Pergerakan IHSG Hari Ini serta Saham-Saham Pilihan

Jumat, 04 September 2026 | 23:01:31 WIB
Pengunjung melihat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) [FOTO: NET].

JAKARTA - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis (3/9/2026) di zona hijau. Kenaikan indeks komposit ini didorong oleh performa saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BYAN, hingga ASII yang kompak menguat.

Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG mencatatkan kenaikan 1,09% atau bertambah 72,11 poin ke level 6.667,89. Pada penutupan tersebut, sebanyak 415 saham mengalami kenaikan, 228 saham melemah, dan 320 saham tidak mengalami perubahan harga.

Sejumlah saham big caps yang menguat di antaranya BBCA naik 1,50% ke Rp6.775, BBRI menguat 0,59% ke Rp3.410, DCII terangkat 0,47% ke Rp201.000, dan BYAN melesat 0,91% ke Rp13.825.

Selanjutnya, saham BREN terangkat 0,30% ke Rp3.360, BMRI menguat 2,29% ke Rp4.460, AMMN naik 3,75% ke Rp4.430, TLKM terkerek 0,39% ke Rp2.600, DSSA menguat 1,72% ke Rp1.185, serta ASII menanjak 4,34% ke level Rp5.050.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, menyampaikan bahwa pergerakan IHSG dipengaruhi oleh perpaduan faktor internal dan eksternal. Dari dalam negeri, tingkat inflasi Agustus 2026 yang terjaga sesuai target serta surplus neraca perdagangan menjadi penopang bagi IHSG.

Namun, potensi risiko dari luar negeri masih tergolong kuat, khususnya memanasnya konflik AS-Iran serta ketegangan di Selat Hormuz yang dapat menahan harga minyak tetap tinggi.

"Kondisi tersebut dapat kembali memicu kekhawatiran inflasi global dan membuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama," kata Nafan.

Di samping itu, para pelaku pasar domestik juga memantau rilis data nonfarm payrolls AS pada Jumat (4/9) serta data inflasi AS pekan depan. Kedua indikator tersebut sangat krusial dalam menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed sekaligus tingkat volatilitas IHSG dalam jangka pendek.

Proyeksi IHSG Menurut JP Morgan

JP Morgan Sekuritas Indonesia memproyeksikan IHSG akan berada di posisi 7.000 pada akhir tahun 2026. Target ini disesuaikan turun dari estimasi awal tahun yang sempat membidik level 10.000.

Head of Indonesia Equity Research JP Morgan Indonesia, Benny Kurniawan, mengungkapkan masih ada beberapa tantangan bagi pasar modal tanah air, terutama bersumber dari tingkat suku bunga, tren kenaikan harga minyak, serta potensi lonjakan harga pangan dalam beberapa bulan mendatang.

“Tetapi dengan postur APBN yang kami lihat, kami rasa perekonomian akan cukup stabil. Tim JP Morgan masih mengekspektasikan IHSG di Desember pada level 7.000,” ucap Benny, dalam Media Briefing JP Morgan di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Benny memaparkan bahwa sejak awal tahun IHSG telah terkoreksi 23%, yang mana penekannya mayoritas berasal dari dinamika eksternal. Beberapa di antaranya mencakup melesatnya harga minyak, suku bunga yang bertahan tinggi, serta naiknya imbal hasil obligasi di negara maju yang mengikis daya pikat pasar modal Indonesia.

Ditambah lagi, pengumuman dari MSCI pada Februari lalu memicu arus modal keluar (equity outflow) sebesar US$4 miliar hingga US$5 miliar sepanjang tahun ini.

Benny juga menyebutkan fokus perhatian investor global tahun ini terancam oleh fenomena El-Nino.

“El Nino itu secara historis tidak baik untuk produksi makanan di Indonesia dan di negara-negara dekat kami, especially beras, gula, kopi, lalu juga gandum. Kami adalah salah satu negara pengimport gandum yang paling besar di dunia ini dan harga gandum sebenarnya sudah naik cukup banyak,” kata Benny.

Meskipun demikian, JP Morgan menilai penyerapan anggaran pemerintah (government spending) menjadi pendorong kuat bagi sejumlah sektor di bursa. Sebagai contoh, emiten sektor barang konsumsi (consumer) di Indonesia mampu mencatatkan pertumbuhan rata-rata dua digit pada semester pertama tahun ini.

JP Morgan tetap memprediksi adanya ruang kenaikan bagi IHSG hingga penghujung tahun, disokong oleh sentimen yang lebih positif serta posisi portofolio investor domestik maupun asing yang tergolong masih cukup rendah.

“Seperti yang kami tahu asing sudah jualan dan kalau kami lihat fund fact sheet dari reksadana-reksadana ekuitas di Indonesia, sebenarnya cash level mereka pun juga cukup tinggi. Jadinya ada banyak amunisi untuk beli di market kami tahun ini,” tuturnya.

CEO and Senior Country Officer JP Morgan Indonesia, Gioshia Ralie, menambahkan bahwa capaian pertumbuhan PDB Indonesia pada kuartal I/2026 dan kuartal II/2026 memberikan sinyal positif. Angka pertumbuhan tersebut melampaui perkiraan banyak analis.

“Jadi sentimen positif itu akan memberikan satu boost ke market untuk bisa berpikir lebih dan spend more,” tutur Gioshia.

Data Tenaga Kerja AS Sebagai Katalis IHSG

Arah kebijakan moneter The Fed menjadi salah satu pendorong utama yang menentukan pergerakan IHSG dalam jangka pendek, seiring perhatian investor yang tertuju pada data tenaga kerja AS per Jumat (4/9/2026).

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menyebutkan bahwa data nonfarm payrolls (NFP) dan angka pengangguran AS periode Agustus memegang peranan penting terhadap ekspektasi pasar atas arah suku bunga The Fed. Data ketenagakerjaan yang melamah dapat memperbesar peluang pelonggaran moneter, sedangkan data yang kuat justru berisiko membuat bank sentral AS mempertahankan kebijakan ketat (hawkish).

“Data tersebut menjadi penting bagi ekspektasi arah kebijakan The Fed; data tenaga kerja yang lebih lemah dapat meningkatkan ekspektasi pelonggaran, sementara data yang solid berpotensi mempertahankan stance hawkish,” ujar Reza dalam risetnya, Jumat (4/9/2026).

Proyeksi atas suku bunga The Fed ini dicermati pasar karena berimbas pada aliran dana global serta preferensi terhadap aset berisiko, termasuk bursa saham Indonesia. Usai terpengaruh katalis AS tersebut, investor akan kembali menguji kekuatan teknikal IHSG dalam menjaga tren penguatannya.

Dinamika Perdagangan IHSG Hari Ini (Jumat, 4/9/2026)

09:03 WIB - IHSG Dibuka Menguat: IHSG mengawali perdagangan dengan menguat 0,43% atau 27,34 poin ke posisi 6.695.

09:27 WIB - Indeks Bisnis-27 Hijau: Indeks Bisnis-27 dibuka naik ke level 461,53 (terangkat 0,48%). Saham BUMI, BRMS, dan KLBF mencatatkan penguatan. Sementara itu, IHSG berada di level 6.696,17 dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp11.714 triliun.

11:32 WIB - Sesi I Berbalik Melemah: IHSG berbalik turun 0,11% (7,1 poin) ke posisi 6.660,79 pada penutupan Sesi I. Nilai transaksi tercatat Rp8,254 triliun dengan volume 21 miliar saham.

16:22 WIB - IHSG Resmi Ditutup Melemah: IHSG mengakhiri perdagangan dengan melemah 0,47% atau 31,41 poin ke level 6.636,47. Meski indeks terkoreksi, beberapa saham masih menguat seperti CUAN (+3,30% ke Rp940), BUMI (+1,94% ke Rp210), MEDC (+0,67% ke Rp1.495), TLKM/TPIA (+0,38% ke Rp2.610), dan DCII (+0,10% ke Rp201.200). Total kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp11.624,51 triliun.

Terkini