Prabowo: PT DSI temukan potensi tambahan pendapatan 5 miliar dolar AS

Jumat, 14 Agustus 2026 | 21:26:01 WIB
Kepala Negara Prabowo Subianto. (Foto: NET)

JAKARTA - Kepala Negara Prabowo Subianto membeberkan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) sukses mendapati potensi tambahan pemasukan negara hingga 5 miliar dolar AS dari proses pengawasan serta pemantauan terhadap kegiatan pengapalan komoditas esensial ke mancanegara.

Di hadapan 600 lebih perwakilan rakyat yang berkumpul di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen RI, Jakarta, Jumat, Pemimpin Negara mengutarakan dalam tempo 2 bulan 13 hari sejak diresmikan pada bulan Mei 2026, PT DSI sudah mengawasi lebih dari 6.000 aktivitas pengapalan tiga komoditas esensial, yakni batu bara, kelapa sawit, serta ferro alloy.

"DSI telah menemukan potensi tambahan 5 miliar dolar AS hanya dari perbedaan dan penyesuaian harga. Saudara-saudara sekalian, dari pembayaran devisa hasil ekspor, bayangkan kalau dalam waktu yang akan datang, semua komoditas ekspor kami akan dimonitor dan dikelola oleh PT DSI, berapa peningkatan, hasil yang akan masuk ke negara," kata Prabowo saat menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangkaian acara Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Gedung Nusantara, Jumat (14/8/2026).

Karenanya, Kepala Negara meneruskan PT DSI bakal memperlebar jangkauan pemantauannya hingga ke 50 pelabuhan di 25 provinsi. Selanjutnya, PT DSI pun bakal memperlebar jangkauan pemantauannya tidak terbatas cuma pada tiga komoditas esensial, melainkan juga komoditas andalan lain.

"PT DSI akan mengelola semua komoditas strategis kami, tidak hanya tiga. Kami tidak ingin lagi bangsa Indonesia dicurangi, kekayaan Indonesia tidak boleh memperkaya segelintir orang dan meninggalkan rakyat kami hidup susah. Ini bukan saja tidak adil, ini bukan sikap negara yang pandai. Barang kami, milik kami, orang lain yang tentukan harganya," kata Presiden.

Berdasarkan keterangan Kepala Negara, praktik-praktik manipulasi yang dahulu kerap timbul dalam transaksi pengapalan komoditas-komoditas esensial itu telah mencederai prinsip-prinsip ekonomi, dan mencederai prinsip-prinsip pasar.

Pada momen serupa, Kepala Negara memberikan ilustrasi praktik manipulasi under-invoicing yang muncul pada pengapalan kelapa sawit.

"Sebelumnya, minyak sawit mentah, sawit Indonesia dijual di pelabuhan Indonesia, dijual sekitar Rp15.000 per kilogram, sementara harga di bursa Rotterdam, Belanda, harganya Rp27.000 per kilogram. Padahal di Belanda satu hektare pun tidak ada kebun kelapa sawit. Artinya, sesungguhnya kami hilang hampir 50 persen nilai komoditas kami," katanya.

Terkini