Kebiasaan Tidur Larut Bisa Hambat Tinggi Badan Anak, Ini Alasannya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:15:01 WIB
Ilustrasi tinggi anak [FOTO: NET].

JAKARTA - Kebiasaan tidur terlalu malam atau begadang rupanya dapat memengaruhi pertumbuhan tinggi badan anak. Hal tersebut dikonfirmasi oleh dosen IPB University dari Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz), dr Ditia Gilang Shah Putra Rahim, SpA, MARS.

"Benar. Kebiasaan tidur terlalu malam dapat memengaruhi tinggi badan anak. Anak yang kurang tidur berisiko memiliki tinggi badan yang lebih pendek. Hal ini berhubungan dengan produksi hormon pertumbuhan yang paling banyak keluar selama anak tidur," ujarnya dikutip dari laman IPB University.

Hormon Pertumbuhan Meningkat Saat Tidur

Ia memaparkan, hormon pertumbuhan diproduksi oleh kelenjar pituitari di dalam otak dan mencapai kadar resapan puncaknya sewaktu fase deep slow-wave sleep (SWS), yaitu bagian dari fase tidur non-rapid eye movement (NREM). Pada fase ini, hormon pertumbuhan dialirkan menuju jaringan tubuh yang memegang peran membenahi jaringan, membentuk otot, serta menguatkan struktur tulang.

Menurut dr Gilang, fase pubertas memang menjadi momentum terjadinya lonjakan pertumbuhan tinggi badan akibat kenaikan hormon seks dan hormon pertumbuhan. Kendati demikian, pertumbuhan yang optimal sejatinya mesti disiapkan sejak sebelum memasuki masa pubertas lewat gaya hidup sehat.

Gizi Seimbang Lebih Penting dari Suplemen

Di samping pemenuhan tidur yang cukup, ia menegaskan pentingnya asupan gizi yang seimbang. dr Gilang meluruskan anggapan bahwasanya mengonsumsi susu saja sudah memadai untuk membuat tubuh anak bertambah tinggi.

"Jadi konsumsi susu saja tidak cukup. Harus ada kombinasi dari variasi zat gizi makro dan mikro yang seimbang," katanya.

Ia menguraikan, anak memerlukan pasokan karbohidrat kompleks, protein hewani, lemak, vitamin D, vitamin K, kalsium, zink, magnesium, serta fosfor guna menopang pertumbuhan tulang secara maksimal. Ada pun pemberian suplemen cuma berfungsi sebagai penunjang dan diberikan berpatokan pada kebutuhan, misalnya saat anak mengalami defisiensi vitamin atau kendala penyerapan nutrisi.

dr Gilang mengimbau para orang tua untuk memupuk kebiasaan hidup sehat dengan menjaga pola makan bergizi seimbang, menerapkan jadwal tidur harian secara konsisten, serta mengarahkan anak agar rutin berolahraga. Ia juga mengingatkan supaya aktivitas penggunaan gawai dihentikan paling tidak satu jam sebelum waktu tidur.

"Durasi tidur yang dianjurkan bervariasi sesuai usia, mulai dari 9-12 jam untuk anak usia sekolah hingga 8-10 jam untuk remaja," tuturnya.

Berapa Lama Anak Sebaiknya Tidur?

Kebutuhan waktu tidur anak dalam kurun 24 jam sejatinya bervariasi menyesuaikan kelompok usianya, merujuk pada pedoman American Academy of Pediatrics. Berikut acuan jam tidur anak berpatokan pada usianya:

Bayi berumur 4 sampai 12 bulan memerlukan durasi tidur paling lama, yakni 12 hingga 16 jam sehari, sudah mencakup alokasi tidur siang.

Anak umur 1 sampai 2 tahun dianjurkan beristirahat 11 hingga 14 jam.

Anak umur 3 sampai 5 tahun membutuhkan durasi 10 hingga 13 jam, dengan keduanya tetap memosisikan tidur siang sebagai bagian dari total durasi tersebut.

Memasuki usia sekolah, yakni 6 hingga 12 tahun, anak pada umumnya tak lagi memerlukan tidur siang dan cukup memenuhi tidur malam selama 9 hingga 12 jam.

Kebutuhan durasi ini terus melandai hingga masa remaja usia 13 sampai 18 tahun, dengan rekomendasi durasi tidur malam berkisar 8 hingga 10 jam.

Terkini