Angin Berubah, Abu Vulkanik Anak Krakatau Bergerak ke Barat

Senin, 07 September 2026 | 23:21:02 WIB
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani. (Foto: NET)

JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan bahwa arah angin yang membawa abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini bergeser ke arah barat, barat laut, dan barat daya. 

Perubahan pola angin itu dinilai sebagai perkembangan positif guna menekan dampak abu terhadap sejumlah wilayah serta operasional penerbangan.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa angin di seluruh lapisan ketinggian, baik dari permukaan hingga 15.000 kaki maupun lapisan tinggi mencapai 50.000 kaki, kini cenderung bergerak ke barat.

"Yang pertama kami sampaikan terkait sebaran dari debu vulkanik. Ada hal yang positif dalam beberapa waktu terakhir karena untuk semua ketinggian mulai dari permukaan hingga 15.000 feet dan juga dari lapisan tinggi hingga 50.000 feet itu angin bertiup ke arah barat, juga sebagian di barat laut dan barat daya," ujar Faisal saat memberikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Terbatas Penanganan Bencana Alam Gempa NTT, Erupsi Anak Gunung Krakatau, dan Perkembangan Penanganan Karhutla bersama para kepala daerah, Senin (7/9/2026).

Situasi tersebut berbeda dari sebelumnya ketika abu vulkanik pada ketinggian di bawah 15.000 kaki sempat terbawa angin menuju tenggara. 

Pergeseran ini diharapkan mampu meredam sebaran abu ke kawasan yang sebelumnya terdampak. Faisal menuturkan bahwa kondisi sebaran abu tersebut sempat mengganggu aktivitas penerbangan, dengan catatan sembilan bandara masih harus ditutup.

"Jadi tidak ada lagi yang sebelumnya untuk abu vulkanik di bawah ketinggian 15.000 feet itu masih bertiup ke arah tenggara sehingga beberapa sampai saat ini ada sembilan bandara yang masih ditutup," katanya.

Di samping perubahan arah angin, BMKG memantau potensi hujan di wilayah terdampak pada 9–12 September 2026. Hujan berintensitas ringan hingga sedang dianggap sebagai salah satu cara paling ampuh dalam menurunkan konsentrasi abu vulkanik di udara.

"Kami sudah memantau bahwa kira-kira di tanggal 9 hingga 12 September 2026 ini akan ada potensi awan dan juga turun hujan dengan intensitas ringan hingga sedang khususnya di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau," ujar Faisal.

Guna mengoptimalkan peluruhan abu, BMKG dan BNPB berencana memperkuat potensi hujan lewat operasi modifikasi cuaca (OMC). Penentuan titik pelaksanaan, termasuk kawasan sekitar bandara terdampak, akan segera dibahas lebih lanjut oleh pemerintah.

"Untuk itu nanti akan kami pertebal dengan TMC bersama dengan BNPB dan untuk lokasi bandaranya juga akan kami bahas setelah ini," katanya.

Faisal menjelaskan pula bahwa abu vulkanik di lapisan atmosfer tinggi hingga 50.000 kaki sebagian telah bergerak menjauh ke arah Samudra Hindia. 

Sementara itu, abu pada lapisan bawah dari permukaan hingga 15.000 kaki masih tertahan di sekitar wilayah terdampak, sehingga kehadiran hujan dalam beberapa hari kedepan memegang peranan krusial.

"Ini yang nanti secara efektif operasi modifikasi cuaca dan juga hujan yang akan terjadi tanggal 9 hingga 12 September nanti dapat mengurangi dampak dari abu vulkanik ini," ujarnya.

Dalam upaya memastikan keselamatan penerbangan, BMKG terus menjalin komunikasi intensif dengan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, Australia, sesuai aturan International Civil Aviation Organization (ICAO).

"BMKG secara intensif dari kemarin juga hari ini kami terus berkomunikasi dengan Volcanic Ash Advisory Center yang ditunjuk oleh ICAO yaitu yang ada di Darwin Australia dan kemudian ini membawahi Asia Tenggara dan juga Australia dan sekitarnya," katanya.

Koordinasi tersebut menjadi landasan penting dalam menentukan kebijakan pembukaan kembali bandara-bandara terdampak. BMKG senantiasa memperbarui Significant Meteorological Information (SIGMET) menyesuaikan kondisi mutakhir di lapangan.

"Jadi nanti untuk dapat pembukaan kembali bandara juga kami berkomunikasi dengan Darwin Australia agar Significant Meteorological Information dapat disesuaikan," ujarnya.

Sejak erupsi perdana Gunung Anak Krakatau pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB, BMKG tercatat telah menerbitkan lebih dari 50 SIGMET.

"Ini adalah poligon SIGMET yang dikeluarkan juga oleh VAAC Darwin Australia dan ini kami telah mengeluarkan langsung Significant Meteorological Information tepat setelah erupsi pertama pada tanggal 4 September yaitu jam 23.23 dan kami telah mengeluarkan saya kira ini lebih dari 50 SIGMET yang telah kami keluarkan," pungkan Faisal.

Terkini