JAKARTA – Lonjakan transformasi digital di Tanah Air diproyeksikan mampu mendongkrak nilai ekonomi digital nasional hingga menyentuh angka US$360 miliar menjelang tahun 2030. Besarnya peluang tersebut menuntut para regulator serta pelaku industri untuk sigap menangkap dan memaksimalkannya.
Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) Dian Siswarini, mengemukakan bahwa Indonesia memegang posisi strategis yang sangat potensial guna mengamankan peluang sebagai kiblat baru bagi para pemain industri kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia Pasifik.
”Kami sama-sama tahu bahwa Indonesia merupakan pusat pertumbuhan ekonomi digital di Asia Pasifik yang nilai ekonomi digitalnya itu diperkirakan menembus lebih dari US$130 miliar pada tahun ini. Kemudian juga diproyeksikan mencapai lebih dari US$360 miliar pada 2030. Jadi ini akan menjadikan Indonesia sebagai pasar digital yang paling prospektif di kawasan,” katanya dalam konferensi pers BATIC 2026, Selasa (25/8/2026).
Dian menambahkan, prospek cerah tersebut wajib diwujudkan ke dalam bentuk infrastruktur digital yang handal, mencakup konektivitas berkualitas tinggi hingga platform berstandar internasional.
Di samping itu, tingkat penetrasi adopsi digital di tengah masyarakat kian menanjak seiring ekspansi pasar domestik yang semakin masif, sehingga memicu eskalasi kebutuhan digitalisasi di berbagai lini sektor.
”Tapi membangun daya saing digital itu bukan hanya soal siapa yang paling besar, siapa yang paling cepat dalam membangun infrastruktur digital dalam mengeluarkan investasi pembangunan tersebut. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kami membangun the whole ecosystem, karena tanpa ekosistem yang terbangun di semua sisinya tentu inovasi, kolaborasi, dan juga penciptaan nilai berkelanjutan barangkali tidak bisa dicapai,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret merealisasikan peluang emas ini, Telkom secara aktif memperluas kemitraan strategis bersama seluruh pemangku kepentingan di ranah ekosistem digital. Salah satu wujud nyata dari upaya tersebut adalah penyelenggaraan ajang Bali Annual Telkom International Conference (BATIC).
Inisiatif sinergi ini diyakini tidak sekadar menempatkan Telkom sebagai motor penggerak ekosistem digital domestik, melainkan juga memperkuat posisinya di kancah regional sekaligus mengintegrasikan Indonesia secara digital dengan jaringan global.
Lebih lanjut, TLKM turut memfokuskan alokasi belanja modal (capex) pada sektor-sektor bisnis yang menjanjikan tingkat ekspansi tinggi. Pada tahun ini, manajemen menggelontorkan capex sekitar 19—20% dari total pendapatan perseroan guna mengakselerasi pembangunan menara telekomunikasi hingga fasilitas pusat data.
Dian menegaskan bahwa porsi penanaman modal tersebut diarahkan secara tepat sasaran pada lini bisnis yang terbukti produktif, selaras dengan visi jangka panjang korporasi, serta berakar kuat pada kompetensi utama perusahaan.
”Jadi, investasi-investasi tersebut betul-betul memang digunakan untuk bisnis yang akan menghasilkan, untuk bisnis yang relevan dengan keberadaan Telkom, dan untuk bisnis yang memang merupakan core strength-nya Telkom,” tegasnya.
Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia, Meutya Hafid, menyampaikan bahwa lanskap ekonomi digital nusantara menunjukkan tren performa yang amat positif. Berdasarkan kalkulasi proyeksi, nilai ekonomi digital dalam negeri diyakini sanggup menyentuh level US$360 miliar pada 2030.
Akselerasi tersebut terutama ditopang oleh ekspansi sektor perdagangan elektronik (e-commerce) yang diestimasi mampu meraup nilai hingga US$150 miliar.
Dukungan kuat turut diberikan oleh skala pasar domestik yang masif dengan jumlah penduduk mencapai 281 jiwa atau menyumbang hampir 40 persen dari keseluruhan populasi ASEAN.