3.704 Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan Barat, Ketapang Tertinggi

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:42:01 WIB
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Barat mendeteksi sebanyak 3.704 titik panas (hotspot). (Foto: NET)

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Barat mendeteksi sebanyak 3.704 titik panas (hotspot) yang tersebar di sejumlah daerah Kalimantan Barat. Informasi tersebut merupakan pembaruan dari BMKG Kalimantan Barat pada Sabtu (22/8/2026) pukul 07.00 WIB.

Meninjau derajat kepercayaannya, sebanyak 3.100 titik panas berada pada tingkat menengah. Kemudian, 406 titik memiliki derajat kepercayaan rendah serta 198 titik masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi.

Kabupaten Ketapang menjadi kawasan dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni mencapai 1.748 titik. Selanjutnya, Sanggau tercatat mempunyai 343 titik, Sintang 278 titik, Sekadau 227 titik, Kubu Raya 214 titik, Kayong Utara 208 titik, dan Kapuas Hulu 205 titik.

Sementara itu, Melawi tercatat mempunyai 160 titik panas, Landak 151 titik, Sambas 69 titik, Bengkayang 82 titik, Mempawah 14 titik, dan Singkawang 5 titik. Adapun Kota Pontianak tidak tercatat mempunyai titik panas dalam pengamatan tersebut.

BMKG menerangkan, pemantauan titik panas dilaksanakan memakai sensor VIIRS serta MODIS yang terdapat pada beberapa satelit, di antaranya NOAA-20, Suomi NPP, Terra, dan Aqua. Sensor itu mengidentifikasi anomali suhu permukaan yang lebih panas dibandingkan kondisi di sekitarnya.

Kejanggalan tersebut sanggup menjadi petunjuk adanya kegiatan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pengawasan dilakukan pada siang serta malam hari untuk masing-masing satelit.

Walakin, BMKG mengingatkan bahwa keberadaan titik panas tidak senantiasa sanggup terpantau secara optimal. Kawasan yang tertutup awan serta berada di area blank zone sanggup menyebabkan titik panas tidak terdeteksi oleh sistem pemantauan satelit.

"Dengan tingginya jumlah hotspot yang terpantau, terutama di sejumlah kabupaten, data tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat," demikian isi laporan tersebut, Sabtu (22/8/2026).

Terkini