BI Rate Diproyeksi Tetap 5,75% pada Agustus 2026, Ini Alasannya

Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:41:32 WIB
Karyawan berada di dekat logo Bank Indonesia di Jakarta [FOTO: NET].

JAKARTA - Para ekonom memproyeksikan Bank Indonesia (BI) bakal kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada posisi 5,75% dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Rabu (19/8/2026).

Kepala Ekonom PT Bank Danamon Tbk. (BDMN) Irman Faiz menganggap belum ada kebutuhan mendesak bagi BI untuk kembali menaikkan suku bunga acuan, terlebih sejumlah indikator moneter menunjukkan perbaikan dalam sebulan terakhir.

"Inflasi Juli turun menjadi 2,88% secara tahunan, sementara pertumbuhan ekonomi mulai termoderasi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya," jelasnya, Selasa (18/8/2026).

Menurut Irman, sepanjang tekanan terhadap rupiah masih dapat diredam lewat bauran intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), Surat Berharga Negara (SBN), serta instrumen moneter lainnya, BI diyakini lebih memilih untuk menahan suku bunga acuannya.

Meskipun demikian, tidak berarti ruang bagi pengetatan moneter sudah sepenuhnya tertutup. Irman meyakini fokus utama bank sentral saat ini tetap pada upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ia mengingatkan bahwa beragam risiko dari luar masih membayangi, mulai dari tingginya suku bunga global, arah kebijakan The Fed yang belum sepenuhnya membuka ruang bagi negara berkembang (emerging markets) untuk beralih ke kebijakan akomodatif, hingga eskalasi ketegangan geopolitik serta fluktuasi harga minyak mentah.

Oleh karena itu, Irman menyimpulkan bahwa BI akan menahan suku bunga pada RDG Agustus ini sembari memberikan sinyal pengetatan kebijakan moneter ke depan demi menjaga stabilitas rupiah.

"Kami masih mempertahankan pandangan bahwa BI Rate berpotensi naik menuju 6,25% pada akhir 2026 apabila tekanan terhadap rupiah kembali persisten," jelas Irman.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual yang memproyeksikan BI akan kembali menahan suku bunga acuan pada RDG edisi Agustus 2026. Situasi pasar keuangan global yang berangsur kondusif menjadi salah satu faktor pendorong proyeksi tersebut.

David mencermati hadirnya sentimen risk-on dari para investor yang kembali menempatkan dana mereka di negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Kondisi market relatif kondusif di mana investor kembali risk-on ke emerging market, yang ditandai dengan yield [imbal hasil obligasi] turun dan rupiah menguat," ungkap David kepada Bisnis, Selasa (18/8/2026).

Lebih lanjut, David menerangkan bahwa masuknya kembali arus modal asing tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh rilis data ketenagakerjaan dan tingkat inflasi di Amerika Serikat yang memperlihatkan tren pelemahan. Pada saat bersamaan, data sektor riil di dalam negeri turut mengindikasikan adanya kelesuan.

Terkini