Cegah Kerugian, 380 Ribu Ton Beras Bulog Dilelang Jadi Tepung

Selasa, 08 September 2026 | 03:16:32 WIB
Pekerja menggendong karung beras di Gudang Bulog [FOTO: NET].

JAKARTA - Perum Bulog merancang opsi hilirisasi atas kisaran 380.000 ton beras yang mengalami penurunan mutu pascadisimpan lebih dari 10 bulan guna dikonversi menjadi tepung beras, sebagai upaya mengantisipasi kerusakan stok yang berpotensi memicu kerugian keuangan negara.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan bahwa pengalihan pemanfaatan beras yang turun kualitasnya tersebut sebagai pasokan bahan baku industri tepung beras telah mengantongi izin. Kebijakan ini sekaligus diproyeksikan dapat menekan ketergantungan impor beras pecah sebagai bahan baku industri.

“Yang disetujui hanya pengalihan beras turun mutu yang 380.000 ton itu dijadikan beras hilirisasi yaitu menjadi tepung beras,” kata Rizal saat ditemui di Kantor Perum Bulog, Jakarta Selatan, Senin (7/9/2026).

Rizal menerangkan, dalam mekanisme tersebut peran Bulog terbatas pada penyedia bahan baku. Komoditas beras yang dipakai merupakan cadangan berusia simpan di atas 10 bulan yang dinilai laik diolah menjadi tepung beras berkat pemenuhan kualifikasi kadar amilosa.

Melalui skema ini, komoditas beras yang kualitasnya mulai melandai tidak perlu berakhir sebagai pasokan terbuang atau membusuk. Sebaliknya, komoditas tersebut dapat diserap kembali ke dalam siklus rantai produksi pangan via industri tepung beras.

Lebih rinci, Rizal membeberkan bahwa posisi cadangan beras yang dikuasai Bulog saat ini berada di kisaran 4,8 juta ton. Usai dikurangi 380.000 ton yang dialokasikan untuk hilirisasi, volume stok diprediksi berkisar pada angka 4,5 juta ton.

“Sekarang 4,8 [juta ton] hari ini. Nanti kalau dikurangi 380.000 ton berarti 4,5 [juta ton]. Nanti dikurangi lagi beras 1 juta [ton tambahan SPHP] berarti 3,5 [juta ton],” terangnya.

Berdasarkan pandangannya, dinamika penurunan mutu beras bakal tetap terjadi selaras dengan rentang masa penyimpanan di gudang. Oleh sebab itu, skema hilirisasi hadir sebagai jalan keluar guna mengantisipasi penumpukan stok yang memasuki durasi simpan panjang.

“Ya namanya disimpan kan pasti bertahap. Ada. Nanti kan untuk proses tahun depannya lagi,” ujarnya.

Rizal turut menggarisbawahi bahwa komoditas beras yang kembali mengalami penurunan kualitas di masa depan diharapkan sanggup dialihkan pula untuk kebutuhan pasokan tepung beras.

“Harapannya seperti itu [hilirisasi menjadi tepung beras]. Karena daripada berasnya rusak, jadi kerugian negara lebih bagus dialihkan menjadi tepung beras,” imbuhnya.

Nantinya, pihak Bulog sekadar menyiapkan bahan baku beras yang memenuhi kriteria, yang mana komoditas tersebut bakal dilelang melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) berpatokan pada batas harga minimum Rp11.000 per kilogram.

Rizal menyebutkan bahwa mekanisme ini tak terbatas disasar untuk korporasi besar semata. Pelaku UMKM turut diberikan kesempatan menjadi pembeli selama memiliki sarana produksi yang memadai untuk pengolahan tepung beras.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengutarakan bahwa volume beras yang berada dalam penguasaan Bulog menembus rekor tertinggi dalam kurun 2 tahun terakhir. Kondisi ini memicu sebagian cadangan mengalami penurunan mutu sehingga dapat dimaksimalkan sebagai pasokan industri tepung.

“Kebutuhan tepung itu sebetulnya dari beras pecah. Nah, karena kami 2 tahun stok kami ini kan paling tinggi, belum pernah Bulog punya stok setinggi ini. Tahun lalu 5 juta [ton] lebih, tahun ini 5 juta [ton] lebih ya. Tentu ada yang karena sudah 2 tahun, tentu ada yang kurang mutu. Nah, yang kurang mutu itu kira-kira 300.000 [380.000 ton] ini kami tadi boleh dilelang minimal harganya Rp11.000 [per kilogram],” terang Zulhas dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2026).

Pasokan beras dengan kualifikasi yang melandai ini bakal dilepas via lelang memakai harga dasar Rp11.000 per kilogram. Nominal ini terhitung lebih rendah jika dibandingkan dengan beras SPHP yang dipatok di kisaran Rp12.000 per kilogram.

“Dilelang, tadi sudah kami putuskan ya, dilelang tapi minimal Rp11.000. SPHP kan Rp12.000 jadi beda Rp1.000 aja. Boleh dilelang Rp11.000 itu yang mutunya turun itu nanti bisa dibeli oleh pabrik-pabrik tepung itu, pengusaha tepung itu untuk dijadikan tepung sehingga harga tepung yang naik juga bisa turun,” tandasnya.

Terkini