Pertamina NRE Bangun Ekosistem Biometanol Limbah Sawit

Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:14:02 WIB
bahan bakar biodiesel campuran 50% atau B50 [FOTO: NET].

JAKARTA - Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) mengawali pembangunan rantai nilai biometanol berbahan dasar limbah industri kelapa sawit guna memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun global. Langkah tersebut diwujudkan Pertamina NRE lewat penandatanganan tiga kesepakatan strategis demi mengembangkan ekosistem biometanol berbasis biogas secara end-to-end pada Jumat (14/8/2026) lalu.

Tiga kesepakatan itu mencakup Joint Development Agreement (JDA) bersama perusahaan teknologi asal Singapura CRecTech Pte. Ltd., Heads of Agreement (HoA) mendampingi PT Pertamina Petrochemical Trading atau Pertachem, serta Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pertamina International Marketing & Distribution Pte. Ltd. (PIMD).

Direktur Utama Pertamina NRE John Anis mengutarakan bahwa jalinan tiga kesepakatan tersebut merupakan langkah nyata perseroan dalam membentuk rantai nilai bio-metanol dari tahap produksi hingga pemasaran.

"Ini merupakan bukti konkret bahwa kami sedang membangun rantai nilai secara lengkap, mulai dari produksi bersama CRecTech, domestic offtake bersama Pertachem, hingga membuka jalur menuju pasar bahan bakar maritim internasional bersama PIMD," ujar John dikutip dari keterangan resminya, Rabu (19/8/2026).

Mengenai detailnya, melalui JDA bersama CRecTech, Pertamina NRE siap merancang fasilitas percontohan biogas-to-bio-methanol di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatra Utara.

Fasilitas percontohan ini dirancang mampu memproduksi sekitar 50 ton biometanol per tahun dengan memanfaatkan biogas dari Palm Oil Mill Effluent (POME) pada PLTBg Sei Mangkei kepunyaan Pertamina NRE. Terobosan teknologi katalis CRecREF milik CRecTech memungkinkan proses konversi biogas menuju metanol terlaksana hanya dalam dua tahapan. Alur ini tergolong lebih praktis dibanding sistem konvensional yang memerlukan empat tahapan, sehingga berpotensi memangkas biaya produksi hingga 50%.

Unit fasilitas percontohan tersebut ke depannya bakal dijadikan landasan utama bagi pengembangan proyek dalam skala komersial.

Di area hilir, Pertamina NRE bermitra dengan Pertachem guna meretas akses penyerapan bio-metanol untuk kebutuhan pasar dalam negeri. Kedua pihak turut merumuskan kerangka kerja menuju skema offtake jangka panjang saat proyek ini melangkah ke fase komersial. Penguatan pasar domestik dinilai krusial mengingat angka kebutuhan metanol nasional hampir menyentuh 2 juta ton per tahun, yang mana sekitar dua pertiganya saat ini masih dipasok via jalur impor.

Sementara itu, kolaborasi dengan PIMD difokuskan untuk menjajaki peluang penyediaan serta pemasaran bio-metanol sebagai bahan bakar armada kapal (marine fuel) dan bunkering di kancah internasional.

John mengimbuhi, pengembangan ini membuka ruang pemanfaatan limbah industri kelapa sawit menjadi komoditas energi bernilai tambah. Strategi tersebut sekaligus ditujukan guna menopang ketahanan energi nasional dan pencapaian target Net Zero Emission Indonesia 2060.

CEO CRecTech Dr. Kang Hui Lim menyampaikan bahwa pembangunan bio-metanol memerlukan sinergi kolaboratif mulai dari aspek teknologi, infrastruktur, rantai produksi, hingga penetrasi pasar.

"Kami melihat nilai yang kuat dalam kerja sama ini. Pertamina membawa pengetahuan mengenai Indonesia, infrastruktur energi, pelanggan, dan pasar, sementara CRecTech membawa teknologi dan pengalaman. Bersama-sama, kami dapat menghubungkan teknologi, produksi, komersialisasi, dan kebutuhan pasar yang akan menjadi kunci bagi pengembangan selanjutnya," tutur Kang.

Pertachem turut menganggap pengembangan bio-metanol ini sebagai momentum berharga untuk meletakkan pondasi lini bisnis baru. Direktur Utama PT Pertamina Petrochemical Trading Aribawa mengemukakan bahwa metanol telah masuk ke dalam portofolio perdagangan Pertachem.

Aribawa menjelaskan, metanol telah menjadi bagian dari portofolio perdagangan Pertachem. Berbekal dukungan teknologi CRecTech serta kekuatan sumber daya dan kapasitas energi terbarukan dari Pertamina NRE, pihak terkait berharap mampu mengakselerasi pemanfaatan bio-metanol.

"Bagi Pertachem, kesepakatan ini merupakan langkah nyata untuk membangun fondasi bisnis baru yang dapat terus berkembang," ujarnya.

Inisiatif pengembangan bio-metanol berbasis biogas ini didesain pula untuk menangkap emisi metana yang mulanya terbuang ke udara bebas dengan memfungsikan POME sebagai bahan baku biogas. Pertamina NRE menyatakan bahwa proyek ini sanggup mengalihsatukan limbah industri kelapa sawit menjadi pasokan energi bernilai tinggi, sekaligus membuka celah pemanfaatan biometanol untuk pemenuhan kebutuhan domestik maupun pasar global.

Terkini