Abu Krakatau Ancam Kesehatan, Menkes Minta Warga di Rumah

Minggu, 06 September 2026 | 19:55:01 WIB
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. (Foto: NET)

JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat yang terkena imbas penyebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau agar berdiam di dalam rumah untuk sementara waktu. Langkah ini diambil guna menghindari dampak kesehatan yang umumnya menyerang saluran pernapasan, mata, serta kulit.

Budi menyebutkan bahwa masyarakat tak usah panik dalam menghadapi sebaran abu vulkanik itu. Meski begitu, Budi tetap mengingatkan publik agar selalu memperhatikan kondisi kesehatan pada ketiga aspek tersebut.

"Pencegahannya bagaimana? Kalau tidak ada kegiatan yang mengharuskan untuk keluar, usahakan itu tetap di dalam rumah," ujar Budi lewat rilisnya, Minggu (6/9/2026).

Budi lalu merinci masalah kesehatan yang bisa dialami warga apabila bersentuhan langsung dengan abu vulkanik. Budi menuturkan abu vulkanik mampu berdampak pada sistem pernapasan sehingga warga terdampak diminta tidak melakukan aktivitas di luar ruangan sementara waktu. 

Jika terpaksa beraktivitas di luar, Budi menyarankan masyarakat menggunakan masker untuk menahan partikel debu masuk ke dalam saluran pernapasan.

Tetapi, jika abu vulkanik telah mengganggu saluran pernapasan, Budi menyarankan masyarakat untuk mendatangi puskesmas paling dekat guna memperoleh penanganan medis.

"Kalau sudah merasa tidak enak pernapasannya, segera ke puskesmas terdekat. Kami sudah men-deploy alat-alat nebulizer dan juga oksigen konsentrator," ujarnya.

Di samping itu, Budi turut mengingatkan bahwa abu vulkanik bisa memicu mata gatal serta iritasi. Upaya pencegahan utamanya, sambung Budi, adalah tetap menghindari kegiatan di luar ruangan jika tak mendesak. 

Namun, kalau terpaksa keluar rumah, Budi meminta warga terdampak memakai kacamata untuk menghalau kontak langsung partikel debu dengan mata.

Budi juga meminta warga agar lekas mencuci mata menggunakan air, bukan menguceknya, jika debu sudah terlanjur mengganggu penglihatan.

"Jadi kalau sudah kena (abu), treatment-nya seperti apa? Jangan dikucek-kucek, bersihkan pakai air, dan kalau perlu, pakai obat tetes mata. Bisa segera ke Puskesmas, karena semua Puskesmas sudah kami sediakan obat tetes mata," tuturnya.

Selanjutnya, Budi memaparkan bahwa paparan langsung abu vulkanik bisa menimbulkan iritasi maupun keluhan gatal-gatal pada area kulit. Apabila mengalami keluhan tersebut, warga diimbau membasuh kulit menggunakan air secara hati-hati karena adanya potensi partikel tajam yang menempel di permukaan kulit.

Budi juga mengarahkan masyarakat agar lekas mendatangi puskesmas jika iritasinya makin parah.

"Kalau nanti ternyata sudah ada dampaknya, seperti gatal-gatal, kalau kulitnya merasa tidak enak, itu bisa ke Puskesmas. Kami akan deploy salep kulit ke Puskesmas," jelasnya.

Selain memberikan imbauan tersebut, Budi juga menyatakan bahwa Kementerian Kesehatan telah menyalakan Health Emergency Operating Center di wilayah terdampak. 

Tak hanya itu, Kementerian Kesehatan juga akan mengeluarkan surat edaran memuat pedoman rinci seputar penanganan kesehatan yang mesti dijalankan oleh tenaga kesehatan di tiap kabupaten atau kota terdampak.

"Sekali lagi, jangan panik, tetap di rumah dan tetap sehat," pungkas Budi Gunadi.

Terkini

KAI Tambah Kereta ke Jakarta Imbas Aktivitas Anak Krakatau

Minggu, 06 September 2026 | 22:27:31 WIB

Haaland Tembus 300 Gol, Lebih Cepat dari Ronaldo dan Mbappe

Minggu, 06 September 2026 | 22:24:02 WIB

3 Hal Penting yang Wajib Dikuasai Calon Kreator Konten

Minggu, 06 September 2026 | 22:17:32 WIB

Pupuk Indonesia Jajaki Proyek Amonia-Urea di Rusia

Minggu, 06 September 2026 | 22:14:32 WIB