JAKARTA - Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut batas paling rendah harga saham Rp50 atau gocap berpotensi membuka ruang transaksi baru bagi saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO). Kemudian, seberapa jauh saham GOTO bisa merosot?
Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menerangkan bahwa pencabutan batas paling rendah ini mampu membuka antrean saham yang selama ini tertahan di posisi Rp50, sehingga memberi jalan keluar bagi investor sekaligus membolehkan harga terbentuk sesuai dengan kekuatan permintaan serta penawaran.
Beliau mencontohkan saham GOTO misalnya yang saat ini dihargai Rp50 per saham, dapat bergerak di bawah Rp50 jika BEI membuka perdagangan saham sampai Rp1 di pasar reguler dan pasar tunai.
Namun, arah pergerakan saham emiten teknologi tersebut tetap akan ditentukan oleh fundamental, sentimen, serta kekuatan permintaan dan penawaran.
“GOTO, misalnya, secara teori memang bisa turun perlahan sampai Rp1, tapi tentu tidak otomatis hanya gara-gara aturannya berubah. Tetap tergantung fundamental, sentimen, serta kekuatan jual-belinya,” kata Liza, dikutip pada Minggu (23/8/2026).
Menurutnya, pencabutan batas harga paling rendah bukan sekadar mengubah nominal yang tampak di layar perdagangan. Kebijakan itu sungguh membuka peluang saham ditransaksikan hingga Rp1 dalam mekanisme continuous auction di pasar reguler dan pasar tunai.
Bagi saham-saham yang selama ini tertahan di posisi Rp50, Liza menilai kebijakan ini bisa membuka kembali proses pembentukan harga atau price discovery.
Investor yang ingin melepas saham tidak lagi harus mengantre di harga paling rendah yang berlaku saat ini, sementara harga berpeluang bergerak lebih mencerminkan situasi permintaan dan penawaran.
Walau demikian, Liza mengingatkan harga yang lebih rendah juga tidak selalu berarti saham tersebut menjadi lebih menarik. Ancaman tersebut terutama wajib diperhatikan investor ritel yang berpotensi menganggap saham berharga murah sebagai peluang penanaman modal.
“Dari sisi investor ritel, risikonya lumayan besar karena harga nominal rendah gampang menimbulkan kesan sudah murah, padahal bisa saja kondisi fundamentalnya memang terus memburuk dan nilai investasinya nyaris habis,” ujarnya.
Di samping itu, rentang harga Rp1 hingga Rp10 juga berpotensi menciptakan volatilitas yang jauh lebih ekstrem. Perubahan harga senilai Rp1 mampu menghasilkan persentase perubahan yang besar.
Saham yang naik dari Rp1 menjadi Rp2, misalnya, mencatatkan kenaikan 100%, sedangkan penurunan dari Rp2 ke Rp1 berarti kerugian 50%.
Liza menilai kebijakan tersebut dapat meningkatkan aktivitas perdagangan saham berharga rendah, tetapi lonjakan frekuensi dan nilai transaksi tidak otomatis menunjukkan likuiditas pasar menjadi lebih sehat.
Aktivitas yang meningkat justru bisa mencerminkan spekulasi yang semakin ramai pada saham-saham bermasalah. Di sisi lain, perubahan batas harga paling rendah juga belum tentu membuat saham-saham tersebut lebih menarik bagi investor institusi maupun asing.
Menurut Liza, kelompok investor tersebut tetap mempertimbangkan fundamental perusahaan, tata kelola, transparansi free float, kedalaman likuiditas, serta kemudahan keluar dan masuk ke saham tanpa menggerakkan harga secara signifikan.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai rencana pencabutan batas harga paling rendah Rp50 pada dasarnya positif karena mampu memperbaiki proses pembentukan harga (price discovery), meski kebijakan tersebut tidak serta-merta mendongkrak likuiditas pasar secara keseluruhan.
Menurutnya, batas harga gocap selama ini membuat saham yang terus mengalami tekanan jual berisiko terkunci di posisi tersebut sehingga harga tidak lagi mencerminkan situasi fundamental emiten.
Budi melanjutkan jika batas tersebut dihapus, saham dapat kembali bergerak menuju harga keseimbangan baru sehingga proses price discovery menjadi lebih optimal.
“Kasus GOTO menjadi salah satu contoh. Saham GOTO tertahan di level Rp50 sejak Mei 2026 sehingga likuiditasnya menurun dan kemudian dikeluarkan dari indeks MSCI karena persoalan index replicability,” ujar Budi, Kamis (20/8/2026).
Dia melanjutkan, jika harga saham bisa merosot ke bawah Rp50, transaksi dapat kembali terjadi pada harga keseimbangan baru. Dengan aturan ini, menurutnya manfaat utamanya adalah price discovery yang lebih baik, dan berpotensi memperbaiki likuiditas.
Budi menjelaskan bagi investor ritel, pencabutan batas tersebut memberikan manfaat sekaligus mendongkrak ancaman.