Ingin Lebih Percaya Diri? Coba Terapkan Filosofi Wabi-Sabi Jepang

Kamis, 03 September 2026 | 04:28:32 WIB
Ilustrasi percaya diri [FOTO: NET].

JAKARTA - Rasa percaya diri tak selalu tumbuh dari kemampuan memetakan kelebihan diri. Menerima kekurangan dan dinamika perubahan yang bergulir dalam hidup juga sanggup menuntun seseorang memiliki pandangan yang lebih sehat terhadap dirinya.

Hasrat untuk menjadi sempurna justru dapat memicu seseorang terus terfokus pada hal yang dianggap kurang. Padahal, tidak seluruh bagian dari diri wajib dipugar agar seseorang merasa cukup. Salah satu cara memandang ketidaksempurnaan tersebut dapat dipetik dari filosofi Jepang, wabi-sabi. Filosofi ini mengagumi keindahan dari sesuatu yang tidak sempurna, tidak kekal, dan terus bertransformasi.

Psikolog klinis Angela Chen memaparkan, prinsip wabi-sabi dapat diaplikasikan pada berbagai hal, termasuk cara seseorang memandang dirinya sendiri.

“Wabi-sabi adalah filosofi Jepang yang menghargai keindahan ketidaksempurnaan dan ketidakkekalan, seperti buah atau sayuran yang bentuknya tidak sempurna, wajah yang tidak sepenuhnya simetris, dan penuaan,” jelasnya, melansir dari Real Simple.

Menerima Diri Bukan Berarti Pasrah

Implementasi wabi-sabi bukan berarti berhenti merawat diri atau mengasah kemampuan. Prinsip ini lebih menekankan penerimaan bahwa setiap orang memiliki keterbatasan dan tak harus senantiasa memenuhi standar kesempurnaan.

Terapis Chloe Bean, LMFT, menyampaikan penerimaan tersebut sanggup menghadirkan fondasi yang lebih sehat dalam mengokohkan kepercayaan diri.

“Mempraktikkan wabi-sabi dapat membantu meningkatkan penerimaan diri dan kepercayaan diri dengan memberikan izin kepada diri sendiri untuk tidak menjadi sempurna,” ungkap Bean

Salah satu gambaran filosofi ini dapat dijumpai dalam kintsugi, seni memperbaiki keramik yang pecah dengan menonjolkan bagian retaknya. Kerusakan tidak disembunyikan, melainkan menjadi bagian dari rekam jejak sejarah dan keindahan benda tersebut.

Perspektif serupa dapat dipakai untuk memandang pengalaman sulit dalam kehidupan. Kekurangan maupun kegagalan tak harus dilenyapkan dari alur perjalanan hidup lantaran keduanya turut menempa seseorang.

Latih Diri Melihat Ketidaksempurnaan

Penerapan wabi-sabi dapat diawali dengan mengamati sesuatu yang tidak sempurna tanpa terburu-buru menyematkan penilaian. Latihan ini membantu mengikis kebiasaan memandang ketidaksempurnaan sebagai problem yang mesti mendesak diperbaiki.

Chen menyarankan untuk meluangkan beberapa menit guna memperhatikan hal-hal yang menunjukkan ketidaksempurnaan atau perubahan, baik pada diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

“Melakukan hal ini secara rutin membangun keterampilan kesadaran penuh, terutama kesadaran terhadap saat ini tanpa pikiran dan penilaian yang kritis,” tuturnya.

Kebiasaan tersebut sanggup membantu seseorang lebih fokus pada kondisi yang sedang dihadapi ketimbang terus membandingkannya dengan gambaran ideal. Dengan begitu, perhatian tak melulu tersedot pada kekurangan.

Berdamai dengan Perubahan Fisik

Perubahan tubuh menjadi salah satu hal yang kerap sukar diterima, terutama kala penampilan ideal terus disajikan sebagai standar. Padahal, kerutan, rambut beruban, fluktuasi berat badan, dan bentuk tubuh merupakan bagian dari proses alamiah kehidupan.

Dalam perspektif wabi-sabi, perubahan tersebut dapat dipandang sebagai pertanda dari pengalaman yang telah dilalui, bukan semata-mata hal yang harus dieliminasi.

“Alih-alih memandang penuaan, seperti perubahan berat dan bentuk tubuh, kulit yang berkerut, bintik matahari, dan rambut beruban sebagai sesuatu yang harus diperbaiki atau dihilangkan, lihatlah sebagai tanda dari kehidupan yang telah dijalani dengan penuh,” terangnya.

Cara pandang ini bukan berarti mengabaikan kesehatan atau perawatan diri. Seseorang tetap dapat merawat tubuh tanpa menjadikan perubahan alami sebagai tolok ukur nilai dirinya.

Lepaskan Tuntutan untuk Selalu Sempurna

Kepercayaan diri juga dapat terganggu oleh kebiasaan mengkritik diri sendiri. Pikiran bahwa diri tidak cukup baik atau selalu melakukan kekeliruan dapat membuat seseorang sulit mengapresiasi kemampuan yang dimiliki.

Chen menyarankan untuk belajar mengambil jarak dari pikiran tersebut, bukan terus terbelenggu di dalamnya.

“Dengan belajar untuk hidup berdampingan dengan pikiran-pikiran tersebut, alih-alih terjebak di dalamnya, Anda mengajarkan diri bahwa pikiran tersebut sebenarnya tidak dapat menyakiti Anda,” ucap Chen.

Di samping itu, Bean menyarankan latihan untuk membiasakan diri menerima hasil yang tidak sempurna, misalnya dengan membatasi durasi ketika menggarap suatu aktivitas.

“Lepaskan kebutuhan untuk menghasilkan sesuatu dengan sempurna,” pesannya.

Terkini