JAKARTA — Kehilangan orang terdekat dapat membuat seseorang menjalani masa duka yang tidak mudah. Selain menghadapi perubahan dalam keseharian, seseorang juga perlu beradaptasi dengan berbagai emosi yang muncul setelah kehilangan.
Di tengah proses tersebut, sebagian orang mulai mencari cara untuk menyalurkan perasaan yang muncul, salah satunya melalui aktivitas fisik, baik secara mandiri maupun bersama orang lain yang mengalami situasi serupa.
Fenomena ini bahkan melahirkan kelas olahraga khusus yang mempertemukan individu-individu yang sedang berduka. Lantas, benarkah olahraga dapat membantu seseorang menghadapi duka?
Olahraga dan Proses Menghadapi Duka
Aktivitas Fisik Bisa Membantu Mengelola Emosi Melansir dari People, salah satu contoh nyata berasal dari kelas latihan fisik yang dipimpin instruktur kebugaran Sylvia Borowska di Liftonic, New York.
Dalam sesi tersebut, para peserta melakukan latihan fisik sambil menyelaraskan gerakan dengan pengalaman kehilangan yang mereka rasakan. Borowska meminta para peserta untuk mengangkat beban berat dan membayangkan beban tersebut sebagai bentuk beban emosional yang mereka pikul selama masa duka.
"Kesedihan itu berat, tetapi kami lebih kuat dari itu," katanya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi Borowska bersama Grief, Sweat & Tears, sebuah inisiatif berbasis komunitas yang menyelenggarakan kelas olahraga bagi individu yang menghadapi kehilangan.
Organisasi ini didirikan pada Desember 2025 dan rutin mengadakan kelas kebugaran pop-up di berbagai titik di New York City. Selepas berolahraga bersama, para peserta juga diberikan ruang untuk bertukar cerita mengenai sosok terkasih yang telah berpulang.
Dalam kurun waktu enam bulan terakhir, kelompok tersebut tercatat telah mendampingi sekitar 400 orang. Kendati memanfaatkan olahraga sebagai wadah berkumpul dan menyalurkan emosi, pihak penyelenggara menegaskan bahwa kegiatan mereka bukanlah sesi terapi maupun kelompok dukungan formal.
Olahraga Berkaitan dengan Zat Kimia di Otak Manfaat olahraga terhadap kesehatan mental sebenarnya telah dikaji secara luas. Aktivitas fisik diketahui mampu mendongkrak fungsi neurotransmiter seperti serotonin, dopamin, dan endorfin yang memegang peranan krusial dalam mengatur suasana hati.
Dokter spesialis psikiatri sekaligus medical director of psychiatry di Inspira Health, Dr. Stephen Mateka, menerangkan bahwa olahraga mempunyai kaitan erat dengan mekanisme neurotransmiter tersebut.
"Olahraga dapat membantu meningkatkan fungsi neurotransmiter," ujar Mateka.
Menurutnya, terdapat kemiripan antara cara kerja olahraga dan obat antidepresan dalam memberikan efek positif terhadap fungsi neurotransmiter. Kendati demikian, temuan ini tidak mengindikasikan bahwa olahraga bisa serta-merta menggantikan pengobatan bagi pihak yang memerlukan intervensi medis profesional.
Bergerak Bisa Membantu Mengembalikan Rasa Kendali Duka tidak sebatas berpusat pada rasa sedih semata. Kehilangan juga dapat menimbulkan disorientasi, di mana seseorang merasa tatanan kehidupannya berubah drastis dan lepas dari kendali.
Pada situasi semacam ini, aktivitas fisik dinilai mampu menghadirkan pengalaman esensial bahwa tubuh seseorang masih berada di bawah kendalinya. Pakar duka sekaligus penulis buku The Grieving Body, Mary-Frances O'Connor, mengemukakan bahwa proses berduka tidak selalu harus ditempuh melalui jalur komunikasi verbal.
"Banyak hal dalam proses berduka sebenarnya bukan tentang pemrosesan secara verbal," ujar O'Connor.
Ia menjelaskan bahwa olahraga turut menyumbang rasa otonomi ketika sebagian besar aspek kehidupan terasa di luar jangkauan kendali. Pada akhirnya, aktivitas fisik ini dapat membantu seseorang merajut kembali keterikatan dengan lingkungan sosial di sekitarnya.
Berolahraga Bersama Bisa Membuka Ruang untuk Terhubung Manfaat yang dibahas dalam ulasan ini tidak semata-mata bertumpu pada aspek fisik gerakannya saja.
Beraktivitas bersama orang lain yang memiliki pemahaman mendalam atas pengalaman kehilangan juga menyediakan wadah untuk memulihkan koneksi sosial.
Hal tersebut nampak nyata dalam program Grief, Sweat & Tears. Para partisipan tidak sekadar menjalani latihan fisik, melainkan turut berkumpul serta membagikan pengalaman duka selepas sesi olahraga usai.
O'Connor menilai bahwa pemulihan relasi dengan kehidupan bermasyarakat merupakan elemen vital dalam fase berkabung. Aktivitas kolektif ini dapat menjadi jembatan bagi seseorang untuk secara bertahap kembali menapaki kehidupan sosial usai mengalami kedukaan.
Olahraga Bukan Pengganti Terapi Kendati menawarkan berbagai keunggulan, olahraga tidak semestinya diposisikan sebagai satu-satunya instrumen untuk mengatasi duka.
Para pakar menegaskan bahwa individu yang mengalami trauma berat atau hambatan berarti dalam proses berduka tetap disarankan untuk mencari pendampingan profesional manakala dibutuhkan.
Dengan kata lain, olahraga dapat berfungsi sebagai komponen pendukung dalam menjalani masa duka, namun bukan substitusi dari terapi medis.
Pilihan ragam aktivitas serta metode mengatasi kehilangan tentu dapat bervariasi bagi setiap orang. Oleh karena itu, olahraga layak dimaknai sebagai salah satu sarana pendamping guna menjaga keaktifan fisik serta keterikatan dengan lingkungan sekitar selama masa berkabung berlangsung.