Bos DCII Beberkan Pekerjaan Rumah RI Menjadi Hub Pusat Data Dunia

Jumat, 28 Agustus 2026 | 05:41:02 WIB
Otto Toto Sugiri selaku tokoh industri pusat data nasional sekaligus pimpinan PT DCI Indonesia Tbk. (DCII). (Foto: NET)

JAKARTA – Kebutuhan industri terhadap kecerdasan buatan (AI) telah memicu lonjakan permintaan pusat data di Tanah Air secara masif. Berbagai tantangan kini menjadi fokus perhatian pemerintah bersama para pelaku industri guna menjamin kelancaran pembangunan pusat data di dalam negeri. 

Otto Toto Sugiri selaku tokoh industri pusat data nasional sekaligus pimpinan PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) mengemukakan bahwa kerja sama antara pemerintah dan sektor swasta harus dipusatkan pada ketersediaan daya listrik serta pasokan air.

Mengenai ketersediaan pasokan listrik, Toto menilai bahwa pemanfaatan sumber energi hijau akan menjadi fondasi ketahanan industri dalam jangka panjang. Langkah tersebut krusial mengingat cadangan batu bara sebagai sumber energi fosil semakin menipis. 

Oleh karena itu, menurutnya, berbagai program energi hijau dari pemerintah wajib diselaraskan dengan baik serta melibatkan peran aktif sektor swasta. Di sisi lain, sektor swasta dipandang perlu meningkatkan inisiatif serupa demi mempercepat kesiapan Indonesia dalam mengakomodasi infrastruktur pusat data.

Di dalam sesi BATIC 2026 di Nusa Dua, Bali, Kamis (27/8/2026), Toto menyampaikan, ”Dalam jangka panjang, kami harus percaya sumber energi berbasis fosil akan habis, sementara dunia butuh lebih banyak listrik. Jadi inisiatif energi hijau pemerintah harus dikoordinasikan dengan baik dan merangkul sektor swasta.”

Selain aspek energi, Toto Sugiri mengungkapkan bahwa pemerintah perlu mempermudah akses permodalan bagi perusahaan rintisan (startup) dalam tingkat yang lebih praktis. 

Menurut pandangannya, para pelaku usaha pemula saat ini kerap menghadapi hambatan pembiayaan, sehingga kemudahan berusaha dari pihak swasta menjadi poin yang sangat krusial.

Di samping itu, Toto turut memberikan perhatian khusus pada peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi sektor industri. 

Menurutnya, terdapat sebuah dilema tersendiri di mana industri dituntut untuk membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya, namun di sisi lain juga harus mendorong generasi muda menciptakan jenis pekerjaan bernilai tambah tinggi demi mengoperasikan teknologi mutakhir.

Toto menambahkan, ”Di tingkat infrastruktur, kami masih punya pekerjaan rumah. Tapi prioritas lainnya adalah pengembangan kompetensi di bidang pendidikan, mengarahkan generasi muda ke area yang lebih produktif, seperti menggunakan AI untuk industri manufaktur dan lainnya.”

Lebih lanjut, Toto menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya telah mengantongi hampir seluruh prasyarat yang dibutuhkan sebuah negara untuk mengembangkan ekosistem AI. 

Jumlah penduduk yang besar, kekayaan sumber daya alam, serta dinamika geopolitik global telah memberikan peluang emas bagi Tanah Air, yang sekaligus mendongkrak permintaan pelatihan AI di kawasan Asia Tenggara.

Toto bahkan memperkirakan kapasitas total pusat data di Indonesia berpotensi menembus angka 1,4 gigawatt (GW) pada penghujung tahun 2026, melonjak signifikan dari kapasitas saat ini yang berada di kisaran 400 megawatt (MW). 

Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa sebaran pusat data di dalam negeri harus merata serta senantiasa memerhatikan kenyamanan masyarakat sekitar.

Lebih lanjut, Toto menegaskan, ”Tapi kami harus belajar dari masalah di negara lain, seperti AS dan Eropa, di mana penduduk mulai memprotes. Kami harus menghindarinya. Pusat data tidak boleh memakan air dan listrik jatah penduduk.”

Berdasarkan alasan tersebut, Toto menekankan agar para pelaku industri bersama pemerintah memindahkan pusat data berkapasitas besar menuju kawasan-kawasan industri yang telah dilengkapi fasilitas pengolahan air mandiri. Menurutnya, Pulau Jawa tidak boleh dijadikan sebagai satu-satunya pusat data hub. 

Infrastruktur berkapasitas masif itu dinilai harus mulai direlokasi ke wilayah alternatif seperti Bintan atau Batam, yang memiliki ketersediaan ruang serta sumber daya air yang memadai tanpa harus mengganggu aktivitas kehidupan masyarakat secara signifikan.

Terkini