Kementan Anggarkan 1 Juta Ha Benih Tingkatkan Produksi Padi Modern

Rabu, 02 September 2026 | 02:33:02 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. (Foto: NET)

JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) berencana mengalokasikan anggaran benih seluas 1 juta hektare demi mendongkrak produktivitas padi, sekaligus mendorong para petani agar mau mengadopsi metode Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS).

"Tahun depan kami anggarkan minimal 1 juta hektare untuk benih," ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sewaktu memantau langsung proses panen metode PM-AAS di wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada hari Rabu.

Berdasarkan keterangan beliau, alokasi subsidi benih padi tersebut disiapkan agar kalangan petani terdorong menerapkan metode PM-AAS yang terbukti efektif menggenjot produktivitas per hektare hingga mencapai angka 11 sampai 12 ton, jauh melampaui hasil sebelumnya yang berkisar antara 5 hingga 6 ton.

Amran menyampaikan bahwa manakala lahan seluas 1 juta hektare tersebut memperoleh pasokan benih sekaligus mengaplikasikan cara-cara modern, taraf kesejahteraan petani di Tanah Air dipastikan bakal semakin meningkat.

"Katakanlah kalau 1 juta hektare kali 5 ton, maka akan menghasilkan 5 juta ton, kalau 2 juta hektar2, berarti 10 juta ton, kan? 10 juta ton kali Rp6,5 juta per ton, maka akan menghasilkan Rp65 triliun," tuturnya.

Terlebih lagi menurut Mentan Amran, manakala para petani memanfaatkan metode PM-AAS dan memeroleh keberhasilan, tingkat produksi padi diyakini bakal mendongkrak secara signifikan.

Sebelumnya, pihak Mentan sempat mengutarakan bahwa pemanfaatan metode Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) berpotensi mendongkrak perekonomian petani lantaran perolehan pendapatan mereka bakal melonjak hingga dua kali lipat.

"Kami hitung secara ekonomi. Itu penghasilannya bisa ada tambahan 5 ton, kalau dirupiahkan bisa bertambah Rp35-Rp40 juta," ungkap Amran.

Amran mengemukakan pula bahwa apabila dibandingkan dengan cara konvensional di mana hasil produksi padi per hektare lazimnya berada di kisaran 5,5 hingga 6 ton, penerapan metode PM-AAS justru sanggup mendongkraknya ke level 11 sampai 12 ton.

Menurut pandangan beliau, lonjakan hasil panen tersebut secara otomatis bakal mendongkrak pemasukan petani dari mulanya berkisar Rp35-Rp40 juta per hektare menjadi melonjak ke angka Rp70-80 juta per hektare.

Sementara itu, terkait estimasi tambahan biaya yang wajib dikeluarkan petani per hektare menurut Amran ialah sebesar Rp2 juta, sehingga total keseluruhan biaya yang semula berkisar Rp15-Rp20 juta per hektare bakal menjadi Rp17-Rp22 juta per hektare.

"Tambahan biayanya hanya Rp2 juta. Katakanlah produksi 10 ton kalau di kali Rp6.500 per kilogram berarti Rp65 juta, dikurangi biaya Rp15-Rp20 juta maka ada keuntungan Rp45 juta," pungkasnya.

Terkini