Fokus Pasar Saham: Kredibilitas Fiskal dan Pergerakan Rupiah

Selasa, 15 September 2026 | 22:54:02 WIB
Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto [FOTO: NET].

JAKARTA — Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyampaikan pandangannya bahwa arah kebijakan fiskal, tingkat kredibilitas dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta dinamika pergerakan nilai tukar rupiah akan menjadi pusat perhatian utama bagi para pelaku di pasar saham Indonesia.

Seiring dengan momentum pelantikan Menteri Keuangan Suahasil Nazara, Rully mengungkapkan bahwa para pelaku pasar keuangan akan mencermati secara seksama konsistensi kebijakan serta komitmen dukungan pemerintah terhadap prinsip disiplin fiskal dalam rentang jangka panjang.

“Yang paling penting tetap implementasi dan konsistensi kebijakan, khususnya dalam menjaga kredibilitas APBN dan disiplin fiskal,” ujar Rully dalam acara Media Day bertajuk "Navigating Indonesia’s Market: Policy Shifts, Commodities & Opportunities", di Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Bersamaan dengan agenda tersebut, Rully menuturkan bahwa para pelaku pasar juga akan memantau ketat pergerakan nilai tukar rupiah di tengah ekspektasi kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang diproyeksikan bakal menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada agenda pertemuan tanggal 15 hingga 16 September 2026.

“Kenaikan 25 basis poin dari The Fed relatif sudah priced in. Bagi Indonesia, perhatian berikutnya akan tertuju pada pergerakan rupiah karena menjadi salah satu faktor utama yang menentukan ruang dan respons kebijakan Bank Indonesia,” kata Rully.

Selanjutnya, Rully memaparkan penjelasan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mencatatkan penyesuaian penilaian kembali (re-rating) sekitar 18 persen semenjak awal dimulainya semester II-2026, sehingga fase penguatan indeks berikutnya tentu akan sangat memerlukan sokongan dari realisasi perolehan laba emiten (earnings delivery), derasnya arus masuk modal asing (foreign flows) yang lebih merata, serta kondisi eksternal global yang jauh lebih berkelanjutan.

Pada saat ini, ia menyebutkan bahwa sebaran arus masuk dana asing masih cenderung terkonsentrasi secara eksklusif pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar, utamanya tertuju pada sektor perbankan serta sejumlah jajaran saham komoditas pilihan.

“Setelah re-rating yang cukup cepat, investor tidak bisa hanya mengandalkan kenaikan indeks. Next leg dari pasar akan membutuhkan earnings delivery dan foreign flows yang lebih luas. Karena itu, pasar akan semakin selektif,” ujar Rully.

Ia menambahkan bahwa tren penguatan rupiah hingga saat ini masih ditopang oleh kondisi faktor eksternal yang terbilang kondusif serta aliran masuk modal asing (capital inflows), kendati tingkat ketahanan nilainya secara keseluruhan akan tetap bergantung secara langsung pada dinamika pergerakan arus dana tersebut.

Di ranah pasar instrumen Surat Berharga Negara (SBN), menurut pandangannya, faktor sinergi koordinasi kebijakan memegang peranan krusial guna memastikan laju kenaikan tingkat imbal hasil (yield) tetap berjalan secara gradual. 

Segala bentuk perubahan persepsi negatif terhadap kredibilitas kebijakan maupun peringkat pemeringkatan dinilai sebagai potensi risiko nyata yang patut diwaspadai karena berisiko memicu terjadinya penyesuaian harga kembali (repricing) yang jauh lebih tajam.

“Yang perlu diwaspadai adalah apabila terjadi perubahan persepsi terhadap kredibilitas kebijakan atau rating, karena itu bisa menghasilkan repricing yang lebih tajam,” kata Rully.

Berdasarkan laporan catatan data perdagangan sesi I di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berlangsung pada hari Selasa ini, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah sebesar 49,77 poin atau terkoreksi 0,76 persen ke level posisi 6.484,92. 

Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 tercatat ikut turun sebesar 5,96 poin atau menyusut 0,90 persen ke posisi level 653,07.

Adapun volume aktivitas frekuensi perdagangan saham di lantai bursa tercatat mencapai sebanyak 1.048.000 kali transaksi, dengan total jumlah lembar saham yang diperjualbelikan sebanyak 16,23 miliar lembar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp7,14 triliun. 

Dari total saham yang diperdagangkan, tercatat sebanyak 333 saham mengalami kenaikan harga, 317 saham mengalami penurunan, serta 313 saham lainnya terpantau stagnan tidak bergerak nilainya.

Terkini