LITERASIKEUANGAN.COM — Keputusan boikot ini menyusul penetapan harga tiket kategori 2 tier 1 sebesar Rp 150 ribu dan kategori 2 tier 2 Rp 130 ribu yang dijual khusus untuk The Jakmania. Angka tersebut dianggap memberatkan, sehingga suporter memilih menarik dukungannya pada acara yang seharusnya menjadi ajang unjuk kekuatan tim sebelum kompetisi dimulai.
Reaksi Shin Tae-yong: Klub Butuh Suporter untuk Bertahan
Pelatih Persija, Shin Tae-yong, mengaku baru mendengar kabar boikot tersebut. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan di balik sikap The Jakmania, namun menegaskan bahwa keberadaan suporter adalah nyawa bagi sebuah klub.
"Para penggemar Jakmania selalu datang dan mendukung kami karena mereka ingin tim Jakarta ini berkembang dengan baik," ujarnya di JIS, Jumat (28/8).
Pelatih asal Korea Selatan itu menambahkan bahwa hubungan baik dengan suporter adalah fondasi utama. "Saya selalu berpikir bahwa sebuah klub sepakbola bisa bertahan selamanya karena memiliki suporter, jadi saya berharap hubungan dengan para suporter bisa dibangun dengan baik," tambahnya.
Sikap Resmi Klub: Ambil Alih Distribusi Tiket
Menanggapi protes yang dilayangkan The Jakmania, manajemen Persija langsung bergerak dengan mengambil alih penjualan tiket yang sebelumnya dialokasikan kepada suporter. Langkah ini diambil sebagai respons cepat atas penolakan harga tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Persija menegaskan menghormati sikap dan keputusan The Jakmania terkait pertandingan melawan Brisbane Roar. "Persija menghormati sikap dan keputusan the Jakmania terkait pertandingan Persija vs Brisbane Roar pada 29 Agustus 2026," bunyi pernyataan klub.
Dengan pengambilalihan ini, klub berharap akses tiket menjadi lebih luas bagi pendukung lain yang ingin hadir langsung memberikan dukungan di JIS. Langkah ini sekaligus menjadi ujian bagi manajemen untuk menjembatani komunikasi dengan basis suporter terbesar mereka di tengah situasi yang kurang kondusif jelang laga uji coba.