JAKARTA — Pengiriman logistik bagi para korban gempa di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, bertumpu pada jalur laut, salah satunya lewat armada PT Pelayaran Indonesia (Persero) atau Pelni.
Kapal Motor Tidar sukses membongkar muatan bantuan di Pelabuhan Laurens Say, Maumere, pada Kamis (3/9/2026). Pasokan gelombang kedua ini mencapai 29 ton usai bertolak dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, tanggal 29 Agustus 2026.
Sebelumnya, Pelni telah mendistribusikan kurang lebih 5,8 ton logistik pada gelombang pertama, sehingga total keseluruhan pasokan yang dibawa Pelni menyentuh angka 34,8 ton.
Berdasarkan data logistik, pengiriman gelombang pertama yang tiba di Maumere pada 20 Agustus 2026 mencakup 226 koli dari Pusat Kemanusiaan Sulawesi Selatan Yayasan Muslim Asia seberat 5,309 ton, ditambah sumbangan TJSL Pelni sejumlah 30 koli, SBN 13 koli, serta PID 12 koli.
Seluruhnya berjumlah 281 koli dengan taksiran volume mencapai 5,769 ton/m3. Pada gelombang berikutnya yang dibongkar tanggal 3 September 2026, muatan terdiri atas 142 jumbo bag dan 10 koli karung berukuran 29 ton/m3.
Direktur Utama Pelni Budi Setyawan Wijaya menyampaikan bahwa proses pengiriman pasokan bakal terus berjalan sepanjang status tanggap bencana berlaku. Setiap armada Pelni yang memiliki trayek menuju NTT akan dimaksimalkan untuk mengangkut logistik sesuai daya muat serta situasi di lapangan.
"Jadi memang kebijakan dari kita bahwa pengangkutan ini selama masa tanggap bencana ini selalu kita rutinkan. Jadi tidak hanya berhenti di sini sebenarnya hari ini. Tapi kita akan teruskan sampai masa tanggapnya selesai," ucap Budi di Pelabuhan Lorens Say, Maumere, Kamis (3/9/2026).
Pelni menjalankan sekitar empat jadwal pelayaran dalam sepekan ke kawasan tersebut, dengan titik keberangkatan meliputi Jakarta, Surabaya, serta Makassar. Jenis pasokan yang dibawa meliputi bahan pangan, air minum dalam kemasan, obat-obatan, perlengkapan tidur, dan berbagai logistik esensial lainnya.
Budi menjelaskan bahwa pasokan tersebut dihimpun dari berbagai lapisan masyarakat. Pihak Pelni menyediakan posko penampungan di sejumlah kantor cabang untuk kemudian disatukan dan diberangkatkan menggunakan trayek reguler menuju zona terdampak.
Mekanisme tersebut menjadikan jalur pelayaran reguler Pelni sebagai bagian penting dari rantai pasok bantuan selama masa darurat.
Pihak Pelni bersama Kementerian Perhubungan juga berkolaborasi menanggung biaya pengiriman logistik selama fase tanggap darurat berlangsung, dengan membuka posko penerimaan barang di seluruh cabang.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sikka Petrus Poling Wairmahing mengemukakan bahwa situasi di Flores daratan berangsur membaik seiring meredanya frekuensi dan kekuatan gempa. Sebagian warga di beberapa titik pengungsian pun mulai pulang ke kediaman masing-masing.
Kendati demikian, wilayah Pulau Palue masih memerlukan perhatian khusus. Delapan desa di pulau tersebut menderita kerusakan parah karena letaknya yang dekat dengan titik pusat gempa serta terisolasi dari daratan Flores.
Kebutuhan warga Palue saat ini masih mencakup tempat tinggal darurat, bahan pangan pokok, tenda, terpal, air minum, serta fasilitas penerangan. Masalah ketersediaan air bersih menjadi salah satu hal paling mendesak akibat minimnya sumber air di pulau tersebut.
"Pulau Palue itu satu pulau yang sangat kesulitan air minum. Sehingga kalau bantuan berkaitan dengan air bersih itu sangat dibutuhkan sekali," tuturnya.
Di samping kebutuhan dasar, pemulihan infrastruktur turut menjadi tantangan tersendiri. Sejumlah fasilitas kesehatan, sarana pendidikan, serta akses jalan di daerah terdampak mengalami kerusakan berat dan mendesak untuk diperbaiki.
Petrus menambahkan bahwa kondisi jalur darat di Flores daratan kini sudah semakin kondusif, di mana dari sekian banyak titik yang sempat terputus, kini tersisa satu hingga dua titik saja yang memerlukan penanganan lanjutan secara intensif.