Tips Orang Tua Jaga Hubungan Erat saat Anak Mulai Merantau

Tips Orang Tua Jaga Hubungan Erat saat Anak Mulai Merantau
Ilustrasi anak merantau [FOTO: NET].

JAKARTA - Tiba saatnya anak yang sejak kecil mendiami rumah mulai menempuh jalannya sendiri. Melanjutkan studi di kota lain menjadi salah satu fase yang memaksa anak keluar dari rumah untuk berlatih mandiri.

Bagi anak, merantau menghadirkan beragam penyesuaian, mulai dari lingkaran pertemanan, kebiasaan harian, hingga beban tanggung jawab yang mulanya rutin disokong keluarga.

Di sisi lain bagi orang tua, dinamika ini berarti mesti membiasakan diri dengan kondisi rumah yang tak lagi sehangat sebelumnya. Bukan sekadar orang tua, anggota keluarga lainnya pun kerap merasa kehilangan sewaktu salah seorang anak memutuskan pergi.

Dinamika harian yang sebelumnya dilalui bersama mendadak bergeser lantaran ada satu anggota keluarga yang tidak lagi mendiami rumah.

Pergeseran ini juga tidak selalu mudah dirasakan anak yang tinggal di rumah. Rasa kehilangan dapat terekspresikan dalam wujud berbeda, melingkupi perubahan perilaku atau keinginan makin intens berkomunikasi dengan kakak yang telah pergi.

Psikolog Mindy DeSeta, PhD, menguraikan bahwa keluarga mesti memahami bahwa dinamika di rumah memang bakal berubah pasca-salah satu anggota keluarga pergi.

“Keluarga perlu mengakui bahwa kehidupan di rumah akan berbeda,” ungkap DeSeta, disadur dari Parents.

Kendati demikian, bentangan jarak tidak otomatis membuat jalinan keluarga menjadi renggang. Orang tua tetap bisa memelihara keakraban dengan anak yang tengah merantau, tanpa mengesampingkan ruang baginya untuk menjajaki kehidupan baru.

Cara Menjaga Kedekatan dengan Anak yang Merantau

1. Buat Grup Percakapan Keluarga Salah satu langkah praktis agar tetap saling terhubung yaitu membentuk grup percakapan yang mengikutsertakan seluruh anggota keluarga.

Wadah tersebut tak wajib diisi pertanyaan kabar formal atau pembahasan berbobot. Anggota keluarga dapat membagikan humor, meme, atau kisah santai demi menjaga ritme komunikasi tetap luwes.

Strategi ini memberi kesempatan bagi anak yang merantau untuk tetap mengikuti kabar di rumah tanpa merasa terbebani untuk rutin melakukan panggilan telepon atau membalas pesan secara khusus.

Pola komunikasi yang kasual juga membantu merawat hubungan berlangsung secara alami. Anak tetap mampu memantau dinamika rumah meski tak lagi berdomisili di lokasi yang sama.

2. Jadwalkan Panggilan, tetapi Tetap Fleksibel Di samping obrolan rutin lewat pesan teks, keluarga dapat mengatur jadwal panggilan secara berkala.

Parents menyebutkan panggilan via aplikasi layaknya FaceTime atau WhatsApp menjadi sarana ampuh merawat kehangatan sewaktu anak sudah menetap jauh dari rumah.

Namun, agenda tersebut ada baiknya tidak dijadikan sebagai ikatan kaku yang membebankan anak.

“Jangan tersinggung jika anak tidak bisa mengikuti jadwal mingguan,” kata DeSeta.

Anak yang mulai menempuh kuliah atau bermukim di kota lain memiliki kesibukan anyar yang kerap membuatnya tidak dapat selalu luang pada waktu serupa.

Maka dari itu, orang tua perlu memberikan kelonggaran sewaktu agenda komunikasi yang dirancang tidak terlaksana.

Maksud utamanya bukan demi memastikan anak senantiasa dapat dihubungi, melainkan membuka ruang bagi keluarga untuk terus terhubung di tengah rutinitas masing-masing.

3. Beri Ruang Anak untuk Menghubungi Keluarga Merawat keakraban juga bukan berarti orang tua wajib memosisikan diri sebagai pihak yang terus mengawali komunikasi.

Anggota keluarga lainnya, termasuk adik, bisa diberi kesempatan untuk mengontak sang kakak yang merantau secara langsung.

Psikolog Kevin M. Ramotar, PsyD, CPHQ, mengutarakan bahwa orang tua tidak perlu mengambil peran sebagai perantara pada setiap interaksi antar-anak.

“Orangtua tidak harus menjadi perantara dalam setiap interaksi,” ujar Ramotar.

Melalui kelonggaran ruang tersebut, relasi persaudaraan dapat terus mekar tanpa seluruh komunikasi harus diatur orang tua.

Anak yang merantau pun memegang fleksibilitas dalam menentukan momen tepat saat ingin berbincang dengan keluarga.

Di sisi lain, orang tua tetap perlu menegaskan bahwa anak yang sudah pergi merantau tetap merupakan bagian tak terpisahkan dari keluarga. Perubahan domisili tidak lantas memupus jalinan yang telah terbangun bertahun-tahun.

Ramotar mengutarakan bahwa tiap anggota keluarga memerlukan durasi berbeda untuk menyesuaikan diri dengan pergeseran ini. Oleh sebab itu, orang tua tak perlu tergesa-gesa menuntut seluruh anggota keluarga agar serta-merta terbiasa.

“Menjaga hal itu dapat membuat penyesuaian terasa tidak seperti sebuah akhir,” terangnya.

Atas dasar itu, keakraban orang tua dan anak tidak melulu bersandar pada seberapa sering mereka bertatap muka secara langsung.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index