JAKARTA - Arsitektur Indonesia sedang bergerak cepat. Kota tumbuh, kebutuhan masyarakat berubah, dan teknologi membuka banyak kemungkinan baru. Namun, perkembangan arsitektur tidak cukup hanya dengan membangun lebih banyak atau membuat bangunan yang terlihat menarik.
Di sinilah peran industri menjadi penting. Bukan hanya sebagai penyedia produk, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang ikut mendorong lahirnya ide dan inovasi. LIXIL perusahaan global pelopor solusi air dan hunian berkelanjutan menyadari hal itu.
Perusahaan yang menaungi merek American Standard, GROHE, INAX, dan TOSTEM ini tak hanya menghadirkan solusi untuk kamar mandi, sanitasi, pintu dan kebutuhan hunian lainnya, tapi berkontribusi terhadap dunia arsitektur tidak berhenti pada produk.
LIXIL membuka ruang bagi para arsitek dan desainer untuk berpikir lebih jauh. Hal itu diwujudkan lewat ajang LIXIL Day of Architecture & Design (LDAD) yang sukses digelar pada 12 Agustus 2026.
Ajang tersebut mempertemukan arsitek dan praktisi desain dari Indonesia dan mancanegara dengan pelaku serta profesional di industri, untuk mengeksplorasi bagaimana kolaborasi lintas perspektif dapat membentuk masa depan arsitektur dan kualitas ruang hidup yang lebih baik.
“LDAD merupakan kontribusi LIXIL bagi komunitas arsitektur dan desain Indonesia. Kami melihat antusiasme yang luar biasa, di mana jumlah registrasi tahun ini bahkan melampaui kapasitas yang tersedia,” ujar Audrey Yeo, Leader LIXIL Water Technology APAC dalam keterangannya, Sabtu (15/8/2026).
Sementara dalam sesi diskusi LDAD, Richard Wood, Managing Director Asia Snøhetta, menekankan bahwa arsitektur bukan sekadar membangun gedung, tetapi menciptakan ruang yang memberi manfaat dan membuka peluang bagi masyarakat.
Ia bilang, warisan positif dapat lahir dengan memberdayakan keterampilan dan potensi lokal. Richard juga memperkenalkan konsep “ecotone”, yaitu ruang pertemuan berbagai hal yang berbeda.
Dalam arsitektur, konsep ini menggambarkan bagaimana pertemuan manusia, perspektif, dan keahlian dapat melahirkan ide serta ruang baru yang lebih kaya melalui proses kolaboratif. Pandangan soal pentingnya memahami konteks diperkuat Gregorius Supie, Principal Yolodi+Maria Architects.
Menurutnya, bentuk arsitektur tidak harus ditentukan sejak awal, tetapi dapat lahir dari proses mengamati dan memahami lingkungan.
Karena itu, desain perlu mempertimbangkan kondisi alam, kebutuhan masyarakat, budaya, material, dan iklim setempat. Andra Matin, Principal andramatin studio, menunjukkan bagaimana tradisi dan material lokal dapat diterapkan dalam arsitektur kontemporer.
Ventilasi alami, naungan, lanskap, dan ruang sosial menjadi bagian dari desain untuk menciptakan bangunan yang berkarakter sekaligus nyaman dan sesuai dengan iklim tropis.
Sementara Patrik Schumacher, Principal ZHA, menyoroti peran teknologi dalam mengubah proses desain. Metaverse, virtual reality (VR), dan gaming engines memungkinkan arsitek menguji dan mengembangkan ruang secara virtual sebelum dibangun.
Teknologi ini membantu menghasilkan desain yang lebih tepat sekaligus mengurangi risiko biaya dan kesalahan dalam proses pembangunan.
“Meski membawa perspektif berbeda, para pembicara menunjukkan bahwa arsitektur tidak lahir dari satu pendekatan. Dialog, pemahaman, dan kolaborasi menjadi kunci untuk menghasilkan arsitektur yang relevan, solutif, dan berkelanjutan,” ujar Arfindi Batubara, Marketing Director LIXIL Water Technology Indonesia.
LDAD 2026 ditutup dengan puncak acara berupa penghargaan LIXIL Architectural Design Competition (LADC) 2026, yang digelar LIXIL Water Technology Indonesia bersama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).
Kompetisi ini menjadi wadah bagi arsitek profesional dan talenta muda untuk menawarkan solusi desain atas berbagai persoalan tata ruang. Juara I Professional Category diraih karya Pagar Laut: “Reclaiming Our Coastline” karya Ar. Iqbal Nurhidayat, Fahry Triza Nugraha, dan Imam Darmawan Putra.
Sementara Student Category dimenangkan ei peowu: “Catalyzing Resilience Across Sabu Raijua” karya Melvino Anindra Bagaswara, Bayu Putra Setiawan, dan Muhammad Fathur Rahman.