Minim Partisipasi Perempuan Jadi Tantangan Transisi Energi Indonesia

Minim Partisipasi Perempuan Jadi Tantangan Transisi Energi Indonesia
Ilustrasi transisi energi dan pengembangan pembangkit energi baru dan terbarukan [FOTO: NET].

JAKARTA - Laju transisi energi di Indonesia mulai bergulir lewat pengembangan pembangkit listrik tenaga surya, panas bumi, bioenergi, kendaraan listrik, hingga efisiensi energi. 

Namun, pergeseran sistem energi ini masih tersandung persoalan keterlibatan sumber daya manusia, utamanya partisipasi perempuan pada sektor yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyampaikan bahwa pengembangan energi baru dan terbarukan memerlukan topangan dari seluruh elemen, selaras dengan capaian pengembangan energi baru, terbarukan, dan konservasi energi (EBTKE) yang masih terus merangkak.

“Hingga saat ini capaian pengembangan energi baru, terbarukan dan konservasi energi grafiknya naik turun. Dari data kami lihat grafiknya memang naik, capaian investasi dan juga implementasi, tetapi memang kadang-kadang terkoreksi, bahkan triwulan pertama kemarin 18,3%, sekarang terkoreksi sedikit,” papar Eniya dalam sambutan acara Apresiasi EBTKE 2026, beberapa waktu lalu.

Menurut pandangan Eniya, pemerintah turut memacu keterlibatan perguruan tinggi dalam pengembangan EBTKE. Peta sebaran kampus bakal diselaraskan dengan potensi energi terbarukan guna menetapkan peran perguruan tinggi sebagai pusat keunggulan di bidang tertentu.

“Di mana ada universitas atau perguruan tinggi, kami overlay dengan sebaran EBT, sehingga di titik mana nanti universitas mana harus jadi center of excellence dari PLTS misalnya,” ujar Eniya.

Adapun dalam agenda tersebut, pemerintah menganugerahkan penghargaan bagi korporasi, perguruan tinggi, hingga perseorangan yang dinilai memberikan sumbangsih nyata terhadap pengembangan energi bersih. Salah satu kategori yang diserahkan yakni Women in Clean Energy dalam Anugerah Energi Baru Terbarukan (AEBT) 2026.

Apresiasi tersebut diberikan kepada sosok perempuan yang dinilai memiliki andil dalam pengembangan energi bersih, inovasi, kepemimpinan, pemberdayaan masyarakat, serta percepatan transisi energi di Tanah Air.

Salah satu penerima penghargaan ialah Mada Ayu Habsari dari Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) pada subkategori Energy Leader. Lewat wadah organisasinya, Mada terus menyuarakan keterlibatan perempuan dalam pengembangan energi bersih yang selama ini didominasi kaum pria.

Mada mengutarakan bahwa keterlibatan perempuan menjadi bagian vital dalam memperluas pijakan sumber daya manusia di ranah energi.

“Dengan mengakui dan memperkenalkan perempuan yang telah berkontribusi dalam energi bersih dan dekarbonisasi, kami dapat meningkatkan visibilitas mereka sebagai role model, sekaligus mendorong lebih banyak perempuan untuk terlibat dalam sektor energi,” ujar Mada.

Penerima penghargaan lainnya, Rita Kefi dari Yayasan Humanis, menilai bahwa penguatan partisipasi perempuan menjadi salah satu tantangan tersendiri dalam pembangunan sektor energi nasional. Rita dianugerahi penghargaan untuk subkategori Changemaker.

“Kalau berbicara tentang energi, ini tantangan terbesarnya adalah bagaimana meningkatkan partisipasi perempuan di sektor energi karena orang mengenal bahwa sektor energi ini adalah sektor maskulin, sektornya laki-laki,” kata Rita.

Sementara itu, Novia Utami Putri dari Politeknik Negeri Lampung menyabet penghargaan pada subkategori Innovator. Perannya memperlihatkan kontribusi pendidikan vokasi dalam mencetak sumber daya manusia sekaligus memantik inovasi yang dapat diterapkan pada pengembangan energi bersih.

Pemberian penghargaan Women in Clean Energy ini juga menjadi bagian dari langkah Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI) untuk mengerek visibilitas perempuan di sektor energi dan memperbanyak figur yang dapat menjadi teladan bagi generasi penerus.

“Pengakuan ini penting untuk menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran yang kuat dalam mendorong perubahan di sektor energi. Kami berharap semakin banyak perempuan yang mendapatkan ruang untuk berkontribusi, memimpin, dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya,” ujar Caecilia Galih, Project Manager SETI dari Yayasan Indonesia Cerah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index