensi lonjakan inflasi pangan akibat fenomena El Nino.
Di sisi lain, peluang katalis positif bagi emiten semen terbuka lebar melalui potensi permintaan yang melampaui estimasi, pemulihan pangsa pasar pemain utama, serta potensi penyesuaian harga jual produk di pasar.