Kelola TN Lorentz, Kemenhut Andalkan 40 Tenaga Fungsional

Kelola TN Lorentz, Kemenhut Andalkan 40 Tenaga Fungsional
Kepala Badan Taman Nasional [FOTO: NET].

JAKARTA - Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI menyampaikan bahwa Balai Taman Nasional Lorentz saat ini mempunyai personel fungsional sekitar 40 orang.

Kepala Badan Taman Nasional Lorentz, Manuel Mirino lewat keterangan tertulis di Wamena, Jumat, menyampaikan bahwa kuantitas tenaga fungsional tersebut amat terbatas untuk mendampingi pengelolaan kawasan konservasi yang sangat luas.

“Balai Taman Nasional Lorentz memiliki tenaga fungsional kurang lebih 40 orang, dan jumlah ini sangat terbatas untuk dapat mengelola taman nasional yang luasnya 2,3 juta hektare,” katanya.

Menurut dia, di tengah keterbatasan personel fungsional tersebut, pengelolaan Taman Nasional Lorentz wajib didukung oleh strategi tersendiri.

“Untuk mengelola taman nasional yang sangat luas seperti ini harus memiliki strategi khusus, sehingga pengelolaannya dapat berjalan maksimal,” ujarnya.

Dia menguraikan bahwa Taman Nasional Lorentz mempunyai cakupan wilayah seluas 2,3 juta hektare dan menjadi yang terluas se-Indonesia karena melintasi tiga provinsi, yaitu Papua Tengah, Papua Pegunungan, serta Papua Selatan.

“Dengan keterbatasan sumber daya manusia, upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga Taman Nasional Lorentz adalah melakukan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat di tiga provinsi tersebut. Kami memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian di Taman Nasional Lorentz,” katanya.

Dia menimpali bahwa dalam usaha merawat kelestarian Taman Nasional Lorentz, warga sekitar ditempatkan sebagai elemen kunci yang dilibatkan guna membantu menjaga kawasan tersebut.

“Sosialisasi yang kami berikan adalah bagaimana masyarakat dapat mengelola Taman Nasional Lorentz dengan arif dan bijaksana, tetapi juga mereka harus dapat menjaga keseimbangan alam,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa agenda yang dijalankan bersama warga di dalam kawasan Taman Nasional Lorentz mencakup program pemberdayaan, contohnya di daerah Walay, Nabire, dan Timika.

“Pada intinya pemberdayaan itu kami lakukan untuk mengalihkan masyarakat supaya tidak lagi melakukan aktivitas di dalam kawasan Taman Nasional Lorentz, dan pemberdayaan ini kami lakukan secara bertahap mengajarkan masyarakat supaya kawasan taman nasional ini terus terjaga,” ujarnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index