IDAI Bagikan Cara Aman Bersihkan Abu Vulkanik, Pakai Lap Basah

Senin, 07 September 2026 | 00:45:01 WIB
Ilustrasi Abu vulkanik di rumah [FOTO: NET].

JAKARTA - Endapan abu vulkanik yang menempel pada lantai, furnitur, maupun beraneka permukaan di dalam rumah tidak boleh dibersihkan secara asal-asalan. 

Bukannya membuat hunian kembali steril, metode pembersihan yang keliru justru berisiko menerbangkan kembali partikel abu ke udara sehingga rawan terhirup, utamanya oleh kelompok anak-anak.

Ketua UKK Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), memaparkan bahwa paparan abu vulkanik sanggup memicu beragam gangguan pernapasan akut pada anak.

“Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya,” jelas dr. Wahyuni.

Oleh sebab itu, di samping membatasi paparan debu dari luar hunian, para orang tua juga wajib memperhatikan tata cara pembersihan abu yang sudah terlanjur masuk serta mengendap di dalam ruangan.

Cara aman membersihkan abu vulkanik

1. Jauhkan anak dari area yang sedang dibersihkan Sebelum memulai proses pembersihan, pastikan anak-anak berada jauh dari lokasi terkait. IDAI menyarankan agar anak ditempatkan di ruangan lain sewaktu orang tua menyapu atau mengelap abu. Langkah ini diambil demi menekan risiko anak terhirup partikel halus yang berpotensi melayang kembali ke udara selama kegiatan pembersihan berlangsung.

2. Gunakan lap atau kain basah Guna menyapu endapan abu di berbagai permukaan, manfaatkan kain atau lap yang telah dibasahi. Berdasarkan panduan IDAI, pemakaian lap basah efektif mencegah debu beterbangan ke udara saat disapu. Teknik ini tepat diterapkan untuk mengelap lantai maupun perabotan rumah tangga yang tertutup abu vulkanik.

3. Basahi lantai atau benda sebelum dibersihkan Apabila lapisan abu menempel erat pada lantai atau perabotan rumah, percikkan air terlebih dahulu pada area yang hendak dibersihkan. IDAI menerangkan bahwa membasahi lantai atau objek dengan air berguna mengikat debu agar tidak melayang ketika diusap menggunakan kain.

4. Jangan menyapu abu dalam kondisi kering Hindari kebiasaan menyapu abu vulkanik dalam keadaan kering. Tindakan tersebut justru memicu partikel abu yang telah mengendap melayang kembali ke udara. Imbasnya, racikan partikel berbahaya itu berisiko tinggi terhirup oleh orang-orang di sekitar area pembersihan. Maka dari itu, opsi pembersihan memakai lap atau kain lembap jauh lebih dianjurkan demi menekan sebaran debu.

Waspadai gejala pada anak

Usai seluruh sudut rumah dibersihkan, orang tua tetap wajib memantau kondisi kesehatan anak, terlebih jika buah hati sempat terpapar abu vulkanik. Di samping keluhan bersin, batuk, dan pilek, anak berpotensi mendapati sesak napas akibat iritasi pada saluran pernapasan.

Wahyuni mengimbau para orang tua agar tidak menganggap sepele kemunculan indikasi medis pasca-anak terpapar debu erupsi.

“Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94%, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” kata dr. Wahyuni.

Walhasil, agenda pembersihan abu vulkanik bukan sebatas menyapu kotoran dari area hunian. Teknik serta prosedur pembersihannya pun harus dicermati agar partikel abu tidak melayang kembali dan memicu tingginya risiko paparan, khususnya bagi kesehatan anak.

Terkini