Harga Minyak Dunia Berpeluang Berbalik Bearish di Penghujung Tahun 2026

Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:39:02 WIB
Harga minyak mentah diprediksi berbalik bearish akhir 2026 seiring potensi pulihnya pasokan global jika konflik Iran-Amerika Serikat segera menemui jalan damai. (Foto: NET)

JAKARTA - Proyeksi nilai komoditas minyak mentah kemungkinan berubah menjadi bearish menjelang tutup tahun 2026, setelah dalam durasi dekat masih memperoleh sokongan dari ancaman hambatan distribusi di Timur Tengah. 

Normalisasi jalur pengiriman manakala perselisihan Iran-Amerika Serikat usai menjadi elemen yang mampu mendorong banderol minyak ke titik lebih rendah. 

Mengacu pada informasi Trading Economics pada Rabu (19/8/2026) jam 14.16 WIB, nilai minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bertengger di posisi US$ 85,607 per barel, tumbuh 0,79% dari sesi transaksi sebelumnya. 

Sementara itu, nilai Brent ada di posisi US$ 91,676 per barel atau menguat 0,72%. Secara mingguan, nilai WTI sudah terkerek 2,81%, sedangkan Brent melonjak 3,06%. Secara tahunan, WTI merekam kenaikan 36,52% dan Brent sejumlah 37,19%.

Research and Development ICDX, Girta Putra Yoga menyatakan, banderol minyak tetap memiliki kesempatan menanjak dalam durasi singkat seiring bertambahnya ancaman kendala distribusi akibat kondisi geopolitik di Timur Tengah. 

“Jika dilihat dari proyeksi jangka pendek, potensi bullish harga minyak masih cukup kuat ditopang oleh supply-risk rally dari situasi di Timur Tengah,” kata Girta, Rabu (19/8/2026). 

Menurut pengamatannya, pengaruh tersebut utamanya muncul dari keraguan kelanjutan perundingan Amerika Serikat dan Iran sesudah usainya masa gencatan sementara selama 60 hari pada 17 Agustus 2026. 

Jalan buntu perundingan itu pun menambah kecemasan terhadap kelancaran rute pelayaran regional, utamanya Selat Hormuz serta Selat Bab el-Mandeb. Gangguan pada dua rute tersebut berpeluang memengaruhi suplai minyak dunia. Akan tetapi, orientasi nilai bisa berbeda manakala perselisihan Iran-AS mencapai solusi. 

Perjanjian perdamaian yang menyudahi perselisihan berpeluang memulihkan volume pengiriman serta memangkas ancaman supply shock yang selama ini menyangga harga minyak. 

“Namun, secara jangka panjang, harga berpotensi bearish di akhir 2026 apabila tercapai kesepakatan damai yang mengakhiri konflik Iran-AS dan sekaligus membuat arus pasokan kembali pulih,” ujar Girta.

Berdasarkan asumsi itu, Girta mengestimasi nilai WTI ada di rentang US$ 70–US$ 85 per barel sampai penghujung 2026. Sementara itu, nilai Brent diprediksi berada pada kisaran US$ 80–US$ 95 per barel. Girta menambahkan, orientasi harga minyak sampai pengujung tahun pun bakal dipengaruhi oleh ketetapan produksi OPEC. 

Transformasi volume produksi perkumpulan tersebut bisa memengaruhi stabilitas distribusi dan memastikan seberapa cepat market minyak kembali menuju keadaan yang kian renggang. 

Dari sisi kebutuhan, situasi ekonomi negara pembeli utama seperti China dan India pun perlu dicermati. Kemerosotan ekonomi maupun kebutuhan energi dari dua negara tersebut bisa memberikan beban tambahan terhadap harga minyak. 

Dengan demikian, gambaran minyak sampai penghujung 2026 bakal sangat bertumpu pada keberlangsungan ancaman distribusi di Timur Tengah. 

Jika gejolak geopolitik menetap, harga masih mempunyai kesempatan memperoleh sokongan dalam durasi pendek. Namun, penyelesaian perselisihan serta normalisasi volume pengiriman bisa menjadi pemicu yang membalikkan tren harga menjadi bearish mendekati pengujung tahun.

Terkini