Kapan Waktu yang Tepat untuk Melakukan Metode Double Cleansing?

Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:32:01 WIB
Ilustrasi - Membersihkan muka. (Foto: NET)

JAKARTA - Membersihkan muka memakai dua jenis pencuci sekaligus telah lama dikenal sebagai bagian dari perawatan kulit, terutama pada malam hari. Langkah ini umumnya dijalankan dengan memakai pembersih bermateri dasar minyak atau cleansing balm terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan pembersih bermateri dasar air. 

Tujuannya guna membantu mengangkat tabir surya, riasan wajah, serta sisa produk yang melekat di kulit. Akan tetapi, metode tersebut bukan berarti semakin banyak membersihkan muka bakal selalu semakin baik.

Dermatolog asal New York, Julie Russak, menyatakan kebutuhan untuk menjalankan rutinitas itu bergantung pada kebiasaan yang dijalani seseorang, terutama pemakaian tabir surya dan riasan wajah. 

“Ini merupakan penerapan prinsip kimia yang masuk akal, bukan sekadar tren perawatan kulit,” tutur Russak, disadur dari Brydie.

Metode tersebut bisa menjadi pilihan manakala muka memakai produk yang sulit dibersihkan hanya dengan satu kali pencucian, seperti tabir surya atau riasan wajah. 

Russak menguraikan, pembersih bermateri dasar minyak atau balm dapat dipakai terlebih dahulu guna melarutkan tabir surya dan riasan wajah. Setelah itu, pembersih bermateri dasar gel dipakai guna membersihkan sisa kotoran yang masih tertinggal di kulit.

Pembersih minyak bekerja dengan baik untuk produk yang tahan air karena mampu membantu melarutkan zat berbasis minyak, termasuk tabir surya dan riasan wajah. Sesudah diaplikasikan pada kulit kering, pembersih tersebut kemudian dapat diemulsikan dengan air sebelum dibilas. 

Menariknya, pembersih bermateri dasar minyak tidak otomatis menjadi pilihan yang buruk bagi pemilik kulit berminyak. Russak menyatakan produk yang bersifat nonkomedogenik dapat dipakai pada berbagai jenis kulit, termasuk kulit berminyak serta rentan berjerawat.

Kendati demikian, langkah tersebut tidak harus menjadi kebiasaan wajib bagi setiap orang. Russak menyatakan orang dengan kulit yang masih muda dan hanya memakai sedikit produk perawatan kulit tidak membutuhkan pembersihan muka dalam dua tahap. 

Begitu pula pemilik kulit kering pada masa menopause yang umumnya dapat memakai pembersih bermateri dasar susu atau milk cleanser.

Dengan kata lain, kebutuhan kulit perlu menjadi pertimbangan sebelum menambahkan tahapan baru dalam kebiasaan perawatan muka. 

Banyaknya tahapan produk perawatan tidak selalu berarti kulit akan memperoleh hasil yang lebih baik. Dermatolog Danny Guo juga menguraikan bahwa pemilihan pembersih sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kulit, bukan hanya berdasarkan teksturnya. 

Kulit kering serta dehidrasi, contohnya, dapat lebih sesuai dengan pembersih berbentuk krim atau minyak, sedangkan formula berbentuk gel umumnya lebih cocok untuk kulit berminyak. Akan tetapi, pembagian tersebut bukan aturan yang mutlak.

Alih-alih membuat kulit semakin bersih, membersihkan muka secara berlebihan justru dapat mendatangkan masalah. Russak menyebut masalah tersebut sebagai gangguan klinis yang nyata, tetapi sering tidak disadari karena orang jarang mengaitkan keluhan kulit dengan kebiasaan membersihkan muka. 

“Namun, tanda-tandanya konsisten, yaitu kulit terus terasa kencang, semakin sensitif, lapisan pelindung kulit terganggu, dan jerawat justru semakin banyak meski wajah lebih sering dibersihkan,” jelas Russak.

Kondisi tersebut dapat muncul manakala seseorang terlalu mengejar sensasi kulit yang terasa sangat bersih sesudah mencuci muka. Russak mengingatkan, sensasi kulit yang terasa kencang dan benar-benar kesat sesudah mencuci muka bukan selalu tanda bahwa pembersihan telah dijalankan dengan baik.

Pada formula gel tertentu yang mengandung banyak sulfat, pemakaian dua kali sehari bersama air panas bahkan berisiko mengikis lapisan pelindung kulit.

Oleh karena itu, metode tersebut sebaiknya dipandang sebagai langkah yang dipakai sesuai kebutuhan, bukan kewajiban dalam setiap kebiasaan perawatan. 

Jika muka sehari-hari hanya memakai sedikit produk dan tidak banyak terpapar riasan atau tabir surya yang sulit dibersihkan, satu kali pembersihan dengan produk yang sesuai mungkin sudah cukup. 

Sebaliknya, bagi mereka yang memakai tabir surya atau riasan wajah secara rutin, terutama produk yang tahan air, dua tahap pembersihan dapat membantu memastikan sisa produk terangkat.

Pada akhirnya, kebiasaan membersihkan muka tidak perlu dibuat semakin panjang hanya demi memperoleh sensasi kulit yang benar-benar kesat. 

Ketika kulit mulai terasa kencang, sensitif, atau justru semakin bermasalah sesudah lebih sering dibersihkan, bisa jadi yang dibutuhkan bukan pembersih tambahan, melainkan mengurangi tahapan yang tidak diperlukan.

Terkini