Kadin Soroti Posisi Global Sawit RI Usai Ekspor Tembus US$20 M

Rabu, 26 Agustus 2026 | 03:25:31 WIB
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin. (Foto: NET)

JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong pembentukan aliansi yang lebih erat dengan negara-negara penghasil kelapa sawit demi mengatrol posisi tawar Indonesia di kancah internasional. 

Langkah ini dipandang krusial guna mengamankan jalur perdagangan serta mengatasi berbagai hambatan dagang yang masih membayangi komoditas unggulan tersebut.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin mengemukakan bahwa kelapa sawit merupakan komoditas strategis yang menyumbang devisa yang masif bagi tanah air. 

“Indonesia perlu membangun aliansi dengan negara produsen lain guna memperkuat posisi tawar, menjaga akses pasar, menghadapi hambatan perdagangan, dan menjaga stabilitas pasar sawit global,” katanya di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Menurut Saleh, penguatan sinergi tersebut dapat diwujudkan lewat optimalisasi peran Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC). Lembaga ini diandalkan sebagai wadah bagi negara-negara produsen untuk menyuarakan aspirasi bersama sekaligus mendongkrak posisi tawar sawit dalam perdagangan lintas negara.

Saleh berharap optimalisasi peran CPOPC mampu menelurkan agenda kolektif, mulai dari diplomasi dagang, penerapan prinsip keberlanjutan, kampanye positif, perluasan pasar, hingga riset dan inovasi. 

“Ini penting karena ekspor sawit Indonesia bernilai lebih dari US$20 miliar per tahun dan memiliki kontribusi signifikan terhadap devisa nasional,” ujarnya.

Ia menilai pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) telah cukup maksimal dalam merajut kerja sama global dengan negara-negara produsen. 

Kendati demikian, Saleh tetap mendorong BPDP agar lebih proaktif berfungsi sebagai katalisator kolaborasi internasional. Sumber daya dari sektor sawit diyakini mampu mendongkrak agenda strategis Indonesia di pasar global. 

“Dengan demikian, Indonesia bisa memperkuat posisi tawar dalam tata kelola sawit global dan mengamankan sumber devisa nasional dalam jangka panjang,” sebutnya.

Di sisi lain, Wakil Sekretaris Jenderal CPOPC Musdhalifah Machmud memaparkan bahwa pihaknya konsisten menggenjot advokasi sektor sawit secara global, termasuk menyuarakan isu-isu krusial yang menyangkut nasib petani dan pelaku industri. 

CPOPC juga mematok target kepastian akses pasar bagi negara anggota serta mendongkrak citra positif komoditas sawit di mata dunia.

Upaya tersebut dijalankan lewat berbagai ragam kerja sama serta forum diskusi tingkat tinggi yang merangkul pemerintah, institusi, hingga elemen lintas sektor. 

“Selain itu, CPOPC terus mengadvokasikan terimplementasinya sistem keberlanjutan di taraf internasional baik untuk mendorong negara produsen sawit maupun meningkatkan keberterimaan negara konsumen terhadap standar keberlanjutan yang sudah diimplementasikan di negara-negara produsen sawit,” ujarnya.

Di samping diplomasi dan perluasan pasar, CPOPC giat mengampanyekan manfaat kelapa sawit berbasis sains, fakta, dan data yang akurat. 

Musdhalifah menambahkan, pihaknya juga merangkul keterlibatan generasi muda untuk memperkuat narasi positif industri sawit, salah satunya lewat program Young Elaeis Ambassadors yang telah menggandeng 23 anak muda dari berbagai negara produsen maupun konsumen sejak 2023. 

“CPOPC menyadari bahwa anak muda saat ini memiliki pengaruh kuat melalui media sosial. Anak muda juga memiliki ketertarikan tinggi mengenai isu-isu sosial dan progresif, termasuk dalam hal lingkungan hidup,” pungkasnya.

Terkini