Stok Bulog Turun Mutu Dialihkan Jadi Bahan Baku Industri Tepung

Senin, 07 September 2026 | 04:05:01 WIB
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas). (Foto: NET)

JAKARTA — Pemerintah resmi mengalihkan sekitar 380.000 ton persediaan beras Perum Bulog yang mengalami penurunan mutu untuk mencukupi pasokan bahan baku industri tepung beras. 

Komoditas tersebut akan dijual lewat mekanisme lelang dengan batas harga terendah Rp11.000 per kilogram, seiring langkah pemerintah yang menyetop keran impor beras pecah.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menyebutkan bahwa aturan itu diambil karena volume cadangan beras Bulog dalam kurun dua tahun terakhir berada di posisi tinggi. 

Situasi tersebut mengakibatkan sebagian simpanan yang tersimpan cukup lama mengalami penurunan kualitas. Menurutnya, beras dengan kualitas menurun tersebut masih layak difungsikan sebagai bahan baku sektor industri tepung beras.

“Kebutuhan tepung itu sebetulnya dari beras pecah. Nah karena kami dua tahun kami ini kan paling tinggi, belum pernah Bulog punya stok setinggi ini. Tahun lalu 5 juta [ton] lebih, tahun ini 5 juta [ton] lebih ya. Tentu ada yang karena sudah dua tahun, tentu ada yang kurang mutu. Nah yang kurang mutu itu kira-kira 300.000 [380.000 ton] ini kami tadi boleh dilelang minimal harganya Rp11.000 [per kilogram],” ujar Zulhas saat konferensi pers di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2026).

Zulhas memaparkan bahwa patokan harga terendah itu lebih murah apabila dikomparasikan dengan harga beras SPHP yang berada di kisaran Rp12.000 per kilogram. Melalui tarif tersebut, beras yang mengalami penurunan mutu diharapkan mampu terserap oleh sektor pengolahan tepung.

“Dilelang, tadi sudah kami putuskan ya, dilelang tapi minimal Rp11.000. SPHP kan Rp12.000 jadi beda Rp1.000 aja. Boleh dilelang Rp11.000 itu yang mutunya turun itu nanti bisa dibeli oleh pabrik-pabrik tepung itu, pengusaha tepung itu untuk dijadikan tepung sehingga harga tepung yang naik juga bisa turun,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan bahwa peralihan persediaan tersebut menjadi bagian dari program hilirisasi beras untuk memenuhi permintaan industri pengolahan tepung nasional. Keputusan ini dijalankan pula pasca pemerintah menghentikan impor beras pecah.

“Alhamdulillah saat ini sudah tidak ada impor lagi beras pecah dan lain sebagainya, maka dengan stok Bulog yang banyak dan adanya beras-beras Bulog yang turun mutu di mana ketentuan dari tepung beras itu usia simpannya minimal di atas 10 bulan,” tutur Rizal.

Rizal menguraikan bahwa beras yang dipakai sebagai komponen dasar tepung wajib mempunyai masa simpan setidaknya 10 bulan. Menurutnya, komoditas beras yang telah ditimbun selama 12 bulan bahkan dinilai sanggup memberikan hasil tepung beras yang lebih pas dengan spesifikasi pabrikan.

“Kalau umurnya harus di atas 10 bulan bahkan 12 bulan itu baru bisa diolah menjadi tepung beras yang baik,” sambungnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa Bulog memegang sekitar 380.000 ton beras yang bakal dialokasikan bagi kebutuhan pabrik tepung lewat jalur pelelangan. Persediaan itu nantinya bakal dilepas melalui perantara Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) berpatokan pada harga terendah Rp11.000 per kilogram.

“Di KPKNL dengan harga minimal Rp11.000 [per kilogram] yang dilepas dari pemerintah. Nanti hasil lelang siapa pemenang lelang itu yang bisa memenangkan hasil lelangnya,” tutupnya.

Terkini