Dampak El Niño, Produksi Smelter & Serapan Nikel Ikut Turun

Sabtu, 12 September 2026 | 19:52:02 WIB
Ketua Dewan Penasihat APNI Djoko Widajatno. (Foto: NET)

JAKARTA – Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menyampaikan bahwa penurunan kapasitas produksi di berbagai smelter nikel kawasan Sulawesi turut menekan tingkat permintaan bijih nikel dari pertambangan rakyat maupun korporasi di wilayah Sulawesi, Maluku, serta Papua.

Ketua Dewan Penasihat APNI Djoko Widajatno menerangkan fenomena El Niño memberikan tekanan nyata bagi para penambang nikel akibat susutnya produksi smelter yang langsung memicu pelandainya serapan bahan baku tersebut. 

Meski belum dapat merinci angka estimasi volume penurunan permintaan secara pasti, Djoko memastikan bahwa tekanan tersebut tetap memberikan efek sistemis terhadap sektor hulu.

“El Niño sudah menurunkan serapan nikel, karena smelter mengalami kesukaran memperoleh air yang dibutuhkan untuk proses peleburan. Penurunan produksi yang signifikan ditambah dengan masalah internal dalam tata kelola,” kata Djoko ketika dihubungi, Sabtu (12/9/2026).

“Penurunannya tidak linear, tetapi berdampak pada sistemis di Sulawesi, Maluku, Papua,” tegas Djoko.

Di sisi lain, PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mengonfirmasi bahwa sentra industri nikel di Sulawesi Tengah tersebut turut merasakan dampak cuaca kering tahun ini, yang berpotensi memangkas produksi smelter sekitar 30% hingga 40%. 

Head of Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan menjelaskan kekeringan akibat El Niño memengaruhi ketersediaan air yang memegang peranan krusial sebagai sumber energi operasional smelter berbasis high pressure acid leach (HPAL), pabrik kokas, serta pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

“Mengenai faktor El Niño, kondisi cuaca yang lebih kering dan panjang diketahui menyebabkan penurunan potensi curah hujan di Indonesia, termasuk di lingkup Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah sebagai lokasi operasional industri IMIP. Hal ini karena El Niño memengaruhi debit air sungai,” kata Dedy ketika dihubungi Bloomberg Technoz, Rabu (2/9/2026).

“Ditaksir dari keseluruhan operasional industri di IMIP, El Niño melambatkan laju produksi hingga mengakibatkan 30%—40% penurunan produksi,” tegas Dedy.

Kendati demikian, pihak manajemen menegaskan gangguan iklim ini belum sampai menghentikan kegiatan operasional pabrik maupun memicu pemutusan hubungan kerja. Gangguan tersebut dinilai masih bisa dikelola tanpa merugikan kesejahteraan para karyawan.

Sementara itu, pabrik peleburan nikel PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) di Bua, Luwu, Sulawesi Selatan menghadapi kendala operasional menyusul berkurangnya pasokan listrik akibat debit air pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang menyusut. 

Berdasarkan laporan berbagai media lokal, kondisi ini mendorong perusahaan merumahkan sekitar 570 pekerja yang dipastikan tetap berstatus sebagai karyawan aktif beserta perolehan hak dan kewajibannya.

Shanghai Metals Market (SMM) dalam riset terbarunya juga mencatat bahwa krisis air di wilayah Luwu mengganggu pasokan energi ke smelter PT BMS jenis rotary kiln electric furnace (RKEF) 1 hingga memicu penurunan output produksi. 

Di sisi lain, SMM melaporkan bahwa kawasan industri lain seperti PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah belum mengalami dampak operasional yang signifikan akibat kekeringan tersebut.

“Pasokan air dan listrik ke beberapa pabrik peleburan nikel setempat terganggu, yang mengakibatkan pengurangan produksi,” tulis SMM dalam riset terbarunya, dikutip dari situs resminya Jumat (28/8/2026).

“Menurut SMM, kondisi kekeringan yang terkait dengan fenomena El Niño di sekitar kawasan IMIP di Indonesia mungkin turut menyebabkan kekurangan air di wilayah tersebut, mengingat dilaporkan curah hujan yang sangat sedikit selama sebulan terakhir,” tegas SMM.

Kondisi tantangan iklim ini berlangsung di tengah kebijakan Kementerian ESDM yang menetapkan kuota produksi bijih nikel melalui RKAB 2026 pada kisaran 260 hingga 270 juta ton, mengalami koreksi drastis dibandingkan target tahun sebelumnya yang mencapai 379 juta ton.

Terkini

Dokter Ungkap Penyebab Flek Hitam Tak Kunjung Pudar

Sabtu, 12 September 2026 | 21:46:32 WIB

Psikolog Bagikan Tips Melatih Kemampuan Problem Solving Anak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:42:01 WIB

Cara Pakai Lobe Strobe, Highlighter Telinga yang Sedang Tren

Sabtu, 12 September 2026 | 21:37:01 WIB

Ramalan 4 Shio yang Diprediksi Lebih Tenang Mulai Hari Ini

Sabtu, 12 September 2026 | 21:27:31 WIB