Jualan Peci dan Pin NU di Muktamar Jombang, Omzetnya Bisa Rp40 Juta

Minggu, 30 Agustus 2026 | 03:09:00 WIB

LITERASIKEUANGAN.COM — Ribuan muktamirin memadati area Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur. Di sela riuhnya pembahasan organisasi, para pedagang suvenir justru melihat peluang besar. Peci, pin berlambang NU, tasbih, kaus bertuliskan Muktamar ke-35, hingga jas khas peserta berjejer di lapak-lapak sederhana di sekitar lokasi.

Omzet yang Bisa Capai Puluhan Juta

Azwar Anas datang dari Jakarta membawa dagangannya. Ia mengaku dalam satu gelaran Muktamar NU, pendapatan kotor yang ia raup bisa mencapai Rp15 juta hingga Rp40 juta.

Namun angka itu tidak datang dengan mudah. Ada modal barang, ongkos perjalanan dari Jakarta, serta risiko dagangan yang belum tentu laku semua. "Kami berharap karena datang dari jauh, semoga lancar semua, habis, walaupun enggak habis setidaknya separuh jalan. Tapi enggak tahu ekonomi sekarang bagaimana," ucapnya.

Harga Pin dan Jas di Lapak Muktamar

Di lapaknya, Azwar menjual pin NU dengan harga bervariasi. "Harga pin ini beda-beda ada yang Rp35 ribu, Rp25 ribu sampai Rp10 ribu, kalau jas kisaran Rp350 ribuan," jelasnya.

Hari-hari awal muktamar belum menjadi momen terbaik baginya. Kerumunan memang padat, tetapi sebagian besar pengunjung masih sekadar melihat-lihat dan membandingkan harga. Azwar sudah paham pola ini dari pengalaman mengikuti muktamar sebelumnya.

"Biasanya kalau sudah mulai voting baru orang mau belanja, nampak nilai belanja orang. Kalau masih awal begini slow saja, nanya dulu," katanya.

Momentum yang Hanya Datang Sekali Lima Tahun

Bagi Azwar, muktamar bukan sekadar forum para kiai membahas masa depan jam'iyah. Perhelatan ini juga menghadirkan pasar musiman yang hanya muncul pada momentum tertentu.

Mereka yang berjualan di luar pagar tidak punya hak suara dalam menentukan kepemimpinan NU. Mereka tidak duduk di ruang pleno. Namun kehadiran mereka menjadi denyut ekonomi yang ikut bergerak mengikuti irama perhelatan akbar tersebut.

Setiap orang yang berhenti di lapaknya adalah harapan. Setiap transaksi adalah secercah rezeki yang ingin dibawa pulang setelah berhari-hari menunggu di tengah pesta besar Nahdlatul Ulama.

Terkini