Bankir BUMN Sambut Pelantikan Gubernur BI Destry: Jaga Rupiah Tapi Tetap Pro-Growth

Bankir BUMN Sambut Pelantikan Gubernur BI Destry: Jaga Rupiah Tapi Tetap Pro-Growth

LITERASIKEUANGAN.COM — EKUITAS — Pelantikan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia pada Rabu (2/9/2026) direspons positif kalangan perbankan. Harapan yang disuarakan para bankir bukan sekadar formalitas, melainkan ekspektasi konkret terhadap arah kebijakan moneter yang akan datang.

Stabilitas Rupiah dan Likuiditas Jadi Prioritas Utama

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Hery Gunardi menyebut mandat BI ke depan kian kompleks. Bank sentral tidak hanya dituntut menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mengelola likuiditas, nilai tukar, dan iklim investasi secara simultan.

"Peran Bank Indonesia, bank sentral menjaga pertumbuhan, pro-growth, likuiditas, dan juga nilai tukar dan investasi. Mudah-mudahan dengan formasi yang baru ini akan jadi lebih baik," kata Hery di Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Hery memberikan catatan khusus terkait arus modal asing. Ia menilai kredibilitas kepemimpinan baru BI akan diuji dari kemampuan menarik kembali investor global yang sempat hengkang dari pasar domestik.

"Kepercayaan investor luar juga akan meningkat, sehingga arus modal yang tadinya sempat pull out dari Indonesia akan kembali lagi dan menyebabkan ekonomi kita nampaknya lebih positif," ujarnya.

Kebijakan Suku Bunga: Tarik Ulur antara Pertumbuhan dan Pengendalian Inflasi

Sikap serupa datang dari jajaran manajemen PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN). Direktur Finance & Strategy BBTN, Nofry Rony Poetra, berharap kebijakan yang lahir dari era kepemimpinan baru mampu menjawab kebutuhan pasar dan industri perbankan secara seimbang.

"Harapannya yang terbaik lah untuk BI. Semua kebijakan-kebijakannya harusnya ya pro-market, pro-industri perbankan juga, yang terbaik lah untuk BI," kata Nofry.

Mengenai arah suku bunga acuan, Nofry menegaskan industri perbankan akan patuh pada ketetapan moneter BI. Ia memahami keputusan soal bunga tidak bisa semata-mata berpihak pada agresivitas pertumbuhan kredit. Kebijakan itu harus dirancang untuk meredam inflasi dan menjaga kurs rupiah tetap stabil.

"Kebijakan moneternya bagian dari kebijakan kestabilan rupiah juga dan inflasi. Ya harapannya sih lebih stabil lah, ada pro-growth dan pro-kestabilan rupiah," ujarnya saat ditemui di lokasi yang sama.

Arti Pelantikan Ini bagi Pasar dan Investor

Dinamika kepemimpinan di bank sentral selalu menjadi sinyal yang diperhitungkan pelaku pasar. Bagi investor, transisi ini kerap dibaca sebagai periode ketidakpastian kebijakan.

Pernyataan dua bankir BUMN tersebut setidaknya memberi gambaran awal: tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih menjadi momok utama yang harus dijinakkan otoritas moneter. Namun, kebutuhan sektor riil akan suku bunga yang kompetitif tidak bisa diabaikan begitu saja.

Jika BI mampu menavigasi dua kepentingan ini, bukan tidak mungkin kepercayaan pasar yang sempat terkikis dapat pulih kembali. Sebaliknya, kegagalan menjaga keseimbangan berisiko memperpanjang aksi keluarnya modal asing yang sudah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.

Kepemimpinan Destry Damayanti diuji mulai hari ini. Para bankir telah menyampaikan ekspektasinya; publik kini menanti realisasi kebijakan di lapangan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index