JAKARTA - Di dalam sebuah hubungan, terjadinya perbedaan pandangan merupakan perkara yang terbilang lumrah. Kendati demikian, perselisihan sanggup menguras energi ketika salah satu pihak konsisten mencari sosok yang mesti dipersalahkan, bahkan untuk perkara yang sebenarnya tidak sepenuhnya menjadi beban tanggung jawab pasangannya.
Menyadur dari Psychology Today, psikolog Daniel S. Lobel, Ph.D. memaparkan bahwa individu yang terbiasa melempar kesalahan kepada pihak lain cenderung merasa terpojok sewaktu pasangannya berupaya meluruskan tuduhan itu. Sikap defensif yang lantas mencuat dapat membuat pertikaian kian berlarut-larut.
Lobel menerangkan, individu dengan kondisi mental yang sehat pada umumnya menyadari bahwa tiap manusia tidak luput dari kekhilafan. Mereka legawa mengambil tanggung jawab atas segenap tindakan dan keputusan pribadinya.
Sebaliknya, sebagian orang merasa kesulitan mengakui kekeliruan lantaran hal itu sanggup memicu perasaan rentan di dalam diri. Untuk menghindari gejolak emosi tersebut, mereka malahan mengalihkan kesalahan pada orang lain, khususnya sosok-sosok terdekat.
Oleh sebab itu, sewaktu pasangan melontarkan tuduhan yang keliru, menyanggahnya secara frontal belum tentu menjadi opsi terbaik dalam mengurai benang kusut.
Lobel mengusulkan metode yang dinamakan redirection, yakni mengalihkan arah pembicaraan dari upaya mencari siapa yang keliru menuju penyelesaian masalah yang tengah dihadapi. Melalui pendekatan ini, pasangan tidak lagi terbelenggu dalam perdebatan soal siapa yang unggul dan kalah, melainkan berfokus mencari titik temu yang disepakati bersama.
Cara Menghadapi Pasangan yang Suka Menyalahkan
Jangan Langsung Membantah Ketika Disalahkan Sangat lumrah jika seseorang berhasrat meluruskan tuduhan yang tidak berdasar. Akan tetapi, memaksakan diri meluruskan pasangan yang terbiasa melempar kesalahan tidak selalu membuahkan komunikasi yang konstruktif.
Menurut penilaian Lobel, pasangan yang kerap menyalahkan pihak lain dapat menganggap dirinya tengah diserang sewaktu diluruskan. Mereka otomatis memasang pertahanan diri dan perselisihan pun berisiko makin meruncing.
Ketimbang terus berdebat demi menentukan siapa yang salah, cobalah menggiring pembicaraan kembali pada inti persoalan yang mendesak untuk dituntaskan.
Alihkan Pembicaraan ke Solusi Salah satu taktik yang dapat diterapkan yakni menggeser percakapan dari arena pencarian pihak tersangka menuju arah solusi. Sebagai contoh, pasangan menyulut amarah akibat hidangan makan malam hangus terbakar.
Daripada meributkan siapa pemicu hangusnya hidangan tersebut, alur pembicaraan dapat dialihkan pada alternatif tindakan yang bisa diambil saat itu juga.
"Kami cari makan di luar saja malam ini. Besok kalau kamu mau, kami bisa coba masak lagi."
Tanggapan semacam ini bukan bermakna mengaminkan tuduhan pasangan atau menganggap diri sendiri keliru. Tujuannya murni untuk meredam pembicaraan agar tidak menjelma menjadi ajang perlombaan mencari pihak pemenang dan pihak yang kalah.