Tiga Tantangan Perbankan Syariah Diungkap Oleh CIMB Niaga Syariah Hari Ini

Rabu, 19 Agustus 2026 | 06:43:31 WIB
Direktur Syariah CIMB Niaga, Pandji P. Djajanegara. (Foto: NET)

JAKARTA - Sektor perbankan syariah masih menjumpai berbagai kendala guna menggenjot literasi serta inklusi keuangan berbasis syariah. Merujuk pada temuan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan syariah berada di angka 43,07%, mengalami penurunan dari posisi 43,42% pada tahun 2025. 

Di sisi lain, indeks inklusi keuangan syariah turut merosot menjadi 13,24% dari sebelumnya 13,41%.

Direktur Syariah CIMB Niaga, Pandji P. Djajanegara menuturkan bahwa hambatan perbankan syariah bukan sekadar mengenalkan komoditas kepada khalayak, melainkan pula menjadikannya kian gampang dicerna serta selaras dengan keperluan harian. 

“Bagaimana mendorong masyarakat untuk memahami manfaatnya dan menggunakannya dalam kebutuhan finansial sehari-hari,” ujar Pandji, Jumat (14/8/2026).

Berdasarkan keterangan Pandji, terdapat tiga kendala yang senantiasa dijumpai. Pertama, terminologi serta sebutan komoditas syariah masih asing di telinga khalayak ramai. 

Masyarakat jauh lebih terbiasa mendengar istilah kredit, deposito, ataupun pinjaman jika dibandingkan dengan ragam akad seperti murabahah, mudharabah, musyarakah, ijarah, dan wakalah.

Kedua, masih melekat pandangan bahwa komoditas syariah jauh lebih mahal serta kurang fleksibel manakala dikomparasikan dengan komoditas konvensional. 

“Padahal, saat ini pricing dan fitur produk syariah semakin kompetitif dan terus disesuaikan dengan kebutuhan nasabah,” katanya.

Ketiga, sebagian kalangan masyarakat masih memandang sektor perbankan syariah semata-mata dari aspek keagamaan belaka. Menurut pandangan Pandji, nilai yang disuguhkan jauh lebih luas meliputi transparansi akad, asas kemitraan, serta transaksi yang berpijak pada aktivitas ekonomi riil.

Sementara itu, pihak CIMB Niaga Syariah membukukan laba bersih senilai Rp 679,25 miliar sepanjang semester I 2026. Perolehan pendapatan pasca distribusi bagi hasil mengalami peningkatan sebesar 10,03% secara tahunan hingga menyentuh angka Rp 1,03 triliun. 

Keseluruhan himpunan dana turut mencatatkan pertumbuhan sejumlah 5,78% menjadi Rp 50,94 triliun, sementara pos dana simpanan wadiah mendaki hingga 26,21% ke kisaran Rp 13,04 triliun.

Pandji mengutarakan bahwasanya menjelang penghujung tahun 2026, pihak CIMB Niaga Syariah bakal memantapkan penguatan pada sektor dana murah serta dana transaksional. Penyaluran pembiayaan pun bakal difokuskan secara selektif kepada lini konsumer, ritel, serta UMKM yang mempunyai prospek ekspansi cerah.

Terkini