BI Catat Utang Luar Negeri Indonesia Capai US$ 454,8 Miliar pada Juli

BI Catat Utang Luar Negeri Indonesia Capai US$ 454,8 Miliar pada Juli
Ilustrasi Suasana transaksi Surat Berharga Negara (SBN) di Treasury BSI [FOTO: NET].

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat total posisi nominal Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia per periode bulan Juli 2026 telah berada di kisaran angka sebesar US$ 454,8 miliar. Posisi tersebut terpantau berada dalam kondisi yang relatif stabil apabila dikomparasikan dengan catatan posisi pada bulan sebelumnya yang menyentuh angka US$ 454,5 miliar.

Meskipun secara pergerakan bulanan hanya menunjukkan kenaikan tipis, laju pertumbuhan ULN Indonesia secara tahunan tercatat mendaki sebesar 4,9% (yoy). Lonjakan pertumbuhan tersebut utamanya dipicu oleh adanya peningkatan tren ULN sektor publik, sementara di sisi lain performa ULN sektor swasta masih menunjukkan tren kontraksi.

"Posisi ULN Indonesia pada Juli 2026 tercatat sebesar 454,8 miliar dolar AS, relatif stabil dibandingkan dengan posisi pada Juni 2026 sebesar 454,5 miliar dolar AS. Secara tahunan, ULN Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 4,9 % (yoy)," ujar Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, Selasa (15/9/2026).

Pihak Bank Indonesia merinci lebih lanjut bahwa posisi khusus instrumen ULN pemerintah pada Juli 2026 tercatat bertengger di angka US$ 218,4 miliar, yang mana nominal tersebut merefleksikan tingkat pertumbuhan sebesar 3,2% secara tahunan. 

Menurut penjelasan Denny, eskalasi peningkatan ULN pemerintah ini utamanya digerakkan oleh derasnya arus masuk modal asing pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) internasional.

"Ini yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia tetap terjaga," lanjut Denny.

Pemerintah juga ditegaskan senantiasa memegang komitmen penuh untuk menjaga kredibilitas fiskal negara melalui pemenuhan kewajiban pelunasan pembayaran pokok serta beban bunga utang secara tepat waktu, di samping mengelola instrumen ULN dengan prinsip kehati-hatian (prudent), terukur, serta fleksibel demi mewujudkan struktur pembiayaan pembangunan yang efisien dan optimal.

Berfungsi sebagai salah satu instrumen penopang pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), alokasi pemanfaatan ULN pemerintah diarahkan secara spesifik untuk membiayai sektor-sektor produktif, dengan tetap mengedepankan aspek keharusan menjaga kesinambungan beban utang jangka panjang.

Ditinjau berdasarkan kelompok sektor bidang ekonominya, porsi alokasi ULN pemerintah sebagian besar dialirkan guna menopang sektor jasa kesehatan serta kegiatan sosial dengan penguasaan pangsa mencapai 22,0% dari total keseluruhan ULN pemerintah.

Sementara itu, sisa alokasi sektor lainnya mencakup bidang administrasi pemerintahan, sektor pertahanan, serta jaminan sosial wajib dengan porsi sebesar 20,7%, sektor jasa bidang pendidikan sebesar 16,2%, sektor konstruksi sebesar 11,5%, serta sektor transportasi dan pergudangan menyumbang sebesar 8,5%.

Posisi keseluruhan struktur ULN pemerintah tersebut dinilai berada dalam koridor level yang relatif aman dan terkendali, mengingat hampir secara keseluruhan instrumennya didominasi oleh skema produk utang berjangka waktu panjang.

ULN swasta masih menurun Di sisi lain, Bank Indonesia turut melaporkan bahwa posisi besaran nominal ULN swasta pada periode Juli 2026 tercatat berada di angka US$ 194,5 miliar. Angka tersebut merefleksikan adanya catatan kontraksi sebesar 1,2% (yoy).

Penurunan porsi tersebut utamanya bersumber dari kelompok korporasi peminjam kategori bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) yang mengalami kontraksi sebesar 1,4% (yoy), serta kelompok lembaga keuangan (financial corporations) yang turut merosot turun sebesar 0,3% (yoy).

Jika diklasifikasikan berdasarkan sektor ekonominya, pasokan ULN swasta mayoritas bersumber dari sektor industri pengolahan, sektor jasa keuangan beserta asuransi, sektor pengadaan pasokan listrik dan gas, serta sektor pertambangan dan penggalian. Akumulasi keempat sektor utama tersebut terhitung menyumbang hingga 80,6% dari total keseluruhan struktur ULN swasta nasional.

Serupa dengan karakteristik ULN pemerintah, struktur instrumen ULN swasta domestik juga didominasi secara mutlak oleh produk utang berjangka panjang.

Lebih lanjut, pihak Bank Indonesia menegaskan bahwa struktur makro ketahanan ULN Indonesia secara keseluruhan masih terpelihara dalam kondisi yang sehat. Indikator tersebut terefleksikan secara jelas dari rasio perbandingan antara total ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat berada di level 30,7% pada periode Juli 2026.

Struktur ketahanan tersebut turut ditopang kuat oleh faktor dominasi struktur utang berjangka panjang, sehingga potensi risiko tekanan pembiayaan jangka pendek senantiasa terkendali dengan baik.

“Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN,” kata Denny.

Ke depannya, Bank Indonesia bersama pemerintah berjanji akan terus mengoptimalkan fungsi peran strategis ULN guna menopang pembiayaan program pembangunan nasional serta mengerek laju pertumbuhan ekonomi domestik secara berkelanjutan.

"Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," ujar Denny.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index