LITERASIKEUANGAN.COM — Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra, menegaskan bahwa perbaikan ekosistem harus dimulai dari hal yang paling mendasar. Ia menyoroti dua hal krusial yang selama ini menjadi keluhan utama klub: ketidakjelasan kalender dan standar lisensi yang kerap berubah-ubah.
Lisensi Klub: dari Lima ke Tujuh Aspek
"Kami ingin memastikan peran liga sebagai pembuat ekosistem dan tim tinggal menunjukkan performanya. Kami ingin memastikan kepastian jadwal dari kalender dan hal-hal berkaitan dengan regulasi," ujar Asep dalam acara Water Break PSSI Pers, Senin (31/8).
Ia mengakui bahwa musim ini merupakan fase ekspansi, terutama dalam hal perizinan. Saat ini, seluruh kontestan Super League 2026/2027 sudah mengantongi lisensi untuk tampil di kasta tertinggi. Sebagian tim dari divisi Championship juga sudah memiliki lisensi strata di atasnya.
Yang menarik, jumlah aspek penilaian lisensi bakal bertambah. "Ada lima aspek dalam lisensi klub dan musim depan akan ditambah dua lagi sehingga jadi tujuh aspek," kata Asep. Artinya, klub tidak cukup bermodal skuat mewah di atas kertas, tetapi juga wajib memenuhi standar administrasi, infrastruktur, hingga tata kelola yang lebih ketat.
Kontrak Multi-Tahun Jadi Bukti Stabilitas
Di sisi komersial, perubahan ini mulai terasa dampaknya. Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa, mengungkapkan bahwa kepastian jadwal mengubah cara klub dan pelaku industri berinvestasi. Fenomena yang paling terlihat adalah keberanian klub mengikat pemain dengan kontrak jangka panjang.
"Dulu, lihat jadwal saja sudah bersyukur. Dulu, bagaimana mau bikin proyeksi kalau jadwal juga enggak pasti. Dulu, enggak berani kontrak pemain tiga sampai empat tahun. Sekarang sudah mulai berani," jelas Sadikin.
Ia menambahkan bahwa siklus ini saling berkaitan. Dengan jadwal yang pasti, sponsor lebih percaya diri menanamkan modal. Dengan pendanaan yang stabil, kualitas pertandingan meningkat, dan publik kembali melirik stadion maupun layar kaca.
Menciptakan Ekosistem, Bukan Sekadar Kompetisi
"Sepak bola adalah tontonan, tapi kalau tidak bagus tontonannya, orang enggak mau lihat. Sekarang satu atau dua tahun terakhir sedang meningkat," kata Sadikin menegaskan.
I.League menegaskan posisinya sebagai pembuat ekosistem, sementara klub cukup fokus pada performa. "Kami belajar dari sebelumnya soal perubahan untuk meningkatkan kualitasnya. Di musim baru ini, soal lisensi klub misalnya, harus jelas tolok ukurnya," pungkas Asep.
Dengan target tujuh aspek lisensi dan jadwal yang lebih rapi, operator berharap kasta tertinggi sepak bola Indonesia tidak lagi sekadar kompetisi musiman, melainkan mesin produksi talenta yang disegani di pentas internasional.