JAKARTA - Pelatih kepala Timnas Australia, Tony Popovic, secara terbuka membeberkan keputusan tak terduga seputar masa depan perjalanannya di dunia kepelatihan.
Tony Popovic secara terang-terangan menampik sodoran perpanjangan masa kerja berdurasi panjang yang sejatinya bakal mengamankan posisinya di tampuk kepelatihan utama sampai gelaran Piala Dunia 2030 mendatang.
Alih-alih menerimanya, Tony Popovic justru lebih memilih mengambil opsi kesepakatan anyar dengan rentang waktu yang jauh lebih singkat, yakni hanya sebatas tuntasnya perhelatan ajang Piala Asia pada tahun depan.
Keputusan tersebut diambil usai skuad berjuluk Socceroos itu sukses menembus babak knock-out pada perhelatan Piala Dunia tahun ini di kawasan Amerika Utara (Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko), sebelum akhirnya terpaksa angkat koper akibat takluk adu penalti dari Mesir pada fase 32 besar.
Sebagai figur yang mengisi kursi peninggalan Graham Arnold pada penghujung tahun 2024, rekam jejak kepemimpinan Popovic bersama Australia sejatinya dipandang sangat luar biasa karena mampu mengantar tim melaju mulus ke putaran final turnamen global yang kini diikuti oleh 48 kontestan tersebut.
Menanggapi dinamika masa depannya, sang juru taktik memberikan klarifikasi secara langsung kepada rekan-rekan media.
“Itu adalah pilihan saya untuk bertahan hingga Piala Asia,” kata Popovic, Rabu (9/9/2026).
“Meskipun saya ditawari kontrak empat tahun, saya memutuskan untuk fokus pada Piala Asia dan saya rasa itu adalah keputusan yang tepat.
“Hal ini memberi (Football Australia) kesempatan untuk mengambil keputusan yang berbeda jika mereka menginginkannya, dan saya sangat nyaman dengan keputusan yang telah diambil.”
Fokus Pengembangan Bakat Muda
Sosok berusia 53 tahun yang dulunya merupakan eks pilar lini pertahanan andalan Socceroos ini menegaskan bahwa dirinya masih begitu menikmati peran diemban saat ini. Bagi sang pelatih, tahapan membina serta mengorbitkan talenta-talenta muda di tubuh tim nasional merupakan aspek yang teramat krusial.
Berkenaan dengan target yang dipatok pada ajang level kontinental tersebut, sang pelatih memegang teguh mentalitas juara.
“Begitu Anda berada di sana, Anda ingin memenangkannya. Saya pikir hal itu seharusnya terjadi bagi Australia.”
Berbekal memori manis merengkuh satu-satunya trofi juara di hadapan publik sendiri pada edisi 2015, skuad Australia dipastikan bakal bersaing menghadapi Tajikistan, Irak, serta Singapura di Grup D dalam turnamen mendatang.
Siap Terima Segala Keputusan Federasi
Di sisi lain, perihal kemungkinan terburuk seandainya federasi sepak bola tertinggi (Football Australia) memutuskan untuk mendepaknya usai kampanye turnamen tersebut rampung, ia mengaku siap serta bakal mundur secara legawa.
“Aku tahu warisan yang akan kutinggalkan. Jika ada orang lain yang meneruskannya, tidak apa-apa. Jika aku sendiri yang melakukannya, bagus, kami sepakat untuk melakukannya bersama-sama,” pungkasnya.