Menkes: 3.200 RS Dimanfaatkan Genjot Produksi Dokter Spesialis

Kamis, 03 September 2026 | 17:29:32 WIB
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin. (Foto: NET)

JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa penambahan sentra pendidikan melalui pemanfaatan 3.200 rumah sakit (RS) di berbagai wilayah Indonesia mampu mempercepat pemenuhan kebutuhan nasional terhadap tenaga dokter spesialis.

"Kami kan nggak punya 3.000 fakultas kedokteran. Tapi, kami punya 3.200 rumah sakit. Di luar negeri ini dilakukannya juga di rumah sakit," ujarnya dalam acara Peluncuran Seleksi Program Studi Baru RS Pendidikan sebagai Penyelenggara Utama (RSPPU) dan Serah Terima Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Batch IV ke RSPPU.

Budi memaparkan bahwa saat ini masih terdapat 173 rumah sakit umum daerah di Indonesia yang belum memiliki tujuh spesialis dasar, kendati Indonesia telah merdeka selama 81 tahun.

"Saya ingat waktu itu jalan-jalan ke Nias, ada kabupaten namanya Nias Utara, saya datang kesana ruang operasinya banyak laba-labanya, ada mesin anestesi nggak pernah dipakai ditutupi plastik. Saya tanya. 'Ini dokternya apa yang ada?' 'Oh, dokter umum dan satu spesialis Pak.' 'Spesialis apa?' 'Spesialis anak.' Bayangkan," tuturnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa setiap rumah sakit idealnya memiliki minimal tujuh spesialis dasar yang meliputi spesialis penyakit dalam, spesialis anak, obgyn, bedah, anestesi, radiologi, serta patologi klinik.

Budi juga menyebutkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah membangun sebanyak 66 RSUD di kawasan tertinggal.

"Begitu kami buka, alatnya kami kirim, cathlab kami kirim, itu 100 persen tidak ada spesialis jantung dan spesialis anak. Di 66 kampung yang paling tertinggal. Jadi bayangkan Bapak-Ibu kekurangannya ini luar biasa sekali," ungkap Budi.

Ia menerangkan bahwa pada rentang tahun 2021 hingga 2022, Indonesia hanya memiliki 21 fakultas kedokteran yang bertindak sebagai sentra pendidikan spesialis dengan total produksi mencapai 2.700 spesialis.

"Nah karena saya bukan orang dari kesehatan, saya hobinya membandingkan. Korea itu berapa sih? Korea itu penduduknya seperlima Indonesia. Ternyata dia produksinya 3.000 dokter spesialis per tahun. Lebih banyak dari Indonesia yang penduduknya 280 juta, 5 kali Korea," paparnya.

Situasi serupa terlihat di Inggris, di mana jumlah produksi dokter spesialisnya menyentuh angka 12 ribu meskipun total penduduknya hanya berkisar 70 juta jiwa.

"Jauh di bawah. Nah sekarang saya tanya, kenapa kok sedikit? Yang pertama saya lihat, ternyata memang sentra pendidikannya sedikit. Di Indonesia waktu saya masuk 21 sentra pendidikannya. Korea 200 rumah sakit. Inggris 700 rumah sakit. Amerika, tanya beliau tadi pagi 1.000 rumah sakit. Ya nggak mungkin yang 21 ini bisa produksi banyak," ujarnya.

Menurutnya, Indonesia perlu memperbanyak jumlah sentra pendidikan spesialis agar jumlah peserta didik dapat disesuaikan dengan variasi kasus medis terbanyak yang ditangani, sehingga kualitas lulusan spesialis yang dihasilkan pun menjadi lebih optimal.

Pemerintah sendiri telah membuka 25 program studi PPDS di sejumlah rumah sakit, di mana proses seleksi difokuskan untuk program tujuh spesialis dasar tersebut.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah turut menggandeng sejumlah rumah sakit swasta, seperti RS Hermina Depok.

Selain fokus pada tujuh spesialis dasar, pengembangan juga diarahkan pada program spesialis untuk penanganan kanker, jantung, stroke, serta uronefrologi (KJSU). 

Kali ini, pihak kementerian melibatkan fasilitas kesehatan milik TNI yakni RSPAD Gatot Subroto untuk program studi ortopedi dan traumatologi, serta rumah sakit dari organisasi keagamaan yaitu RS Islam Muhammadiyah Cempaka Putih.

Upaya pemerataan pemenuhan kebutuhan dokter spesialis ini terus digenjot oleh Kementerian Kesehatan guna memastikan standar pelayanan medis tetap terjaga di berbagai pelosok tanah air.

Guna mendukung keberlanjutan serta pengembangan penyelenggaraan Program Pendidikan Dokter Spesialis di Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU), sistem pendidikan berbasis rumah sakit ini terus diperluas melalui pembukaan program studi baru.

Terkini