Warga NTT Diminta Waspada Gempa Susulan dan Patuhi Jalur Evakuasi

Warga NTT Diminta Waspada Gempa Susulan dan Patuhi Jalur Evakuasi
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria. (Foto: NET)

JAKARTA - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ingatkan warga untuk mematuhi jalur evakuasi menyusul gempa yang mengguncang Nusa tenggara timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pagi. 

Adapun gempa dirasakan di NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, hingga Sulawesi Selatan. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria meminta masyarakat tetap tenang dan waspada, mengikuti arahan BPBD setempat, memeriksa kondisi bangunan, serta mematuhi rambu dan jalur evakuasi. 

Masyarakat juga diminta untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait gempa bumi dan tsunami. Kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan tetap perlu dijaga. 

Sementara, warga diimbau menghindari area tebing yang berpotensi mengalami pergerakan tanah, terutama saat kondisi hujan.

Lana menjelaskan, lokasi episenter berada di laut. Daerah terdekat memiliki morfologi yang beragam, mulai dari dataran, berombak, bergelombang, perbukitan, hingga pegunungan. 

Wilayah tersebut tersusun atas batuan gunung api berumur Tersier serta batuan sedimen berumur Kuarter. Kondisi geologi itu menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memahami kuatnya guncangan di permukaan.

Lana menyebut, batuan yang telah mengalami pelapukan maupun sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi. 

Berdasarkan data tapak lokal Vs30, daerah sekitar episentrum terklasifikasi dalam Kelas Tanah C (tanah sangat padat/batuan lunak), Kelas Tanah D (tanah sedang), dan Kelas Tanah E (tanah lunak).

"Keberadaan kelas tanah yang lebih lunak ini berarti potensi guncangan gempa bumi di area tersebut terasa lebih intens," ujar Lana melalui keterangan resmi.

Berdasarkan parameter sumber, gempa tersebut memiliki mekanisme sesar naik yang berasosiasi dengan Zona Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust. Badan Geologi menyatakan daerah tersebut berada dalam Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi Menengah hingga Tinggi. 

Gempa bumi terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58.23 WIB. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episentrum berada pada koordinat 8,33 LS-121,32 BT di Timur Laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, dengan magnitudo awal M7,0 dan kedalaman 10 kilometer. 

Data GeoForschungsZentrum (GFZ) mencatat episentrum pada koordinat 8,375 LS-121,545 BT dengan magnitudo M6,25 pada kedalaman 10 kilometer. 

Parameter gempa kemudian diperbarui menjadi M7,7 dengan kedalaman 15 kilometer. Berdasarkan informasi BMKG, intensitas guncangan tercatat IV-V MMI di Ruteng, V MMI di Kota Bima dan Kabupaten Dompu, serta IV-V MMI di Ende, Labuan Bajo, Maumere, dan Sumba Timur.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index