LITERASIKEUANGAN.COM — Jumlah penjual online yang memanfaatkan siaran langsung untuk berjualan kini mencapai sekitar 800 ribu. Dari kanal tersebut, Airlangga mencatat transaksi melonjak hingga 2,6 miliar kali—lompatan hampir 90 persen—sementara jumlah penjualnya naik sekitar 75 persen. Ia menyampaikan hal ini dalam acara Kick Off Road to Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2026 di Kementerian Perdagangan, Kamis (27/8).
Kanal Offline Masih Mendominasi, Omnichannel Jadi Kunci
Meski jualan live makin marak, porsi penjualan offline masih menyumbang dua pertiga dari total nilai perdagangan nasional. Sisanya, sepertiga nilai transaksi, berasal dari e-commerce. Airlangga menyebut kondisi ini sebagai era omnichannel, di mana konsumen tidak lagi membedakan belanja di toko fisik dengan daring.
"Jadi kalau sekarang trennya (belanja online) tetap baik, terjadi tentu dual channel atau kita sering sebut sebagai omnichannel di mana video commerce itu berjalan dan trennya malah naik," ujarnya di Jakarta Pusat.
Dari US$100 Miliar ke US$600 Miliar: Target Besar Ekonomi Digital
Pemerintah mencatat nilai ekonomi digital Indonesia telah mencapai sekitar US$100 miliar pada 2025. Dengan asumsi kurs Rp17.748 per dolar AS, angka itu setara Rp1.775,30 triliun. Target jangka menengahnya jauh lebih ambisius: US$600 miliar (Rp10.648,80 triliun), seiring penguatan pasar digital ASEAN melalui Digital Economic Framework Agreement (DEFA).
Lewat DEFA, pasar digital ASEAN yang tadinya diproyeksikan US$1 triliun disebut berpotensi melejit menjadi US$2 triliun (Rp35.500 triliun). Indonesia diperkirakan menangkap 30–40 persen dari total pasar tersebut. Salah satu "buah menggantung" yang paling cepat dieksekusi adalah sistem pembayaran lintas negara.
"Kita sudah punya payment system yang QRIS yang diharapkan bisa digunakan di seluruh negara ASEAN," kata Airlangga. Saat ini QRIS baru dipakai di lima negara ASEAN. Bagi pedagang, skema ini juga menekan biaya transaksi karena tidak ada merchant discount.
Teknologi dan AI Jadi Tulang Punggung Perdagangan Digital
Airlangga menambahkan, adopsi kecerdasan buatan (AI) dalam perdagangan digital semakin dibutuhkan. Teknologi itu dipakai untuk mengelola stok, memetakan permintaan, hingga menentukan produk yang direkomendasikan sesuai preferensi konsumen. Ini menjadi fondasi bagi UMKM agar bisa menjangkau pasar global.
Harbolnas 2026: Target Rp40 Triliun dan Cakupan yang Lebih Luas
Momentum belanja online tahunan akan kembali digenjot lewat Harbolnas yang dijadwalkan berlangsung pada 10–16 Desember 2026. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut transaksi Harbolnas 2025 mencapai Rp36,4 triliun, tumbuh 17 persen dari Rp31,2 triliun pada tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, produk lokal menyumbang Rp16,6 triliun atau 45 persen dari total nilai transaksi.
Tiga kategori produk lokal paling laris adalah fesyen dan pakaian olahraga, produk perawatan, serta makanan dan minuman. Untuk edisi 2026, pemerintah memasang target pertumbuhan 5–10 persen dari capaian tahun lalu, atau mendekati Rp40 triliun.
Cakupan Harbolnas tahun depan juga diperluas. Tidak hanya barang fisik, tapi mencakup jasa, akomodasi, tiket transportasi, online travel agent, ride-hailing, hingga social commerce. Perluasan ini merupakan implementasi Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 19 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Usaha Perdagangan Melalui Sistem Elektronik.
Bagi pemerintah, target transaksi Harbolnas bukan sekadar gimik. Airlangga menegaskan agenda ini penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2026 menuju 6 persen, sekaligus menjadi pijakan untuk mencapai target pertumbuhan 6 persen pada 2027.