Laba Kotor TOBA Naik Dua Kali Lipat pada Semester I/2026

Jumat, 28 Agustus 2026 | 05:02:31 WIB
PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA). (Foto: NET)

JAKARTA — PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) berhasil membukukan kenaikan laba kotor konsolidasi hingga lebih dari dua kali lipat selama paruh pertama tahun 2026. Capaian positif ini ditopang utama oleh kontribusi signifikan dari lini bisnis non-batu bara perseroan.

Direktur sekaligus Chief Financial Officer TOBA, Juli Oktarina, menjelaskan bahwa sepanjang periode Januari hingga Juni 2026, perseroan mengantongi laba kotor konsolidasi senilai US$28,2 juta (sekitar Rp503,57 miliar berdasarkan kurs Rp17.857,14 per dolar AS). 

Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan perolehan pada semester I/2025 yang berada di angka US$13,9 juta (sekitar Rp248,21 miliar). 

Kenaikan ini didukung oleh efisiensi yang memangkas beban pokok pendapatan sebesar US$13,5 juta (sekitar Rp241,07 miliar), sehingga mendongkrak margin kotor dari 8,1% menjadi 16,3%.

Pada sisi pendapatan atas kontrak dengan pelanggan, nilainya tercatat tumbuh tipis dari US$172,21 juta (sekitar Rp3,08 triliun) menjadi US$173,02 juta (sekitar Rp3,09 triliun). 

Dari total nilai tersebut, segmen pengelolaan limbah mendominasi dengan menyumbang 61,2% terhadap pendapatan konsolidasi serta 92% dari EBITDA konsolidasi. Pendapatan lini usaha ini tercatat menembus US$105,9 juta (sekitar Rp1,89 triliun) atau mengalami lonjakan sebesar 77,8% secara tahunan (YoY).

"Tahun lalu batu bara masih jadi penyumbang utama pendapatan kami. Hari ini bisnis non-batu bara kami dua kali lipat lebih besar, dan bisnis ini lah yang menghasilkan kas. Ini lah transisi yang kami janjikan, dan kuartal kedua menunjukkan kami berada di jalur yang benar untuk bertransformasi menjadi bisnis infrastruktur berkelanjutan," ujar Juli melalui keterangan resmi pada Jumat (28/8/2026).

Dari aspek profitabilitas lini pengelolaan limbah, laba kotornya melesat 91,9% YoY menjadi US$17,6 juta (sekitar Rp314,29 miliar) dari sebelumnya US$9,2 juta (sekitar Rp164,29 miliar), yang membuat margin segmen ikut terkerek naik ke level 16,6% dari 15,4%. 

Perolehan EBITDA pada segmen ini juga melonjak lebih dari dua kali lipat hingga mencapai US$23,6 juta (sekitar Rp421,43 miliar) dibandingkan periode serupa tahun lalu. 

Sementara itu, segmen kendaraan listrik turut menunjukkan kinerja gemilang dengan pertumbuhan pendapatan hingga 184% YoY menjadi US$9,1 juta (sekitar Rp162,50 miliar). 

Laba kotor segmen kendaraan listrik ini bahkan berbalik positif menjadi US$0,4 juta (sekitar Rp7,14 miliar) dari posisi sebelumnya yang masih merugi US$0,5 juta (sekitar Rp8,93 miliar), disusul perolehan EBITDA segmen yang ikut berbalik menjadi laba sebesar US$0,5 juta (sekitar Rp8,93 miliar).

Sebaliknya, pada lini bisnis konvensional yang secara bertahap mulai ditinggalkan, pendapatan dari segmen batu bara mengalami koreksi 4,1% YoY menjadi US$34,9 juta (sekitar Rp623,21 miliar). 

Kendati demikian, laba kotor segmen ini justru menanjak ke angka US$9,3 juta (sekitar Rp166,07 miliar) dari catatan sebelumnya sebesar US$1,3 juta (sekitar Rp23,21 miliar), mengerek margin segmen dari 3,5% menjadi 26,6% berkat penurunan biaya produksi. 

Peningkatan efisiensi tersebut turut memperbaiki EBITDA segmen batu bara menjadi positif senilai US$1,3 juta (sekitar Rp23,21 miliar), membaik dari posisi rugi US$11,1 juta (sekitar Rp198,21 miliar) pada semester pertama tahun sebelumnya.

Secara konsolidasian pada sisi bottom line, TOBA masih membukukan rugi bersih sebesar US$19,65 juta (sekitar Rp350,89 miliar). Meskipun masih berada di zona negatif, nilai kerugian tersebut menyusut drastis apabila dibandingkan dengan periode semester I/2025 yang mencatatkan rugi bersih hingga US$115,61 juta (sekitar Rp2,06 triliun). 

"Rugi perseroan menyusut signifikan seiring tidak berulangnya kerugian divestasi 2025. Meski masih mencatat rugi, kerugian tersebut berasal dari langkah-langkah yang diperlukan untuk transisi bisnis," imbuh Juli.

Lebih lanjut dirincikan bahwa rugi tersebut bersumber dari rugi non-kas akibat depresiasi serta amortisasi seiring akuisisi Cora Environment, serta rugi berbasis kas yang timbul dari beban pendanaan aksi korporasi berupa merger dan akuisisi guna mendukung percepatan transisi menuju infrastruktur berkelanjutan serta pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

Terkini

SiCepat Fokus Perkuat Segmen B2B dan Drop Point

Jumat, 28 Agustus 2026 | 05:36:01 WIB

Laba WINE Turun 21% Meski Penjualan Naik

Jumat, 28 Agustus 2026 | 05:28:01 WIB

PART Incar Lonjakan Laba 2026 Lewat Diversifikasi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 05:23:02 WIB