Pendiri Linqto Didakwa Tipu Investor Saham Pra-IPO, Modus Ciptakan Kelangkaan Palsu

Jumat, 04 September 2026 | 03:07:00 WIB

LITERASIKEUANGAN.COM — Dakwaan ini sekaligus menjadi sinyal peringatan bagi investor ritel yang berbondong-bondong memburu saham perusahaan rintisan sebelum melantai di bursa. Jaksa federal AS menyebut praktik Sarris menipu puluhan ribu investor yang menanamkan modal melalui platformnya.

Berdasarkan laporan The Wall Street Journal, Selasa (2/9/2026), Sarris sengaja memanipulasi persepsi pasar atas saham perusahaan swasta yang diperdagangkan di platformnya. Markup harga yang tidak wajar ini diduga dilakukan untuk mendongkrak pendapatan perusahaan.

Modus Sarris: Ciptakan Kesan Kelangkaan Saham

Skema yang dituduhkan jaksa berpusat pada upaya Sarris membangun ilusi tingginya permintaan atas saham perusahaan privat. Dengan membatasi informasi dan menciptakan kesan pasokan terbatas, harga jual saham bisa dinaikkan secara artifisial.

Praktik ini dijalankan bahkan setelah tim pengacara internal Linqto memberikan peringatan tertulis bahwa kebijakan markup harga tersebut berpotensi melanggar hukum sekuritas. Sarris tetap melanjutkan strategi tersebut demi mengejar pertumbuhan pendapatan yang agresif.

Empat Dakwaan Berat dan Pengakuan Bersalah Eksekutif Lain

Sarris kini menghadapi empat dakwaan serius yang disiapkan jaksa federal. Rincian dakwaan tersebut meliputi penipuan sekuritas, penipuan broker-dealer, penipuan transaksi keuangan (wire fraud), dan konspirasi.

Kuasa hukum Sarris membantah seluruh tuduhan tersebut. Mereka menyatakan kliennya akan melawan proses hukum yang berjalan dan yakin akan terbukti tidak bersalah di pengadilan.

Kasus ini semakin kompleks setelah Joseph Endoso, mantan eksekutif Linqto lainnya, mengaku bersalah atas keterlibatannya dalam skema penipuan tersebut. Endoso kini disebut aktif bekerja sama dengan aparat penegak hukum dalam penyelidikan yang lebih luas.

Nasib Investor dan Pengawasan Regulator Semakin Ketat

Kasus hukum ini turut memperkuat kekhawatiran yang sudah lama bergulir soal risiko investasi di pasar saham perusahaan swasta. Likuiditas yang rendah dan keterbatasan informasi menjadi celah utama praktik manipulasi harga di segmen ini.

Securities and Exchange Commission (SEC) hingga kini tengah meminta bukti kepada sejumlah manajer investasi teregistrasi terkait klaim kepemilikan saham pra-IPO dalam produk mereka. Regulator ingin memastikan tidak ada praktik serupa yang merugikan investor ritel di pasar yang lebih luas.

Salah satu dana investasi bahkan sempat mempromosikan eksposur ke saham SpaceX sebagai daya tarik utama. Namun, belakangan dana tersebut mengungkapkan kepada investornya bahwa saham itu telah dijual sebelum SpaceX resmi melantai di bursa, sehingga membatasi potensi keuntungan investor.

Sejak Januari 2025, manajemen Linqto telah berganti dan mulai bekerja sama dengan penyelidikan SEC. Departemen Kehakiman AS juga membuka penyelidikan pidana terpisah pada awal 2025. Tak lama berselang, Linqto mengajukan perlindungan kepailitan untuk mengamankan aset nasabah di tengah ketidakjelasan status kepemilikan saham para investornya.

Isu taktik agresif penjualan saham pra-IPO oleh Sarris sendiri sebenarnya sudah mencuat sejak musim panas tahun lalu, bersamaan dengan dimulainya penyelidikan oleh SEC dan Departemen Kehakiman AS terhadap Linqto.

Terkini