JAKARTA — Kakak dan adik yang kerap bertengkar sering kali membuat orang tua kewalahan. Meski demikian, perselisihan antara saudara sebenarnya merupakan hal yang lumrah dalam proses tumbuh kembang anak.
Psikolog Susan Albers, PsyD menerangkan, hubungan antar-saudara menjadi salah satu sarana pertama bagi anak untuk belajar berbagi, berkomunikasi, berkompetisi, serta menyelesaikan konflik.
Menurut Albers, persaingan menjadi salah satu akar dari perselisihan antar-saudara. Kendati demikian, persaingan tidak selalu buruk selama tidak berlebihan atau sengaja didorong oleh orang tua.
“Persaingan dapat membuat seseorang bekerja lebih keras. Namun, persaingan menjadi beracun dan merusak ketika sudah berlebihan atau orang tua mendorongnya,” jelas Albers, dilansir dari Cleveland Clinic.
Berikut enam tips bagi orang tua agar anak-anak tidak terus-menerus bertengkar:
Tetap Tenang Saat Konflik Terjadi Ketika pertengkaran mulai memanas, orang tua perlu tetap tenang dan memperhatikan situasi agar dapat turun tangan sebelum konflik semakin besar.
Jika salah satu anak mulai memukul atau melakukan kekerasan fisik, orang tua perlu menegaskan bahwa perilaku tersebut tidak dapat diterima.
Anak juga perlu diarahkan untuk menyelesaikan masalah menggunakan kata-kata. Orang tua tidak harus langsung menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Sikap tenang dapat membantu situasi tidak semakin emosional serta memberi ruang bagi anak untuk belajar menyelesaikan masalah.
Jangan Membandingkan atau Menunjukkan Keberpihakan Perbedaan usia, kepribadian, kemampuan, maupun kebutuhan akan perhatian dapat memengaruhi hubungan kakak dan adik.
Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya tidak membandingkan keduanya atau membuat salah satu anak merasa lebih diunggulkan. Albers justru menyarankan orang tua menciptakan kesempatan agar anak-anak dapat bekerja sama.
“Makan malam bersama keluarga, pergi ke pantai, dan bermain permainan papan memberikan ruang bagi anak-anak untuk menjalin kedekatan dan membangun kenangan yang menyenangkan,” jelas Albers.
Kegiatan bersama juga dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk mendapatkan waktu bersama orang tua tanpa harus berebut perhatian.
Hargai Keunikan Setiap Anak Kakak dan adik tidak harus mempunyai minat, kemampuan, atau karakter yang serupa. Orang tua perlu menunjukkan bahwa setiap anak dihargai sebagai individu.
Albers menyarankan orang tua menyediakan waktu khusus bersama masing-masing anak guna melakukan kegiatan yang mereka sukai. Anak juga perlu memiliki waktu sendiri tanpa saudaranya.
Di samping itu, hindari memberikan label berdasarkan satu karakteristik karena hal tersebut dapat membuat anak merasa harus mempertahankan posisi tertentu dibandingkan saudaranya.
“Daripada memberi label kepada anak hanya berdasarkan satu kata atau karakteristik, sebutkan berbagai pencapaian, keterampilan, dan sifat mereka,” ujar Albers.
Perlakukan Anak Secara Adil Perlakuan yang adil tidak selalu berarti memberikan sesuatu dalam jumlah atau bentuk yang sama kepada setiap anak.
“Penghargaan dan hukuman harus disesuaikan dengan kebutuhan anak,” pesan Albers.
Sebagai contoh, orang tua tidak harus memberikan mainan yang sama kepada kakak dan adik. Pilihan dapat disesuaikan dengan usia dan minat masing-masing anak.
Dengarkan Perasaan Anak Saat kakak dan adik bertengkar, orang tua sebaiknya tidak sekadar mencari pihak yang harus disalahkan. Keduanya dapat diajak berbicara setelah situasi lebih tenang.
“Bertanyalah kepada anak bagaimana konflik tersebut membuat mereka merasa,” saran Albers.
Mendengarkan sudut pandang masing-masing anak dapat membuat mereka merasa diperhatikan dan dianggap serius.
“Emosi mereka bukan alasan untuk membenarkan perilaku negatif atau agresif, tetapi anak akan lebih mungkin bekerja sama jika mereka merasa didengarkan,” jelas Albers.
Ajarkan Cara Menyelesaikan Konflik dan Buat Aturan Bersama Pertengkaran dapat menjadi momentum bagi anak untuk belajar menghadapi perbedaan. Orang tua dapat mengajarkan cara berkompromi, berbagi, serta menyampaikan keinginan dengan lebih baik.
Albers pun menyarankan keluarga untuk membuat aturan yang disepakati bersama. Melalui cara ini, orang tua tidak harus terus-menerus menjadi penentu siapa yang benar setiap kali kakak dan adik bertengkar.
“Hal ini memungkinkan orang tua menunjuk pada aturan, bukan memilih anak mana yang ‘benar’,” kata Albers.
Kapan Perlu Meminta Bantuan Profesional? Pertengkaran antar-saudara perlu memperoleh perhatian lebih jika konflik mulai mengganggu kehidupan anak atau keluarga.
Orang tua sebaiknya mencari bantuan profesional jika merasa khawatir terhadap keselamatan anak, konflik mengganggu sekolah atau hubungan sosial, atau terdapat dugaan masalah kesehatan mental.
Bantuan juga diperlukan manakala konflik dipicu oleh pengalaman traumatis atau peristiwa penuh tekanan, maupun ketika berbagai upaya yang dilakukan orang tua belum berhasil meredakan situasi.
“Seorang terapis dapat membantu mencari tahu cara menghadapi persaingan antar-saudara. Itu berarti mengidentifikasi batasan, gaya komunikasi, dan pemicu masing-masing anak, lalu mencari cara untuk mengatasi konflik sekaligus emosi yang muncul karenanya,” tutur Albers.